Survei Cyrus: Elektabilitas Jokowi-Maruf Turun Tipis, Ini Selisihnya

Capres nomor urut 01 Joko Widodo bersiap mengikuti debat capres 2019 putaran keempat d Jakarta, Sabtu (30 - 3). Keduanya akan beradu gagasan dan program dalam tema debat ke/4 Pilpres 2019, yaitu ideologi, pemerintahan, keamanan, serta hubungan internasional. (Bisnis/Nurul Hidayat)
12 April 2019 08:00 WIB Aziz Rahardyan Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA — Survei terbaru Cyrus Network per 2 April 2019 mengungkap bahwa elektabilitas pasangan calon nomor urut 01 Jokowi-Ma'ruf cenderung turun menjelang Pilpres 2019. Sebaliknya pasangan calon nomor urut 02 Prabowo-Sandiaga mengalami tren naik walaupun tipis.

Elektabilitas Jokowi-Ma'ruf sebelumnya sebesar 57,5 persen pada Januari, kini turun menjadi 56,4 persen pada Maret. Sedangkan Prabowo-Sandiaga naik dari 37,2 persen pada Januari, menjadi 38,1 persen pada Maret.

"Jadi selisih elektabilitas saat ini 18,3 persen," ungkap CEO Cyrus Network Hasan Nasbi kepada Bisnis/JIBI, Kamis (11/4/2019).

Menariknya, tren penopang elektabilitas kedua paslon justru seragam. Yaitu, tingkat popularitas sama-sama naik, namun tingkat kesukaan masyarakat sama-sama turun. Hasan menjelaskan bahwa hal ini lebih disebabkan tingkat kemantapan pemilih yang cenderung menguat.

"Yang sudah tetap dan tidak akan berubah lagi meningkat dari 77,5 persen menjadi 79 persen, sedangkan yang masih mungkin berubah, turun dari 15,1 persen menjadi 14,9 persen," tambahnya.

Dari basis suara pemilih petahana Jokowi-Ma'ruf, pemilih yang mantap telah mencapai angka 86 persen dibandingkan yang masih ragu 12,1 persen.

Sedangkan kemantapan yang memilih Prabowo-Sandiaga sebagai penantang lebih rendah, yaitu 79,3 persen berbanding 19,2 persen yang masih mungkin mengubah pilihan.

Menurut Hasan, Jokowi-Ma'ruf masih bisa bernafas lega walaupun elektabilitasnya sedikit turun saat Pilpres 2019 tinggal menghitung hari. Sebab mayoritas responden sebesar 23,5 persen masih memilih berdasarkan alasan kinerjanya bagus dan terbukti nyata.

Alasan tersebut mengalahkan alasan ganti presiden dan ingin perubahan yang hanya 13,3 persen, disusul alasan merakyat dan sederhana 11,8 persen, tegas dan berani 10 persen, serta suka dengan kandidat 6,8 persen. Sementara alasan lain berada di bawah kisaran 5 persen.

Sumber : Bisnis/JIBI