Teori Pemuliaan untuk Mengoptimalkan Potensi dalam Perbedaan

Khoiri Habib Anwari - Istimewa
06 April 2019 11:00 WIB Khoiri Habib Anwari Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (26/3/2019). Esai ini karya Khoiri Habib Anwari, mahasiswa Program Studi Peternakan Fakultas Pertanian Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah khoirianwari@gmail.com.

Solopos.com, SOLO -- Apakah pantas seseorang yang berasal dari keilmuan sains dan teknologi mengemukakan pandangan ihwal keilmuan sosial dan humaniora? Saya yakin itu bisa dilakukan, meskipun hanya beberapa teori yang dapat dijadikan pijakan.

Saya mempertimbangkan pertanyaan tersebut dari analisis pengetahuan ilmiah. Memang tidak ada perbedaan metodologi yang esensial antara sains dan teknologi atau sosial dan humaniora.

Ilmuwan berupaya menemukan hukum-hukum umum yang dapat diterima sebagai alasan agar dapat menjelaskan suatu fenomena. Esai ini adalah ikhtiar saya dalam menjelaskan faktor yang memengaruhi produktivitas manusia yang mirip dengan teori pemuliaan ternak.

Saya meyakini dalam teori pemuliaan ternak yang menyatakan P=G+E, yang biasanya berada di bilik keilmuan sains, khususnya pemuliaan ternak, bisa dielaborasi ke ranah sosial dan humaniora, khususnya pengaruh personalitas individu yang tumbuh di kondisi masyarakat tertentu.

P yang dikenal dengan performa merupakan karakteristik (struktural, fisiologis, dan perilaku) yang dapat diamati dari suatu makhluk yang diatur oleh G (genotipe) dan E (environment) atau lingkungan.

Manusia adalah makhluk penyendiri dan makhluk sosial. Sebagai penyendiri manusia berusaha melindungi keberadaan dan yang terpenting adalah memuaskan keinginan pribadinya. Sebagai makhluk sosial manusia berusaha untuk memperoleh pengakuan dan dicintai.

Tergantung pada Karakter

Eksistensi hal tersebut tergantung pada karakter pribadi manusia dan kombinasi khusus tersebut menentukan sejauh mana seseorang dapat mencapai keseimbangan pribadi dan memberikan sumbangsih bagi masyarakat.

Sangat dimungkinkan kedua daya ini untuk digabungkan, akan tetapi kepribadian yang muncul tebentuk oleh G (genotipe) atau E (environment)? Konsep abstrak tentang ”masyarakat” bagi manusia secara individu adalah keseluruhan hubungan langsung maupun tak langsung.

Seseorang dapat berpikir, merasakan, berjuang, dan bekerja bagi dirinya sendiri, tetapi ia sebenarnya bergantung pula pada masyarakat--secara intelektual dan emosional--sehingga sangat mustahil memahami di luar kerangka masyarakat.

Inilah bukti ketergantungan seorang individu terhadap masyarakat adalah hal alami yang tak dapat dielakkan. Kemampuan membuat kombinasi baru adalah suatu anugerah yang berupa kemampuan komunikasi oral telah memungkinkan suatu perkembangan umat manusia.

Hal ini tidak ditentukan oleh genotipe saja dan environment saja.

Beberapa perkembangan ditunjukkan oleh tradisi dan instansi dalam literatur keberhasilan penelitian dan dalam hasil kesenian.

Sejak zaman dahulu telah disepakati bahwa individu tumbuh atas dua faktor, yaitu faktor dari dalam (gen) dan faktor lingkungan (environment). Bermula dari pernyataan tersebut, saya elaborasi teori pemuliaan ternak yang menyatakan pengaruh gen dan environment dalam membentuk performa ternak.

Menurut kelompok nativisme yang dipelopori Schoupenhauer, faktor pembawaan lebih kuat daripada faktor yang datang dari luar. Kelompok naturalisme yang dipelopori J.J. Rousseau berpendapat segala yang suci dari tangan Tuhan, rusak di tangan manusia.

Anak lahir dalam keadaan suci, tetapi lingkungan memengaruhi perkembangan individu anak itu. Ia bahkan mengenal segala kejahatan seperti korupsi, mencuri, dan lain-lain. Kelompok empiris yang dipelopori John Locke, dengan teori tabula, berpendapat sejak dilahirkan anak dalam keadaan kosong.

Karena itulah pengaruh lingkungan lebih kuat daripada pembawaan. Aliran ini diperkuat oleh kelompok J.F. Herbart dengan teori psikologi asosiasi, bahwa manusia sejak dilahirkan masih kosong.

Kesadaran Jiwa

Manusia terisi jika indranya dapat menangkap sesuatu, kemudian diteruskan oleh urat sarafnya, masuk di dalam kesadaran jiwa. Di kehidupan sehari-hari kita saksikan kebenaran teori tersebut. Waktu kecil kita belum tahu apa-apa, setelah sekolah kita tahu apa yang diajarkan oleh guru.

Melihat pertentangan kedua aliran tersebut, W. Stern mengajukan teori perpaduan (convergens) bahwa kedua daya itu sebenarnya saling memengaruhi. Bakat seorang individu ada kemungkinan tidak akan berkembang kalau tidak dipengaruhi oleh segala sesuatu yang ada di lingkungannya.

Adapun faktor gen atau pembawa ialah sesuatu yang dibawa sejak lahir, yaitu kejiwaan. Perasaan, fantasi, ingatan, dan sebagainya yang dibawa sejak lahir menentukan pribadi seseorang.

Sedangkan faktor lingkungan ialah sesuatu di luar manusia, baik hidup maupun mati, baik tumbuhan, manusia, hasil-hasil budaya yang bersifat material atau spiritual. Semuanya turut membentuk pribadi individu. Dengan demikian kita mengetahui bahwa pribadi yang satu dengan pribadi yang lain tentu berbeda.