Pengakuan Prabowo: Sarankan Soeharto Mundur & Kontribusi Kebocoran Indonesia

Capres no 02 Prabowo Subianto saat debat capres putaran keempat di Hotel Shangri La, Jakarta, Sabtu (30/3 - 2019). (Antara/Hafidz Mubarak)
05 April 2019 23:30 WIB Newswire Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA — Calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto sering kali menyebut kekayaan Indonesia mengalir ke luar negeri. Berdasarkan hitungannya, jumlah itu lebih dari Rp1.000 triliun. Dia mengakui juga berkontribusi atas kehilangan itu.

Prabowo mengklaim bahwa kebocoran tersebut berdasarkan bukti dan fakta yang tidak terbantahkan. Hal itu juga sudah dia tulis di buku dengan judul Paradoks Indonesia. Ketua Umum Partai Gerindra itu meyakini bahwa kebocoran tersebut menyebabkan Tanah Air sakit hingga sekarang.

“Dan ini sudah terjadi puluhan tahun. Dan ini harus kita akui sebagai kegagalan elite Indonesia. Ini bagian dari kegagalan saya karena saya dulu elite, elite tentara,” katanya di hadapan akademisi pada acara Gerakan Elaborasi, Rektor, Akademisi, Alumni, dan Aktivis Indonesia di Jakarta, Jumat (5/4/2019).

Meski begitu, Prabowo mengklaim mencoba memperbaiki elite dari dalam. Makanya saat 1998 dia mendukung gerakan reformasi walaupun pemimpin rezim berkuasa waktu itu adalah Presiden Soeharto yang juga mertuanya sendiri.

“Pada saatnya saya harus ambil keputusan apakah membela keluarga atau membela suatu kesetiaan yang lebih tinggi dari sekadar kekeluargaan, yaitu setia pada bangsa dan rakyat Indonesia,” jelasnya.

Saat itu, Prabowo menyarankan agar Soeharto mengundurkan diri. Hal itu, katanya, dilakukannya bukan karena tidak loyal, tapi cinta kepada mertua. “Inilah sesuatu yang saya alami sendiri,” katanya.

Sumber : Suara.com