Mengaku Belum Nonton Sexy Killers, Sandiaga Uno: Bukan Film Seks Kan?

Salah satu cuplikan gambar dari film Sexy Killers produksi Watchdoc.
16 April 2019 22:30 WIB Adib Muttaqin Asfar, Suara.com Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA -- Sexy Killers, film dokumenter produksi Watchdoc, kian viral sejak diunggah melalui platform Youtube. Sejumlah nama politikus disebut dalam film yang mengisahkan sisi hitam rantai bisnis pertambangan batu bara hingga proyek pembangkit listrik tenaga uap (PLTU) yang tengah digalakkan pemerintah itu.

Di antara nama-nama yang disinggung dalam film itu adalah Sandiaga Uno sebagai salah satu pemilik saham PT Saratoga Investama Sedaya Tbk (SRTG). Sebagai catatan, Saratoga di antaranya berinvestasi di PT Adaro Energy, perusahaan tambang batu bara dan PLTU.

Film itu juga menyinggung nama-nama lain, seperti PT Toba Bara Sejahtera Tbk (TOBA) milik Luhut Pandjaitan. Yang menarik, film ini juga memuat cuplikan debat Pilpres 2019 antara Joko Widodo dan Prabowo Subianto beberapa waktu lalu saat keduanya mendapatkan pertanyaan tentang lubang-lubang di lahan bekas tambang.

Saat diminta tanggapan mengenai film dokumenter itu, Sandi mengaku belum menonton film yang disutradarai Dandhy Laksono tersebut. "Saya belum nonton terus terang. Saya nonton dulu," kata Sandiaga di Masjid Sunda Kelapa, Jakarta Pusat, Selasa (16/4/2019), dilansir Suara.com.

Meski dirinya tidak mengetahui soal film tersebut, Sandiaga tetap akan menyaksikan film tersebut jika ada waktu luang. Untuk meyakinkan diri, Sandiaga sempat menanyakan kalau film tersebut bukanlah film bernuansa seks.

"Itu bukan film tentang seks kan? Sexy Killers ya. Nanti saya nonton," pungkasnya.

Meski menceritakan sisi hitam bisnis tambang, Sexy Killer dituding menggiring opini publik untuk menjadi golongan putih (golput) dalam Pemilihan Presiden (Pilpres) 2019. Tuduhan itu mencuat lantaran film dokumenter tersebut membeberkan nama-nama pemegang saham dari perusahaan-perusahaan tambang dan perusahaan energi yang menggarap proyek pembangkit listrik.

Meski begitu, produser film Sexy Killer Didit Haryo Wicaksono menampik tuduhan tersebut. Sebaliknya, menurut penggiat lingkungan dari Greenpeace Indonesia itu, film Sexy Killer mengajak masyarakat untuk menjadi pemilih cerdas.

"Jadi kalau respons semacam, film ini mendorong untuk golput. Enggak benar sama sekali. Di film ini sama sekali kita tidak mengajak publik untuk tidak memilih, tapi kita mengajak publik untuk lebih cerdas dalam memilih. Keputusan tetap ada di tangan masyarakat," kata Haryo kepada Suara.com, Senin (15/4/2019).