Kampus di Tengah Agenda Kota

Halim H.D. - Istimewa
15 April 2019 10:00 WIB Halim H.D. Kolom Share :

Gagasan ini dipublikasikan Harian Solopos edisi Kamis (11/4/2019). Esai ini karya Halim H.D., networker kebudayaan. Alamat e-mail penulis adalah halimhade@gmail.com.

Solopos.com, SOLO -- Pemilihan rektor Universitas Sebelas Maret (UNS) baru saja berlalu seperti yang diberitakan Harian Solopos edisi 27 Maret 2019. Guru besar Fakultas Hukum UNS, Jamal Wihowo, terpilih menggantikan Ravik Kasidi yang telah menyelesaikan dua periode kepemimpinan di kampus UNS.

Ada beberapa hal yang perlu dicatat. Pemilihan rektor yang dihasilkan dari proses musyawarah harus kita catat sebagai wujud kematangan di dalam proses pemilihan rektor yang biasanya gemuruh oleh berbagai isu, gosip, intrik, dan secara visual ruang publik kampus dipenuhi oleh banner, spanduk, dan selebaran.

Di beberapa kampus yang saya saksikan pada beberapa kunjungan di beberapa daerah di Jawa dan luar Jawa, konflik pendukung calon rektor tak jarang terjadi, akibat dperdebatan masing-masing pendukung yang merasa benar sendiri. Preseden di UNS kali ini membuktikan soliditas dan sekaligus solidaritas menjaga citra kampus UNS yang dalam beberapa tahun belakangan disorot akibat ulah eks mahasiswa yang dianggap sebagai organizer teroris yang berpangkalan di Timur Tengah.

Dalam 10 tahun terakhir ini terasa peningkatan peran UNS yang semula secara sinis dalam guyonan dan obrolan dianggap sebagai kampus ndesa, sebagaimana Universitas Gadjah Mada (UGM) pada 1960-1970 di antara persaingan dengan Universitas Indonesia (Jakarta) serta Institut Teknologi Bandung dan Universitas Padjadjaran (Bandung). Kini UNS memasuki peran yang lebih luas.

Munculnya Wahyu Susilo, lulusan jurusan Jurusan Sejarah Fakultas Sastra dan Seni Rupa (kini Fakultas Ilmu Budaya) UNS, yang kini berperan sebagai konseptor dan organizer dalam urusan tenaga kerja Indonesia (TKI) melalui Migrant Care yang menangani pemberdayaan dan penyelamatan tenaga kerja dari jeratan agensi lokal dan internasional adalah contoh peran yang lebih luas itu.

Dari jurusan itu pula muncul Eko Sulistyo sebagai pendamping Presiden Joko Widodo di bidang komunikasi politik dan Restu Gunawan sebagai Direktur Kesenian. Ketiganya adalah aktivis UNS angkatan 1986-1987 yang ikut membentangan jaringan aktivis mahasiswa penentang rezim Orde Baru.     Catatan khusus tentang figure-figur demikian ini bukanlah sesuatu yang kecil dan lantas kita anggap remeh.

Kiprah Alumni

Kemunculan seseorang dalam peran yang begitu luas tentu berkaitan dengan kampus sebagai lahan pembenihan yang mampu memberikan bekal kepada mahasiswa untuk memasuki ruang kehidupan yang lebih luas dan sekaligus bekal bahwa kampus sebagai lahan pembenihan memberikan andil kepada mahasiswa untuk mampu menangkap tanda tanda zaman seiring dengan  perubahan pada setiap saat.

Dalam konteks itulah posisi figur dengan kapasitasnya ikut membangun citra tentang kampus almamater sebagai lahan pembenihan. Dalam ungkapan populer, alumni bisa menjadi tenaga penjual dan sekaligus iklan.

Berkaitan dengan posisi kampus yang secara ideal dalam gambaran sebagai lahan pembenihan dan sumber daya manusia kreatif itulah tantangan kampus kian membesar sehubungan dengan perubahan zaman seiring perubahan sosial yang terjadi di lingkungan sekitarnya.

Kita menyaksikan secara kasat mata tapi juga merasakan bagaimana perubahan sosial terjadi dengan deras akibat penemuan teknologi yang sekaligus juga mengubah gaya hidup, life style, dan pola konsumsi. Ledakan kebutuhan kehidupan sehari-hari akibat pertumbuhan ekonomi membawa konsekuensi logis perkembangan perdagangan untuk memenuhi pola konsumsi masyarakat.

