Minat Baca 1:1.000, Pemerintah Sediakan Rp10 Triliun

Ilustrasi membaca buku. (Dok)
05 April 2019 01:00 WIB Ayu Prawitasari Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA — Pemerintah menyediakan Rp10 triliun pada tahun ini untuk pengembangan buku teks maupun nonteks. Namun, Ikatan Penerbit Indonesia (Ikapi) mencatat minat baca masyarakat masih 1: 1.000.

Sementara itu, terkait Gerakan Literasi Nasional (GLN), Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) dan Ikapi menandatangani nota kesepahaman tentang pengembangan literasi. Tujuannya meningkatkan fungsi dan peran buku dalam pendidikan dan kebudayaan.

“Kemendikbud tidak bisa sendiri, perlu dilakukan bersama dengan masyarakat perbukuan yaitu IKAPI,” kata Sekretaris Jenderal Kemendikbud, Didik Suhardi, saat diwawancarai seusai penandatangan nota kesepahaman, di Kantor Kemendikbud, Selasa (2/4/2019) seperti dilansir laman Kemdikbud.go.id.

Untuk menjalankan amanat Undang-Undang No. 3/2017 tentang Sistem Perbukuan. buku haruslah bermutu, murah, dan merata. “Caranya harus banyak pameran-pameran buku agar tingkat membaca buku anak-anak Indonesia terus meningkat. Gerakan Literasi Nasional kemudian dan UU Perbukuan dengan semangat buku murah, merata, dan bermutu bisa kita wujudkan di seluruh Tanah Air,” ungkap Didik.

Pemerintah setiap tahunnya menganggarkan tidak kurang dari Rp10 triliun untuk pengembangan buku, baik buku teks maupun buku nonteks. “Harus ada sinergi antara pemerintah dengan dunia buku supaya pangsa pasar bisa diambil dengan baik. Jangan sampai nanti hanya di Jawa sedangkan luar Jawa, di daerah terpencil, tidak kebagian buku atau tidak ada pasarnya,” ujar dia.

Ketua Umum IKAPI, Rosidayati Rozalina, telah melakukan berbagai upaya untuk mengembangkan literasi di Indonesia. Contohnya pameran buku murah di seluruh Indonesia maupun penyediaan sistem informasi yang akuntabel untuk memudahkan masyarakat memesan buku melalui jaringan online.

“Pada pameran yang diselenggarakan Ikapi setiap tahunnya sekarang kita buka yang namanya zona kalap, buku-buku dijual dengan harga sangat miring. Sekarang pun bukan hanya di IBF [Indonesia Book Fair], tetapi di daerah pun ada Liga Buku Bandung. Juga ada beberapa penerbit yang mengadakan kegiatan menjual buku murah ke masyarakat. Jadi sekarang ini memang semakin ramai sebetulnya,” kata Rosidayati.

Khusus untuk daerah terdampak bencana, Ikapi memiliki program sejuta buku yaitu pemberian buku-buku kepada masyarakat yang terkena dampak bencana. Bukunya baru dan bekas.

Terkait minat baca, Rosidayati mengakui masih rendah yakni satu berbanding seribu orang. Namun, saat ini terjadi peningkatan minat baca di masyarakat sebesar 11,6 persen. Sementara itu, produksi buku yang tercatat di International Standard Book Number (ISBN) mencapai 70.000 judul buku per tahun.

Namun, tidak semua judul buku beredar di masyarakat karena ada buku-buku yang diterbitkan oleh lembaga. IKAPI mencatat ada 30.000 judul buku baru yang beredar di masyarakat per tahun.