Pelajaran Literasi di Korea Selatan

Nining Sholikhah - Dokumen Solopos
06 April 2019 02:00 WIB Nining Sholikhah Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (27/3/2019). Esai ini karya Nining Sholikhah, guru Kelompok Bermain Bocah Pintar di Jati, Jaten, Karanganyar dan peserta pelatihan guru PAUD di Korea Selatan. Alamat e-mail penulis adalah muktamar_78@yahoo.co.id.

Solopos.com, SOLO -- Maju dan mundurnya peradaban suatu bangsa ditandai maju atau mundurnya kebudayaan membaca dan perpustakaan. Baghdad di Irak mengalami kemunduran pesat ketika Perpustakaan Agung Baghdad yang menyimpan banyak sekali dokumen sejarah dan buku yang sangat berharga dalam berbagai bidang, mulai dari pengobatan sampai astronomi, dihancurkan oleh bangsa Mongolia pada 1258 M.

Orang-orang yang selamat melaporkan bahwa air Sungai Tigris menjadi hitam akibat tinta dari banyak sekali buku yang dibuang ke sungai itu (id.wikipedia.org). Kita bisa mencatat di semua negara maju di dunia memiliki perpustakaan yang sangat memadai. Sebutlah, Singapura sebagai negara yang relatif lebih muda daripada Indonesia.

Mereka mampu mengalahkan Indonesia di banyak bidang karena memiliki perpusatakaan yang tersebar hampir di seluruh negara. Korea Selatan juga tidak jauh berbeda dengan Singapura. Dalam kesempatan saya berkunjung ke negara ini, saya melihat fasilitas perpustakaan yang tidak hanya ada di tempat khusus.

Perpustakaan dengan layanan prima ada di wilayah-wilayah publik, seperti mal, stasiun kereta api, dan halte-halte bus. Perpustakaan tersebut rapi, bersih, dan banyak pengunjung meskipun berada di tempat umum. Perpustakaan di halte bus di Korea Selatansaya jumpai di Kota Yeoju. Lebih tepat disebut perpustakaan mini.

Di sana ada dua unit rak buku yang di desain bulat, berwarna kuning, dijajar, dan buku-bukunya ditata rapi. Buku yang dipajang di sana terdiri atas bacaan orang dewasa dan anak-anak.  Halte ini merupakan halte busway. Di halte tersebut terpasang jadwal kedatangan bus.

Para calon penumpang yang masih cukup lama menunggu kedatangan bus biasanya tertarik dan mengambil buku untuk dibaca. Setelah dibaca buku dikembalikan sendiri dengan rapi sehingga meskipun tidak ada penjaga perpustakaan mini tersebut tetap tertata rapi.

Perpustakaan di stasiun di Korea Selatan bisa dijumpai di Stasiun Chungmuro. Perpustakaan ini memiliki cukup banyak buku yang dipajang di rak-rak memanjang. Dilengkapi dengan komputer sebagai alat untuk mencari buku serta membaca buku digital. Kursi yang tersedia cukup banyak sehingg membuat nyaman pengunjung yang datang.

Pusat Perbelanjaan

Perpustakaan di pusat perbelanjaan di Korea Selatan salah satunya Starfield Library. Ini adalah perpustakaan di pusat perbelanjaan yang bernama COEX Mall. Berada di daerah Yeongdong-daero, Gangnam-gu, Seoul, Korea Selatan. Luas perpustakaan ini sekitar 2.800 meter persegi, memiliki rak buku raksasa yang menjulang ke atas dan menakjubkan yang pasti membuat tertarik para pengunjung.

Tinggi rak buku ini mencapai 13 meter. Ada banyak koleksi buku di perpustakaan ini, sekitar 50.000 buku dan majalah, baik berbahasa Korea maupun berbahasa Inggris. Pengunjung adalah warga Korea Selatan maupun wisatawan yang sedang berbelanja atau memang seengaja datang karena ingin membaca buku di perpustakaan ini. Ada banyak tempat duduk yang disiapkan di perpustakaan ini sehingga membuat nyaman para pengnjung yang datang.

Beberapa gambaran di atas adalah contoh perpustakaan di fasilitas umum di Korea Selatan. Masih banyak lagi perpustakaan di fasilitas umum yang belum tertulis di sini. Tidak mengherankan kemajuan Korea Selatan begitu pesat, terutama dalam hal minat membaca dan literasi.  Saat ini angka literasi Korea Selatan adalah 100%.

