Prabowo Mau Naikkan Tax Ratio 16%, Jokowi: Nanti Shock Ekonomi, Pak!

Capres 02 Prabowo Subianto menyapa para wartawan setibanya di lokasi debat capres putaran keempat di Hotel Sultan, Jakarta, Sabtu (13/4 - 2019). (Antara/Rivan Awal Lingga)
13 April 2019 21:40 WIB Adib Muttaqin Asfar Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA -- Debat pamungkas Pilpres 2019 di Hotel Sultan Jakarta, Sabtu (13/4/2019) malam, menyinggung isu keuangan dan investasi. Capres 02, Prabowo Subianto, mengkritik tax ratio atau rasio pajak Indonesia yang hanya berkisar 10%.

Prabowo mengaitkan rendahnya tax ratio Indonesia dengan isu kebocoran anggaran yang selalu dia sebutkan mencapai ribuan triliun rupiah tiap tahun itu. "KPK sendiri mengatakan seharusnya kita menerima Rp4000 triliun tiap tahun, tapi ternyata hanya Rp2000 triliun, berarti ada kebocoroan Rp2000 triliun. Saya selalu bilang Rp1.000 triliun, ternyata KPK bilang lebih," kata Prabowo.

Prabowo pun memamerkan tax ratio di era Orde Baru di bawah Soeharto yang menurutnya mencapai 16% pada 1997. Sebagai catatan, tahun tersebut merupakan tahun sebelum Indonesia jatuh dalam krisis keuangan 1998.

"Sekarang tinggal 10%, berarti kita kehilangan 6%. Malaysia dan Thailand sudah 19%, mereka melaksanakan program information technologi dan komputerisasi, transapran, sehingga mereka cepat naiknya. Kita contoh negara lain," katanya.

Keinginan Prabowo untuk meningkatkan tax ratio menjadi 16% itu kemudian disanggah oleh capres 01 Joko Widodo (Jokowi). Menurutnya, upaya menaikkan tax ratio secara drastis berisiko bagi ekonomi Indonesia.

"Kalau ingin meningkatkan tax ratio seperti Pak Prabowo katakan dari 10% menjadi 16%, kalau dalam setahun naiknya drastis artinya
ada 5% dari GDP kita, Rp750 triliun, akan jadi pajak. Itu menimbulkan shock ekonomi. Karena itu kita tingkatkan secara gradual memangun tax base sebanyak-banyaknya. Kita lakukan sejak tax amnesty. Kita dapat income Rp113 triliun. Kita ingin tax ratio kita naik, tapi perlahan," katanya.