Pidato di Sukoharjo, Jokowi Bahas Ribut Pilpres hingga Bandingan Indonesia dan Afghanistan

Presiden Joko Widodo (Jokowi) di Peringatan Isra Miraj, Sukoharjo, Selasa (3/4/2019). (M. Ferri Setiawan - Solopos)
04 April 2019 01:45 WIB Indah Septiyaning Wardhani Nasional Share :

Solopos.com, SUKOHARJO - Presiden Joko Widodo (Jokowi) dalam sambutannya di Peringatan Isra Mi'raj Muhammad SAW Tingkat Kenegaraan Tahun 2019 di Gedung Olahraga (GOR) Pandawa Solo Baru, Kabupaten Sukoharjo mengajak masyarakat Indonesia menjaga ukhuwah islamiah, wathaniah, basyariah dan insaniah.

Presiden juga menyinggung menjelang pemilihan umum (pemilu) 2019 menekankan pentingnya menjaga keutuhan negara kesatuan negara republik Indonesia (NKRI). Diharapkan melalui peringatan Isra Mi'raj meningkatkan komitmen persaudaraan sesama umat muslim, anak bangsa, maupun umat manusia.  "Jangan sampai gara-gara urusan politik pemilihan bupati, wali kota, gubernur, maupun presiden menjadi tidak rukun," kata Jokowi, Rabu (3/4/2019) malam WIB.

Ribuan umat muslim di wilayah Soloraya mengikuti peringatan Isra Mi'raj Nabi Muhammad SAW dengan tema Meneguhkan Semangat Moderasi Beragama dalam Kebangsaan. Jokowi didampingi Ibu Negara Iriana Joko Widodo dan sang cucu Jan Ethes, serta Menteri Agama Lukman Hakim, Menko Bidang  Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani, Menteri Sekretaris Negara (Mensesneg) Pramono Anung, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo dan sejumlah pimpinan kepala daerah.

Jokowi mengingatkan kembali bahwa Indonesia adalah negara besar dengan jumlah penduduk 269 juta jiwa yang tersebar di 17.000 pulau. "Paling banyak ada di Pulau Jawa dengan jumlah penduduk 149 juta jiwa," katanya.

Menurut Jokowi, dengan wilayah Indonesia yang luas bukanlah negara kecil melainkan negara besar dengan memiliki kemajemukan suku, budaya hingga bahasa daerah. Hal ini merupakan anugerah yang harus dijaga keutuhan NKRI. "Saya ingatkan negara kita itu negara besar bukan kecil. Semuanya perlu logistik, infrastruktur, jalan, bendungan, air dan lainnya," katanya.

Jokowi pun membandingkan negara Indonesia yang memiliki 714 suku dengan Afghanistan hanya tujuh suku. Indonesia juga memiliki kekayaan 1.100 lebih bahasa daerah dan keberagaman adat istiadat. "Perbedaan itu jangan menjadikan kita tidak jadi saudara lagi. Apalagi urusan politik menjadi ramai," katanya.

Menurutnya jangan karena peristiwa politik membuat lupa persaudaraan sebangsa dan se-tanah air. Jokowi tak memungkiri banyak menemukan masalah di beberapa wilayah antar warga ribut dan tidak saling sapa karena beda pilihan. "Antar kampung tidak saling sapa. Majelis taklim juga tidak sapa karena pilihan presiden. Inilah yang harus dijaga ukhuwah islamiah," katanya.

Jokowi mengajak seluruh masyarakat untuk menjaga keutuhan NKRI, menjunjung tinggi toleransi dalam beragama dan bermasyarakat. Hal ini agar kehidupan berbangsa dan bernegara menjadi lebih baik. "Marilah kita menjaga ukhuwah islamiah, wathaniah, basyariah dan insaniah," pintanya.

Menteri Agama Lukman Hakim Saefudin mengatakan sejalan dengan tema peringatan isra mi'raj kali ini adalah semangat moderasi beragama berkebangsaan di Indonesia. Diharapkan melalui isra mi'raj ini mampu meneguhkan kembali sikap untuk selalu memilih jalan tengah dalam  berbangsa dan bernegara. 

"Karena bangsa Indonesi terdiri dari masyarakat yang plural dan multikultural sehingga perlu dijaga bersama," katanya. 

Dia kembali menyampaikan agar semua dapat memanfaatkan isra mi'raj dengan meningkatkan komitmen persaudaraaan sesama muslim, anak bangsa maupun umat manusia. "Semoga kita memetik hikmah bisa membangun Indonesia yang optimis maju dan sejahtera," katanya.

Sementara itu keikutsertaan Jan Ethes mengenakan pakaian senada dengan Jokowi, baju koko lengkap peci menyedot perhatian peserta isra mi'raj. 

Acara peringatan isra mi'raj dimulai dengan menyanyikan lagu Kebangsaan Indonesia raya, pembacaan ayat suci al quran, uraian hikmah Isra Mi'raj Muhammad SAW oleh pimpinan Pondok Pesantren Al Muayyad Drs. K.H. Dian Nafi atau akrab disapa Gus Dian dan ditutup doa bersama.