Model Pendidikan Abad XXI

Ary Yulistiana - Istimewa
05 April 2019 09:30 WIB Ary Yulistiana Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Kamis (28/3/2019). Esai ini karya Ary Yulistiana, guru SMKN 9 Solo dan peserta short course pedagogical skill di University of Queensland, Australia. Alamat e-mail penulis adalah ibuary@gmail.com.

Solopos.com, SOLO -- Pada suatu siang akhir musim panas, kami berada di kapal katamaran yang berlayar di perairan Teluk Moreton, wilayah timur Negara Bagian Queensland, Australia. Di kawasan yang menghadap Samudra Pasifik itu aktivitas pembelajaran dilakukan di kapal yang dilengkapi perangkat teknologi mutakhir.

Saat kapal berlayar menuju Pulau St. Helena, kegiatan yang dilakukan adalah memasang jaring penangkap plankton, lalu mengamati plankton yang tertangkap menggunakan beberapa mikroskop yang terhubung dengan layar monitor.

Berikutnya, kami memasang umpan ikan segar yang diremas hingga darahnya menetes untuk memancing kedatangan ikan yang akan direkam menjadi video bawah air. Sambil menunggu perekaman video bawah air, kami mendapat penjelasan mengenai letak dan kondisi geografis kawasan Teluk Moreton serta melihat tayangan video biota laut dan konservasi.

Setibanya di St. Helena yang merupakan kawasan taman nasional bersejarah, kami mengamati pergerakan kawanan walabi, satwa endemik Australia yang hidup liar di pulau ini. Pada saat yang sama kami menapaki jejak sejarah suram pulau tersebut yang pernah difungsikan sebagai penjara bagi penjahat kelas kakap pada kurun waktu 1867 hingga 1932.

Pada pelayaran kembali ke Manly Harbour, kami menyaksikan rekaman video bawah air. Tampak berbagai spesies ikan mendatangi umpan, termasuk seekor hiu martil. Pada tayangan tersebut tertera tulisan mengenai nama ikan beserta nama Latin setiap ada ikan yang melintas dan mendekati umpan.

Awak kapal yang merupakan pendidik terlatih (salah satu di antara mereka adalah seorang kepala sekolah) memberikan berbagai tambahan informasi dan pengetahuan terkait eksperimen yang telah dilakukan.

Aktivitas di kapal bernama Inspiration tersebut merupakan salah satu kegiatan pendidikan yang kami cicipi di Moreton Bay Environmental Education Centre. Pusat pendidikan ini dikembangkan oleh departemen pendidikan setempat untuk memberikan pengalaman langsung (hands on experience) kepada siswa, guru, dan masyarakat menjelajahi perairan sambil belajar sains serta menghargai warisan budaya.

Mereka memanfaatkan cerita sejarah untuk mengakui pemenang pada masa lampau (champion of the past), memfasilitasi program tempat  siswa berkolaborasi dengan pemenang hari ini (champion of the present) melalui aksi masyarakat dan pemantauan lingkungan, serta menginspirasi untuk menjadi pemenang pada masa depan (champion of the future) melalui pendidikan lingkungan dengan fokus eksplisit pada sains, sejarah, dan geografi.

Menarik, Terintegrasi, Inspiratif

Aktivitas tersebut menjadi salah satu produk pendidikan abad ke-21 yang dikemas dengan sangat menarik, terintegrasi, dan inspiratif. Menurut World Economic Forum, kecakapan abad ke-21 terdiri atas tiga pilar utama, yakni literasi (mengaplikasikan kemampuan utama untuk tugas sehari-hari berupa literasi numerik, literasi sains, literasi teknologi komunikasi dan informasi, literasi finansial, literasi budaya dan kewarganegaraan), kompetensi dasar (berpikir kritis dan pemecahan masalah, kreativitas, komunikasi, dan kolaborasi), serta karakter.

Di Australia pemerintah menyadari sepenuhnya peran literasi pada masa depan. Mereka menaruh perhatian yang sangat besar terhadap kemampuan literasi dan numerik. Hal tersebut bahkan menjadi sorotan utama dalam pendidikan, yakni implementasi 3R yang diyakini sebagai key subject untuk pembelajaran abad ke-21.

Yang dimaksud 3R adalah reading (membaca), riting (writing/ menulis), dan rithmetic (arithmatic/aritmatika). Sekolahan berkewajiban memastikan siswa-siswa menguasai 3R. Apabila ada seorang siswa yang kesulitan dalam 3R, ia akan dibimbing secara khusus oleh support teacher di setiap sekolahan.

Untuk mengukur keberhasilan 3R, pemerintah Australia melakukan penilaian secara nasional melalui The National Assessment Program– Literacy and Numeracy (NAPLAN), sebuah program penilaian yang dikhususkan pada bidang literasi dan numeric.

Dalam situs resmi www.nap.edu.au dijelaskan NAPLAN menguji berbagai keterampilan yang penting bagi setiap anak untuk berkembang melalui sekolah dan kehidupan, seperti membaca, menulis, mengeja, tata bahasa, dan berhitung.