Dalam kepesatan perkembangan dunia perdagangan dengan dukungan industri inilah kita rasakan dampak bukan hanya masalah pola konsumsi yang kita sebut munculnya praktik budaya konsumerisme yang berakibat lanjut pada sikap kontraproduktif, tapi juga dampak lain dari berbagai bentuk disain kemasan pembungkus dengan material plastik.

Berdasarkan kondisi itulah Harian Solopos edisi 5 Maret 2019 melaporkan ada satu juta tas plastik kresek beredar di Solo setiap hari. Laporan satu halaman penuh itu sebagai isyarat sekaligus tanda-tanda krisis ekologi perkotaan (urban) yang telah mengalami titik yang sangat memprihatinkan.

Sesungguhnya jika kita bicara tentang krisis ekologi perkotaan, berarti juga terjadi krisis di wilayah perkampungan sebagai ruang pendukung kehidupan. Dengan koteks permasalah ekologi perkotaan itulah kita berharap kepada kampus sebagai mercusuar, menara isyarat, yang memberikan tanda-tanda zaman kepada warga dan masyarakat perkotaan tentang komitmen sosial dan pentingnya solidaritas untuk menumbuhkan kesadaran kepada krisis ekologi yang akan berdampak kepada generasi yang akan datang.

Riset tentang Lingkungan Hidup

Sejauh manakah dampak itu terjadi pada kita sekarang dan generasi yang akan datang? Pertanyaan ini sangat bergantung kepada apa yang akan dikerjakan oleh kampus melalui riset-riset tentang lingkungan hidup dalam berbagai seginya, khususnya dampak plastik di lingkungan kita.

Berkaitan dengan hal inilah betapa kita berharap kepada kampus di Soloraya, dan khususnya UNS, yang sejak dipimpin Rektor Ravik Kasidi mencanangkan green campus. Program green campus itulah yang telah mengangkat UNS masuk empat besar perguruan tinggi terbaik tingkat nasional dalam pengelolaan ekologi kampus.

Secara kasat mata kita boleh bangga jika kita mengelilingi kampus UNS yang rindang dan terasa sejuk serta tersedia ruang-ruang terbuka. Berbeda dengan berbagai kampus lainnya yang berjubel-jubel, terasa kumuh, dan yang paling aneh kendaraan bermotor lebih didahulukan daripada ruang terbuka untuk aktivitas dan sebagai penunjang aktivitas ekologis.

Green campus itulah yang juga melahirkan gagasan dan upaya praktik dengan terselenggaranya green laboratory yang berpusat di Fakultas Seni Rupa dan Desain (FSRD) yang pernah pada dua tahun yang lalu melontarkan gagasan green movement dalam berbagai segi.

Gagasan dan beberapa langkah untuk merumuskan permasalahan serta solusi sedikit banyak sudah memiliki pijakan. Kini yang kita harapkan adalah kelanjutan agenda yang juga menjadi tanggung jawab dan komitmen UNS dalam mengembangkan praktik dari hasil riset tentang ekologi perkotaan.

Secara praktis kita berharap lembaga pengabdian dan penelitian kepada masyarakat, lembaga penelitian lingkungan hidup, serta FSRD UNS mempunyai kerangka kolaborasi yang intensif dalam perluasan gagasan dan praktik.

Tentu saja pelibatan mahasiswa sangat penting dalam konteks disiplin ilmu dan sebagai pendukung aktivis ekologi ke lingkungan sosial di luar kampus. Kini saatnya mahasiswa lebih berpikir visioner, jauh ke depan dalam gagasan, konsep, dan praktik tentang politik ekologi sebagai politik etis dan komitmen bukan hanya bagi dirinya, tapi juga generasi berikutnya.

Kampus sebagai kaboratorium dan lahan pembenihan gagasan dan kader ekologis kota kita butuhkan secara konkret dalam praktik sosial agar kampus sungguh-sungguh menjadi mercusuar pemikiran, pemberi isyarat tanda-tanda zaman, dan sekaligus pengamalan ilmu sebagai upaya menjadikan UNS pelopor kampus ekologis di Soloraya dan model bagi kampus di Nusantara.