Kisah yang Lahir Sendiri

Ichwan Prasetyo - Dokumen Solopos
04 April 2019 09:00 WIB Ichwan Prasetyo Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (1/4/2019). Esai ini karya Ichwan Prasetyo, jurnalis Harian Solopos, pembaca buku apa saja, dan pernah aktif di pers mahasiswa. Alamat e-mail penulis adalah ichwan.prasetyo@solopos.co.id.

Solopos.com, SOLO -- ”Alam itu romantis, Farida. Ia akan mengikuti alur hidup yang kau pilih dan memberi kejutan-kejutan yang membahagiakan,” kata Joni Trotoar.

Kalimat ini adalah kutipan langsung yang paling saya sukai dari buku Lelaki di Tengah Hujan. Buku berlabel ”novel sejarah” karya Wenri Wanhar, seorang wartawan, ini dalam pemaknaan saya adalah dokumentasi kisah kaum muda menumbangkan rezim otoriter militeristis Orde Baru.

Buku ini dibedah di Fakultas Ilmu Sosial dan Politik Universitas Sebelas Maret pada Kamis, 14 Maret 2019, lalu. Malam sebelum bedah buku itu saya bertemu Wenri di warung wedangan Kebon Koelon yang tak jauh dari Pasar Kleco, Laweyan, Kota Solo.

Hari-hari ini Wenri sangat mobil. Dia pindah dari satu kota ke kota lain. Dari satu kampus ke kampus lain. Dia membedah buku ini. Membaca buku ini akan kian lengkap kala didampingkan dengan Anak-anak Revolusi karya Budiman Sudjatmiko dan Laut Bercerita karya Leila S. Chudori.

Dalam pertemuan di warung wedangan itu hadir pula seorang ”cah lawas” era pergerakan mahasiswa 1990-an yang membantu membuka kembali memori tentang masa-masa melawan rezim represif militeristis itu.

Ketika saya menuntaskan pembacaan buku ini ada dua hal yang harus saya definisikan sendiri: yakni unsur fiksi (kisah rekaan) dan unsur sejarah (fakta). Tokoh-tokoh yang dalam “novel sejarah” ini sebagian saya kenal baik, sebagian saya kenal karena beberapa kali ketemu dalam aktivitas mahasiswa menjelang 1998.

Wenri mengatakan buku ini dia susun sejak 1999. Awalnya hanya catatan-catatan pendek yang dia kumpulkan secara manual dan kemudian pada waktu-waktu senggang dia unggah di surat elektronik agar tersimpan.

Catatan-catatan itu kemudian memanifestasi menjadi skripsi sebagai syarat kelulusan dia di Universitas Bung Karno pada 2006. Skripsi itu dia tulis atas izin semua narasumber yang pernah dia temui dan dia wawancarai, yakni para aktor gerakan mahasiswa era 1990-an.

Setelah lulus dari Universitas Bung Karno, naskah yang dia kumpulkan bertahun-tahun itu mengendap, bahkan tak ketahuan rimbanya. Beberapa waktu lalu Wenri merasakan ada panggilan dari naskah yang telah dia ”lupakan” itu.

”Naskah itu seperti memanggil-manggil saya. Naskah itu seakan-akan sedang mencari jalan untuk lahir,” ujar Wenri. Dalam rentang waktu menerima panggilan itu Wenri mencari arsip naskah di hardisk eksternal yang ternyata hanya tersisa sebagian kecil.

Naskah utuh dia temukan di arsip surat elektronik. Itu pun melalui perjuangan panjang karena surat elektronik itu lama sekali tak dia gunakan. Mengingat kata kunci menjadi perjuangan paling berat.

Setelah melalui berbagai percobaan menggunakan kata kunci, naskah itu ketemu. Selanjutnya naskah dipoles oleh seoran jurnalis yang lebih senior dibanding Wenri. Jurnalis inilah yang memasukkan kronik-kronik sejarah pers mahasiswa di dalam novel berbasis fakat sejarah gerakan mahasiswa era 1990-an ini.

Panggilan Terkuat

Setelah pemolesan selesai, naskah ditawarkan kepada penerbit besar, tapi tak mencapai kesepakatan. Akhirnya naskah tersimpan lagi. Sekitar setahun lalu, ada seorang perempun, Wenri hanya bersedia menyebut ”seorang perempuan”, tanpa nama dan identitas lain, yang menanyakan naskah itu dan bermaksud menerbitkan menjadi buku.

“Itulah panggilan terkuat dari naskah itu yang tidak bisa saya tolak. Saya serahkan naskah yang tersimpan lagi beberapa saat itu. Saya enggan membaca ulang. Saya enggan menyuntingnya lagi. Kalau mau diterbitkan ya biarkan kisah itu yang lahir sendiri, saya tak mau campur tangan lagi,” ujar Wenri.

