Yahudi Antivaksin Terkena Campak, Pemerintah New York Perintahkan Vaksinasi

ilustrasi pemberian vaksin. (Solopos/Dok)
11 April 2019 21:55 WIB Newswire Internasional Share :

Solopos.com, NEW YORK – Kelompok antivaksin ternyata berasal dari berbagai penganut agama. Di Islam, ada kelompok yang menuding vaksin mengandung babi dan curiga vaksin sebagai senjata biologis.

Di kalangan penganut Yahudi juga demikian. Bahkan di New York, masih banyak warga Yahudi yang enggan menggunakan vaksin.  Bahkan, kini New York diserang wabah campak.

Wali Kota New York, Amerika Serikat, Bill de Blasio, sampai mengumumkan darurat kesehatan masyarakat di Brooklyn pada Selasa (9/4/2019) waktu setempat. Dia meminta semua warga untuk divaksin campak, tak terkecuali terhadap warga Yahudi ultraortodoks.

Dilansir dari AFP, Rabu (10/4/2019), perintah itu ditujukan untuk semua orang yang tinggal atau bekerja di wilayah Williamsburg, Brooklyn barat laut. Di kawasan itu, beberapa warga menolak vaksin karena alasan agama meski kitab-kitab Yahudi maupun otoritas Yahudi setempat tidak ada yang menyarankan untuk menolak vaksinasi.

"Ini adalah saat untuk mengambil pendekatan secara ngotot," kata de Blasio dalam jumpa pers saat darurat vaksinasi diumumkan.

Di bawah aturan baru, seseorang yang belum mendapatkan vaksin campak, gondong, dan rubel (vaksin MMR) atau yang tidak punya bukti kekebalan terancam denda US$1.000.

Pemerintah Kota New York juga memperingatkan sekolah religius Yahudi dan program penitipan anak yang melayani komunitas Yahudi ortodoks terancam penalti. Lembaga-lembaga itu juga bisa kena tutup jika mereka tetap menerima murid-murid yang belum divaksin.

Seperti kebanyakan negara bagian AS, New York mensyaratkan serangkaian vaksinasi untuk anak usia sekolah. Namun, pemerintah juga memberikan kebebasan kepada orang-orang yang menolak vaksin atas dasar medis maupun religius.

Pusat Kontrol dan Pencegahan Penyakit (CDC) menyatakan ada 285 kasus campak ditemukan di New York sejak Oktober 2018. Tidak ada yang terbukti fatal, tetapi 21 pasien dirawat inap dan lima lainnya membutuhkan perawatan intensif.

“Saya mendesak semuanya, terutama mereka yang tinggal di area terdampak, untuk mendapatkan vaksin MMR untuk melindungi anak-anak, keluarga, dan komunitas mereka," kata de Blasio dalam pernyataannya.

Herminia Palacio, Deputi Bidang Kesehatan dan Pelayanan Masyarakat, menyatakan vaksinasi adalah langkah aman. Vaksinasi juga diperlukan, tak hanya untuk anak itu sendiri tapi juga untuk lingkungan sekitar si anak.

"Saat Anda membuat keputusan untuk tidak memvaksin anak Anda, tolong mengertilah bahwa Anda juga membuat keputusan untuk orang-orang di sekitar anak Anda," kata Palacio.

Walaupun campak secara resmi diumumkan telah dihilangkan dari AS pada 2000, total 465 kasus terkonfirmasi di 19 negara bagian dari 1 Januari hinggga 4 April, berdasarkan laporan CDC.

"Ini adalah kasus kedua dengan jumlah terbesar yang dilaporkan di AS sejak campak dihilangkan pada 2000," katanya.

Kebangkitan penyakit yang pernah sukses dibasmi ini dipengaruhi oleh tumbuhnya gerakan antivaksin di negara-negara kaya, yang diidentifikasi WHO sebagai ancaman utama kesehatan dunia.

Kebanyakan kasus di New York melibatkan individu yang belum divaksin atau menerima vaksin yang belum lengkap.

Rockland County di dekat New York baru-baru ini mendeklarasikan 30 hari darurat kesehatan masyarakat menyusul wabah campak yang menyerang 168 orang.

Mereka yang belum vaksin dilarang mendatangi tempat-tempat publik untuk mencegah penyebaran penyakit. Ratusan orang divaksin.

Mereka yang disebut anti-vax atau fenomena anti-vaxxer memiliki penganut di negara-negara Barat, terutama AS. Gerakan itu diperparah dengan informasi yang salah tentang vaksin yang beredar di media sosial.

Para penentang vaksin percaya klaim yang tidak berbasis pada medis bahwa suntikan vaksin bisa menyebabkan autisme dan efek negatif bagi kesehatan.

Para ahli menegaskan vaksin aman dan penting untuk melindungi masyarakat yang lebih besar dari penyakit yang beresiko infeksi tinggi, seperti campak, yang bisa menyebabkan diare parah, pneumonia dan hilangnya penglihatan dan bisa mematikan di beberapa kasus.

Sumber: Detik