Sandiaga: Surat Suara Tercoblos di Malaysia Cederai Demokrasi

Calon wakil presiden nomor urut 02 dalam Pilpres 2019 Sandiaga Uno mengajak pendukungnya berselawat saat menghadiri Halaqoh K2 Aswaja Kabupaten Temanggung di Pondok Pesantren Ridho Allah, Kauman, Kaloran, Kabupaten Temanggung, Jawa Tengah, Sabtu (6/4 - 2019). (Antara/Heru Suyitno)
12 April 2019 10:40 WIB Newswire Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA – Calon Wakil Presiden Sandiaga Uno mengatakan kasus surat suara tercoblos di Malaysia mencederai demokrasi Indonesia sehingga meminta aparat penegak hukum bertindak karena Pemilu akan berlangsung 17 April 2019.

"Sangat disayangkan dan kami memberikan catatan tersendiri, dan ini mencederai demokrasi kita, tentunya mempersilahkan para aparat segera bertindak," kata Sandiaga yang dijumpai di Rumah Kerja Sandiaga kawasan Pipa Reja Palembang, Jumat (12/4/2019), sebagaimana dilansir Antara.

Sandiaga Uno menyesalkan kejadian tersebut yang terjadi justru menjelang pencoblosan Pilpres 2019. Dalam video yang sudah viral di media sosial sejak Kamis (11/4/2019) terlihat terjadi penggerebekan di suatu lokasi di Malaysia yang memperlihatkan surat suara sudah dicoblos. Selain itu terdapat puluhan kantong hitam berukuran besar berisi surat suara di lokasi tersebut.

Sandiaga Uno yang mengatakan telah melihat video itu menilai surat suara itu bukan tercoblos tapi sengaja dicoblos oleh pihak yang hingga kini belum dijelaskan oleh penegak hukum.

Menurutnya, adanya video ini justru membangkitkan rasa ketidakpercayaan masyarakat terhadap proses demokrasi.

"Ayo sama-sama, kita punya 3-4 hari. Kita tuntaskan dan kita hukum seadil-adilnya. Harus dipastikan hukum ditegakkan seadil-adilnya," kata dia.
Sandiaga Uno mengharapkan penegakan hukum berlangsung adil yakni tidak hanya tajam saja ke oposisi tapi tumpul ke penguasa.

Penanganan kasus hukum ini harus cepat atau jangan sampai berlarut-larut karena Pilpres tinggal hitungan hari.

"Jika tidak, masyarakat tidak memiliki rasa percaya terhadap penyelenggaraan Pemilu dampaknya akan sangat negatif bagi proses demokrasi," ujar Sandiaga.