Sejarah Panjang Roti Babah Setoe

Pratika Rizki Dewi - Dokumen Solopos
13 April 2019 10:30 WIB Pratika Rizki Dewi Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (9/4/2019). Esai ini karya Pratika Rizki Dewi, mahasiswa Ilmu Sejarah di Fakultas Ilmu Budaya Universitas Gadjah Mada Yogyakarta.

Solopos.com, SOLO -- Kajian sejarah di Indonesia selama ini masih terfokus pada peristiwa-peristiwa besar. Apabila mendengar kata sejarah, kerap yang terpikirkan ialah perang, militer, darah, pengorbanan rakyat, tanam paksa, penderitaan, kemiskinan, hingga komunis.

Sebenarnya di luar itu masih ada kajian sejarah yang menarik, unik, dan belum banyak dibahas. Salah satunya adalah kajian sejarah kuliner (gastronomi). Sejarah kuliner dapat dibagi ke dalam beberapa subpembahasan, mulai dari soto, bakso, pecel, satai, mi, gudangan, hingga roti. 

Berbicara mengenai roti di Kota Solo tentu ada beberapa brand legendaris yang lekat di ingatan warga Solo. Sebut saja roti Babah Setoe, Ganep, juga Orion. Fadly Rahman (2011: 40) dalam buku Rijstafel: Budaya Kuliner di Indonesia Masa Kolonial 1870-1942 menyebut roti hadir sebagai menu makan malam dari kebanyakan keluarga Eropa yang tinggal di Indonesia (pada waktu itu bernama Hindia Belanda).

Tiga brand legendaris yang disebut di atas memiliki pelanggan dari kalangan yang berbeda-beda, misalnya roti Babah Setoe dengan pelanggan setia keluarga Praja Mangkunegaran. Perusahaan roti yang berdiri sejak 1882 itu melayani Praja Mangkunegaran sejak bertakhtanya Mangkunagoro V (1881-1896).

Hal tersebut dibuktikan dengan piagam dari Mangkunagoro VIII (bertakhta 1944-1987) yang tergantung di dinding Toko Roti Babah Setoe, tepatnya di belakang meja kasir. Ada kisah yang jarang diketahui warga Kota Solo dan sekitarnya perihal asal mula nama Babah Setoe.

Kisah ini dituturkan kepada saya oleh Parno, 55, karyawan yang mengabdi sejak 1985 atau selama 34 tahun. Dia menjelaskan perusahaan roti ini milik warga Tionghoa bernama Siem Siep Tiang. Salah satu pelanggan tetap adalah keluarga Pura Mangkunegaran dan sang pemilik toko roti ini selalu mengambil pembayaran roti di Pura Mangkunegaran pada Sabtu.

Elite

Alhasil, roti yang belum bernama itu dinamai oleh Mangkunagoro V sebagai Babah Setoe. Babah merujuk pada pemilik yang seorang Tionghoa, sedangkan Setoe merujuk pada Sabtu, hari pengambilan pembayaran. Pada tahun-tahun selanjutnya, roti Babah Setoe semakin dikenal di berbagai penjuru Kota Solo dan sekitaranya.

Surat kabar De Locomotief pada 21 Agustus 1897 menyebut ada pesta pernikahan antara putri Raden Mas Setroprawiro dengan putra Raden Mas Kartodikromo di Kauman. Pesta pernikahan itu menurut berita sangat mewah dan menghidangkan roti Babah Setoe kepada seluruh tamu yang hadir.

Pada konteks berita tersebut dapat diperoleh kesimpulan roti Babah Setoe merupakan hidangan yang identik dengan orang-orang kaya, terhormat, dan berprestise tinggi. Selanjutnya, pada 25-29 Juni 1960 saat diadakan kongres Partai Nasional Indonesia (PNI) di Solo, roti Babah Setoe juga hadir menyemarakkan.

Dalam buku panduan acara tersebut terdapat satu halaman penuh yang memuat iklan roti Babah Setoe, tepatnya roti kecik. Jika dihitung dari 1882, sekarang pada 2019 roti Babah Setoe telah berumur 137 tahun. Pada umur yang lebih dari satu abad itu roti Babah Setoe tetap mempertahankan keaslian.

Jenis-jenis rotinya tidak jauh berbeda dengan yang dijual pada zaman dahulu. Ada roti tawar kasino, roti tawar irisan, roti krumpul, roti gambang, roti santan, roti smeer, hingga roti ontbijkoek. Parno menjelaskan hanya ada dua perubahan pada roti Babah Setoe, yakni lokasi toko dan bungkus roti.

Berjalan dan Bertahan

Pada awal berdiri, Toko Roti Babah Setoe berlokasi di sebelah utara Pasar Gede. Sejak 1983 toko roti ini pindah dari kawasan Pasar Gede ke Jl. Adisucipto. Bungkus roti juga berubah. Dahulu menggunakan kertas sebagai pembungkus, sekarang mengikuti perkembangan zaman menggunakan plastik bersablon.

Roti Babah Setoe telah mengalami berbagai zaman, mulai zaman kolonial, pendudukan Jepang, revolusi, Orde Lama, Orde Baru, era reformasi, hingga era pascareformasi. Salah satu zaman yang menarik untuk ditelusuri ialah era reformasi. Era reformasi selama ini selalu dipandang dari segi politik, sampai melupakan toko roti yang juga ada didalamnya.

M.C. Ricklefs dalam buku Sejarah Indonesia Modern 1200-2004 menyebut bahwa era reformasi, terutama 13-15 Mei 1998, identik dengan pembakaran, penjarahan, dan kerusuhan massal. Semua itu menyasar orang-orang Tionghoa (Ricklefs, 2005: 652).

Sebagai salah satu toko milik warga Tionghoa, Toko Roti Babah Setoe kala itu ditutup selama empat hari. Parno menceritakan pada waktu itu suasananya mencekam dan dari dalam toko ia melihat banyak orang-orang ”sangar” yang berkeliaran di luar.

Setelah suasana yang mencekam tersebut berakhir, Toko Roti Babah Setoe kembali buka seperti biasanya. Perubahan tak terelakkan terjadi disana. Sama seperti bisnis yang lainnya, roti Babah Setoe mengalami penurunan omzet dari tahun ke tahun. Penurunan omzet yang dibarengi dengan semakin banyaknya saingan bisnis roti di Kota Solo.

Lidah warga Solo mengalami transformasi, terutama dalam merespons makanan-makanan baru yang asalnya dari luar Solo dan dari luar Indonesia. Meskipun demikian, roti Babah Setoe tetap bertahan.

Pelanggan setiap hari tetap berdatangan, terutama para pelanggan yang turun-temurun telah merasakan nikmatnya roti Babah Setoe. ”Walaupun pelan-pelan ya tetap berjalan, berjalan sambil bertahan,” begitu kata Parno kepada saya.