Tanda Tanya Kasus Surat Suara Tercoblos Malaysia, Ini Analisis Pengamat Intelijen

Petugas logistik KPU Pusat memeriksa surat pemilihan Presiden dan Wakil Presiden 2019 untuk pemilih luar negeri di gudang logistik KPU di Benda, Tangerang, Banten, Kamis (7/2 - 2019). (Antara/Muhammad Iqbal)
14 April 2019 21:00 WIB MG Noviarizal Fernandez Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA -- Beredarnya video pencoblosan surat suara yang diduga terjadi di Selangor, Malaysia, menimbulkan tanda tanya besar. Fenomena ini kemudian dianalisis oleh pengamat intelijen yang juga akademisi Universitas Indonesia, Stanislaus Riyanta.

Sebelumnya, beredar rekaman video yang menggambarkan penggrebekan di sebuah ruko di Bangi Selangor. Di dalam ruko tersebut ditemukan kantong-kantong yang berisi surat suara untuk pilpres dan pileg yang telah tercoblos. Bahkan dalam video tersebut nampak jelas dengan santainya seseorang yang sedang mencoblos surat suara.

“Dari video tersebut nampak fakta yang menonjol yang bisa menjadi kunci dari pengungkapan kasus pencoblosan surat suara di Selangor tersebut. Pertama adalah surat suara tersebut ditemukan di tempat yang bukan tempat penyimpanan resmi. Dan kedua, penggrebekan dilakukan oleh simpatisan dari pendukung kubu tertentu, dan sengaja diekspose dengan sangat tenang. Bukan seperti penggrebekan suatu kasus yang normalnya pelaku akan segera menghentikan aktivitas atau bahkan akan berupaya menghilangkan jejak,” ujar Stanislaus Riyanta, Minggu (14/4/2019).

Kedua fakta ini, menurut Stanislaus Riyanta, sangat penting. Menurutnya, fakta ini sudah sangat sulit diterima jika hal tersebut bukan suatu pengkondisian dengan tujuan untuk menyudutkan pihak tertentu.

Surat suara yang ditemukan tersebut pun--jika benar--kemungkinan besar berasal dari model pemungutan suara dengan kotak pos yang tidak sampai ke tujuan dan direkayasa.

“Untuk mengungkap kasus ini tentu akan dimulai dari mengecek apakah surat suara tersebut asli. Jika tidak asli, maka tinggal ditangkap saja saksi-saksi yang ada di TKP termasuk penggrebek kemudian dimintai keterangan. Yang pasti akan menghasilkan suatu petunjuk terkait siapa yang menyiapkan, membawa, dan memerintah untuk mencoblos surat suara tersebut,” tutur Stanislaus Riyanta.

Jika surat suara tersebut asli, maka lanjutnya, akan dilakukan pelacakan model surat suara tersebut dan kurir yang membawa. Pelacakan akan menunjukkan siapa pembawa surat suara tersebut. Data lain yang bisa menjadi petunjuk adalah siapa pemilik ruko yang dipakai untuk menyimpan dan mencoblos surat suara tersebut.

Sedangkan dari model penggrebekan, temuan-temuan di lapangan, dan fakta yang muncul, kecenderungan peristiwa tersebut menyudutkan pihak tertentu. Menurutnya, seandainya benar dilakukan oleh pihak-pihak yang punya kepentingan untuk menambah jumlah suara, praktik itu sangat ceroboh dan tidak masuk akal. Hal ini mengingat jumlah surat suara yang ditemukan sangat besar dan begitu mudahnya digrebek dan didokumentasikan.

“Peristiwa tersebut dapat dinilai suatu upaya cipta kondisi untuk mendelegitimasi pemilu dengan seolah-olah menunjukkan bahwa pemilik suara yang dikondisikan melakukan kecurangan sehingga pemilu tidak sah. Tentu saja jika analisis ini benar maka pelaku dari operasi cipta kondisi ini adalah pihak yang berpotensi kalah dan lawan politik dari pemilik surat suara yang telah tercoblos,” urai Stanislaus Riyanta.

Pemilihan operasi cipta kondisi di Selangor, Malaysia, menurutnya, diprediksi karena pertimbangan memanfaatkan celah-celah kerawanan lemahnya pengawasan model pemungutan suara dengan model kotak pos.

Selain itu diprediksi pelaku mempunyai akses ke jasa ekspedisi pengiriman surat suara tersebut. Selain itu, lokasi di Selangor, Malaysia, alias luar negeri dipilih untuk menarik perhatian internasional dengan menciptakan framing bahwa telah terjadi kecurangan pada Pemilu 2019 di Indonesia.

“Kesimpulan dari fakta dan analisis di atas adalah kasus pencoblosan surat suara di Selangor, Malaysia, pada surat suara pilpres dan caleg adalah suatu cipta kondisi untuk delegitimasi pemilu dengan dugaan kuat pelaku adalah lawan politik dari pemilik suara yang telah tercoblos,” tegas Stanislaus Riyanta.

Sumber : Bisnis/JIBI