Bagaimana dengan minat membaca di Indonesia? Minat membaca di Indonesia masih berada di urutan bawah jika dibandingkan dengan negara-negara tetangga. John W. Miller dan Michael C. McKenna dalam buku World Literacy: How Countries Rank and Why It Matters yang diterbitkan Routledge (2016) menerangkan minat membaca warga Indonesia ada di urutan ke-60 dunia dari 61 negara yang diteliti.

Minat membaca penduduk Indonesia di bawah Thailand dan hanya setingkat di atas negara Bostwana. Situasi ini merupakan masalah serius yang harus segera dipecahkan bersama karena berhubungan dengan masa depan generasi muda Indonesia. Jika kita sebagai bangsa yang besar, yang berkeinginan mengejar ketertinggalan, investasi perpustakaan dan menggelorakan literasi adalah keharusan.

Apakah harus membaca? Ya, harus. Itulah, mengapa ayat Alquran yang kali pertama diterima Nabi Muhammad SAW adalah ”Iqra’”, “Bacalah!” Tentu turunnya ayat pertama ini bukan tanpa sebab, namun mengandung maksud bahwa umat Muhammad SAW harus memiliki kesadaran kritis.

Mari kita budayakan membaca. Membaca adalah sesuatu yang bisa dibentuk dengan pembiasaan atau dengan dibudayakan. Budaya membaca adalah keterampilan seseorang yang diperoleh setelah seseorang dilahirkan, bukan keterampilan bawaan. Oleh karena itu budaya membaca dapat dipupuk, dibina, dan dikembangkan. (Wikipedia, 2011).

Membangun Budaya Membaca

Semua orang dan semua pihak bisa berperan membangun budaya membaca ini. Orang tua dan keluarga memiliki peran sangat penting dalam membangun budaya membaca. Dalam pendidikan anak, orang tua adalah teladan utama. Dari orang tualah anak-anak belajar banyak hal dalam kehidupan, termasuk membaca.

Jika orang tua suka membaca, tentu anak-anak akan mencontoh dan suka membaca. Jika sejak kecil anak distimulasi dengan disediakan banyak buku di rumah, ada perpustakaan di rumah, anak akan terbiasa dan suka dengan buku. Untuk mengisi hari libur, kalau biasanya anak diajak jalan-jalan ke mal, mari mulai sekarang lebih banyak jalan-jalan dan belanja di toko buku, agar anak suka buku.

Keteladanan orang tua adalah mutlak, sangat berpengaruh pada kebiasaan anak, termasuk dalam membaca. Masyarakat bisa berpartisipasi dalam membudayakan membaca bagi lingkungan sekitar. Saat ini di Indonesia banyak taman bacaan yang diinisiasi oleh masyarakat. Ini adalah suatu terobosan menarik, semakin mendekatkan buku kepada masyarakat.

Yang masih diperlukan adalah bagaimana taman baca ini mampu bekerja sama dengan orang tua untuk pemanfaatan taman bacaan itu. Selain itu, bagaimana taman bacaan ini mampu menghadirkan hal-hal yang menarik sehingga menimbulkan minat dan ketertarikan pengunjung.

Pemerintah bisa mengambil peran besar dan strategis. Belajar dari pengalaman negara maju, ada banyak hal yang bisa pemerintah lakukan, di antaranya adalah memfaslitasi perpustakaan atau taman bacaan masyarakat serta menghadirkan banyak perpustakaan yang menarik bagi masyarakat.

Saat ini merupakan era tekhnologi sehingga mengonsep perpustakaan digital adalah sebuah kebutuhan. Perpustakaan selain menyediakan banyak buku bacaan hendaklah juga menghadirkan sumber bacaan berupa slide dalam format softcopy atau hardcopy, e-book, film, foto, rekaman, piringan hitam, pita magnetik, CD atau DVD. Dengan demikian, para pengunjung bisa menggunakan sebagai sumber informasi.

Semoga budaya membaca segera  terbangun. Kesadaran kritis yang tumbuh melalui budaya membaca pada akhirnya akan melahirkan masyarakat cerdas, berkarakter, berdaya saing tinggi, dan produktif. Jika masyarakat cerdas, kesejahteraan tinggal selangkah lagi. Begitulah masyarakat yang bermartabat. Salam literasi dari Yeoju, Korea Selatan, pada 26 Maret 2019.

Kolom 2 hours ago

Puser Parto