Hasil NAPLAN bukan lulus atau gagal, tetapi penilaian kemajuan pembelajaran masing-masing siswa. Melalui NAPLAN, pemerintah mendeteksi kemampuan siswa dan memberikan bantuan kepada sekolahan yang memiliki nilai di bawah standar.

NAPLAN merupakan penilaian tahunan untuk siswa di kelas III, V, VIII, dan IX. Penilaian dilakukan secara nasional, setiap tahun, dalam pekan kedua Mei. NAPLAN terdiri atas tes empat domain, yakni membaca,  menulis, konvensi bahasa (ejaan, tata bahasa, dan tanda baca), dan berhitung.

NAPLAN menguji keterampilan melek huruf dan berhitung yang dikembangkan seiring waktu melalui kurikulum sekolah. Kurikulum pendidikan di Australia dirancang untuk mempersiapkan siswa dalam menghadapi dunia yang berubah.

Kaum muda dipersiapkan untuk dunia yang sangat berbeda dari yang kita ketahui saat ini. Pada kurikulum tersebut telah dirumuskan bahwa kaum muda di Australia pada abad ke-21 perlu menjadi inovator, wirausahawan, pembelajar sepanjang hayat, juga warga dunia yang bertanggung jawab.

Berpikir Kritis

Pada silabus pendidikan di Australia secara umum diajarkan tentang kompetensi 4C yaitu critical thinking (berpikir kritis), creativity (berpikir kreatif), communication (komunikasi), collaboration (kolaborasi dan kerja sama tim) keterampilan personal dan sosial, serta kemampuan menguasai teknologi komunikasi dan informasi.

Di Australia terdapat pusat pembelajaran yang bernama IMPACT Centre. IMPACT adalah lembaga milik pemerintah yang melayani siswa dan guru. Mereka menamakan sebagai School of The Future (Sekolah Masa Depan).   

Salah satu layanan untuk siswa adalah pembelajaran daring (online) terutama bagi siswa yang tinggal di wilayah terpencil (remote area) yang kesulitan menjangkau sekolahan. Tercatat 65.000 pelajar berpartisipasi pada pembelajaran daring ini sejak 2011.

Institusi ini memberikan pelatihan untuk  guru dalam mengembangkan kerangka berpikir IMPACT yakni inspire, model, practice, apply, connect, dan transform. Kerangka berpikir tersebut diharapkan diterapkan oleh guru secara fleksibel dalam kegiatan pembelajaran.

Salah satu titik berat yang ditanamkan IMPACT Centre adalah mengenai keterampilan berpikir kritis. Pada pelatihan keterampilan berpikir kritis, guru diminta mengarahkan siswa agar lebih banyak berpikir, membangun informasi untuk melakukan, serta mengamati sekitar.

Guru dibiasakan memberi kesempatan siswa berpikir dari sudut pandang yang berbeda. Penelitian yang mereka lakukan menunjukkan minat siswa untuk berpikir tergantung pada bagaimana cara guru mengondisikan kelas.

Berpikir efektif bisa diajarkan ketika guru memberi contoh bagaimana membuat strategi, memberi kesempatan untuk praktik, dan mengaplikasikan. Menurut penjelasan Kara Vaughan, seorang guru di sekolah menengah di Queensland, berpikir adalah sesuatu yang sangat penting dan selalu digunakan dalam kehidupan sehari-hari.

Berpikir adalah proses yang utuh dan penting. Melalui proses berpikir, pada hari depan siswa menjadi pembelajar sepanjang hayat. Pada saat berkunjung ke sekolahan, kami selalu mendapatkan fakta-fakta yang menunjukkan karakter dibangun oleh sekolahan dengan sangat kuat.

Di setiap ruangan terdapat model karakter yang dikembangkan di sekolah. Karakter yang diinginkan terpampang dengan jelas dan sebagian diberi keterangan cara implementasinya. Karakter yang ditetapkan harus menjadi dasar bagi seluruh pelaksanaan kegiatan di sekolahan.

Di dalam ruang kelas terdapat pula berbagai macam kata motivasi yang dapat memperkuat karakter siswa. Kelas ditata dengan atraktif, lengkap dengan media audiovisual, dan berbagai alat peraga pembelajaran. Hampir tidak pernah dijumpai susunan bangku siswa yang berderet menghadap ke satu arah seperti di Indonesia.

Bangku di semua kelas ditata dalam bentuk kelompok-kelompok untuk memudahkan siswa berinteraksi. Guru dan siswa selalu tampak melaksanakan pembelajaran aktif dan antusias. Siswa di Australia tidak mendapatkan banyak pelajaran. Rata-rata jam sekolah berkisar pada pukul 09.00-15.00 waktu setempat.

Konsep pendidikan yang diterapkan di Australia sebenarnya sebagian telah diketahui pula di Indonesia. Perlu konsistensi dan kesungguhan agar kerangka berpikir pembelajaran abad ke-21 dapat diterapkan dengan maksimal. Peran serta berbagai pihak sangat diharapkan agar pendidikan Indonesia semakin berkualitas dan mampu menjawab tantangan masa depan.

Kolom 7 hours ago

Bahaya Lethong