WNI Sandera Abu Sayyaf Meninggal Dunia Saat Baku Tembak

Tiga WNI dan WN Norwegia Kjartan Sekkingstad (kanan) berdiri bersama pemimpin Front Pembebasan Nasional Moro (MNLF) Nur Misuari (kiri) dan anggota kelompok pemberontak lainnya setelah dibebaskan dari kelompok militan Abu Sayyaf di Jolo, Sulu, Filipina, Minggu (18/9 - 2016). (Reuters/Nickie Butlangan)
06 April 2019 16:40 WIB Iim Fathimah Timorria Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA -- Seorang warga negara Indonesia (WNI) yang menjadi korban penyanderaan kelompok Abu Sayyaf di Filipina Selatan meninggal dunia pada Jumat (5/4/2019) petang. WNI atas nama Hariadin itu meninggal karena tenggelam di perairan Pulau Simisa, Provinsi Sulu, Filipina, saat mencoba meloloskan diri.

Berdasarkan keterangan resmi yang dirilis Kementerian Luar Negeri (Kemenlu), Hariadin, 45, dan WNI sandera lainnya, Heri Ardiansyah, 19, berusaha berenang menuju Pulau Bangalao bersama tiga penyandera. Saat itu penyandera berusaha menghindari operasi yang dilancarkan angkatan bersenjata Filipina ke kelompok Abu Sayyaf.

"Mereka berusaha berenang ke Pulau Bangalao supaya terhindar dari serangan angkatan bersenjata Filipina terhadap penyandera sebagaimana dialami WN Malaysia yang terbebas sehari sebelumnya," tulis Direktur Perlindungan WNI dan Badan Hukum Indonesia Kemlu, Lalu Muhammad Iqbal, dalam keterangan resmi.

Juru bicara West Mindanao Command (Westmindo) Kolonel Gerry Besana dalam pernyataan pers menyebutkan bahwa operasi tersebut dilakukan sekitar pukul 17.45 waktu setempat pada Jumat (5/4/2019). Basana mengungkapkan baku tembak selama 10 menit sempat terjadi dalam operasi tersebut.

"Tiga peyandera dari kelompok Abu Sayyaf dan dua korban sandera berusaha berenang menuju Pulau Bangalao untuk menghindari sergapan pasukan," tulis Basana.

Basana mengungkapkan bahwa dua sandera tersebut berhasil dievakuasi, Heri Ardiansyah berhasil selamat namun Hariadin dalam kondisi tak bernyawa. "Harian meninggal karena tenggelam [tidak kuat berenang]," sambung Basana.

Tiga orang anggota Abu Sayyaf dipastikan tewas dalam operasi itu. Sampai Sabtu (6/4/2019), Heri Ardiansyah, dan jenazah Hariadin telah tiba di pangkalan militer Westmincom di Zamboanga City untuk diserahterimakan kepada wakil Pemerintah Indonesia.

Sejak akhir Februari 2019, Divisi 11 Angkatan Bersenjata Filipina yang didukung oleh Tim BAIS TNI memang melakukan operasi pembebasan sandera dan terus memberikan tekanan kepada para penyandera. Dalam perkembangan terakhir, para penyandera terdesak di Pulau Simisa, Provinsi Sulu, Filipina Selatan.

Sehari sebelum operasi di Simisa, tepatnya pada Kamis (4/4/2019), seorang warga Malaysia bernama Jari Abdullah yang disandera bersama Heri Ardiansyah dan Hariadin menderita luka-luka setelah terkena timah panas saat kelompok Abu Sayyaf terlibat baku tembak dengan pasukan keamanan Filipina di Sulu.

Heri Ardiansyah dan Hariadin diculik bersama Jari Abdullah di Perairan Kinabatangan, Sandakan, Malaysia pada 5 Desember 2018. Ketiganya diculik saat sedang bekerja di kapal penangkap ikan SN259/4/AF6 berbendera Malaysia.

Sumber : Bisnis/JIBI

Kolom 7 hours ago

Bahaya Lethong