Ketika para aktivis pers mahasiswa di Universitas Sumatra Utara (USU) menghadapi tekanan birokrat kampus gara-gara memublikasikan cerita pendek tentang lesbian, gay, biseksual, dan transgender (LGBT) di laman yang mereka kelola, saya langsung teringat dengan kronik-kronik peran pers mahasiswa dalam gerakan mahasiswa era 1990-an.

Kabar terakhir, para awak pers mahasiswa di USU itu semuanya ”dipecat” dari unit kegiatan mahasiswa tersebut. Alasannya, konten tentang LGBT itu tak sejalan dengan visi dan misi pendidikan di USU.

Saya kemudian teringat pula dengan para awak Balairungpress.com yang dikelola Badan Penerbitan Pers Mahasiswa (BPPM) Universitas Gadjah Mada yang “berhasil” membela seorang mahasiswi di kampus itu yang menjadi korban pelecehan seksual/pemerkosaan yang dilakukan mahasiswa di kampus itu pula.

Tanpa karya jurnalisme para jurnalis mahasiswa UGM itu niscaya si mahasiswi itu tak akan mendapatkan pembelaan yang layak. Kasus ini memang berakhir antiklimaks, tapi setidaknya pers mahasiswa berhasil memberdayakan jurnalisme untuk membela yang lemah.

Pada tanggal 15 Maret 2019, laman Balairungpress.com mengunggah konten ihwal diskusi bertema transpuan. Tema marginal. Tema pembelaan atas kaum marginal. Sejauh ini tak ada reaksi berlebihan sebagaimana di kampus USU itu. Mengapa di USU begitu reaksioner menanggapi ceriat pendek tentang LGBT?

Pers mahasiswa memang harus mereposisi diri. Di buku Lelaki di Tengah Hujan peran pers mahasiswa adalah menjadi simpul penghubung di antara elemen-elemen gerakan mahasiswa melawan rezim otoriter militeristis Orde Baru.

Kawan Kaum Marginal

Pada era kini, ketika informasi bisa diakses dari mana saja—karena keterbukaan yang didukung Internet, khususnya media sosial—pers mahasiswa harus mendefinisikan peran secara lebih spesifik.

Heroisme pers mahasiswa era 1990-an yang didokumentasikan Wenri cukuplah diposisikan sebagai pelajaran dari sejarah. Pers mahasiswa era kini tak akan cukup berdaya kalau “berpolitik” seperti pendahulu mereka pada era 1990-an.

Salah satu pilihan mereka adalah menjadi kawan kaum marginal seperti yang dilakukan Balairungpress.com dengan membela “habis-habisan” korban pelecehan seksual atau menyuarakan hak kemanusiaan LGBT seperti yang dilakukan aktivis pers mahasiswa di USU.

Pemberdayaan pers mahasiswa di ranah ini seharusnya didukung oleh birokrat kampus. Bukankah kampus sebagai masyarakat ilmiah harus senantiasa berada di aras nilai-nilai kemanusiaan, termasuk bagi kaum marginal?

Pers mahasiswa era kini bisa berperan sebagai komplementer dari pers profesional yang mayoritas kini ”menghamba clickbait” dan mengabaikan nilai-nilai jurnalisme yang mulia.

Bersama pers profesional—yang jumlahnya sedikit sekali—yang masih konsisten menegakkan nilai-nilai jurnalisme yang mulia, pers mahasiswa bisa berperan melawan banjir informasi tak bermutu dari media sosial.

Pers mahasiswa era kini telah terbebas dari belenggu keterbatasan “sirkulasi” sebagaimana pers mahasiswa era 1990-an. Platform dalam jaringan (daring) menyebabkan daya sebarnya menjadi tak terbatas.

Selaras ucapan Joni Trotoar kepada Farida, para jurnalis mahasiswa era kini harus memilih alur hidup untuk memastikan eksistensi mereka bermakna. Alam yang romantis akan mengikuti pilihan alur hidup itu dan memberikan kejutan-kejutan yang membahagiakan.

Acap kali kejutan membahagiakan itu—dalam tradisi aktivisme—adalah melawan tekanan atau peminggiran. Buku Lelaki di Tengah Hujan adalah inspirasi yang baik untuk melahirkan sendiri kisah-kisah pembelaan atas kaum marginal, kaum yang tak bisa bersuara karena terpinggirkan. Terpinggirkan dari penyelenggaraan negara atau terpinggirkan dari arus besar kebudayaan.