Menunggu Pemilihan Presiden dengan Santai

Suwarmin - Dokumen Solopos
03 April 2019 09:19 WIB Suwarmin Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (25/3/2019). Esai ini karya Suwarmin, jurnalis Harian Solopos. Alamat e-mail penulis adalah suwarmin@solopos.co.id.

Solopos.com, SOLO -- Bagi sebagian besar masyarakat Indonesia, pemilihan umum sudah selesai. Terutama pemilihan presiden (pilpres). Meskipun hari H pencoblosan baru digelar pada Rabu, 17 April 2019 mendatang, keputusan hati sudah bulat.

Sudah jelas surat suara bergambar siapa yang kelak akan dicoblos di bilik suara, tempat para pemilih sebagai orang pribadi yang otonom terhadap kekuasaan bangsa mereka.

Orang-orang semacam ini biasanya punya keyakinan bak batu karang. Tak mempan digoda duit, apalagi sekadar duit amplopan. Tak mempan digoyang fakta negatif tentang tokoh pilihan, apalagi sekadar hoaks.

Mereka tak peduli survei, tak hirau dengan hiruk pikuk debat, bahkan mereka enggan menonton. Kalau toh menonton debat, skor debat di mata mereka bisa ditebak, selalu memenangkan calon yang mereka dukung.

Sebagian dari para pemilih loyal ini bisa dikatakan sebagai pemilih ideologis, yakni orang-orang yang mengikatkan diri pada kesamaan landasan pemikiran, latar belakang, ikatan sejarah dengan calon presiden dan calon wakil presiden maupun partai politik pengusung.

Sebagian dari mereka bisa pula disebut sebagai pemilih fanatik. Mereka memilih karena kesamaan primordial tertentu. Ada juga jenis pemilih yang sering disebut dengan pemilih “pokoke”, pemilih yang mendasarkan pilihan mereka berdasar pertimbangan irasional, kadang-kadang dengan alasan sepele.

Pemilih fanatik dan pemilih “pokoke” tak peduli dengan rekam jejak. Pemilih semacam ini membuat apa pun yang dilakukan calon presiden dan calon wakil presiden yang didukung selalu benar.

Segala berita negatif dianggap sebagai serangan. Segala berita positif dianggap sebagai kebenaran. Nyaris tidak ada diskusi. Para pemilih fanatik dan “pokoke” ini bisa dengan mudah menyebarkan informasi yang tidak sesuai dengan kenyataan alias hoaks.

Ada survei tentang level kemantapan pemilih. Jika mengacu survei Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC), sebanyak 88% suara pendukung Jokowi-Ma’ruf kecil kemungkinan berubah pilihan.

Sementara dari kubu Prabowo-Sandi, relatif sama, yakni sebanyak 86% pemilih kecil kemungkinan bisa berubah pilihan. Beberapa survei menunjukkan persentase kemantapan pemilih sangat sulit digoyahkan, apalagi diubah.

Ruang Diskusi

Sulit berharap ada ruang diskusi di antara para pemilih fanatik atau pemilih loyal. Mereka membangun tembok tebal di sekeliling mereka, bahkan ketika mereka mengakui prestasi kubu lawan pun mereka tetap akan memilih calon yang mereka jagokan.

Loyalitas tanpa batas di level pilpres dan dominasi perdebatan seputar pilpres ini seolah-olah menjadikan pemilihan anggota legislatif sebagai figuran. Para calon anggota legislatif (caleg) seolah-olah tidak dipedulikan.

Mereka tidak mendapatkan panggung yang memadai. Mereka jarang dibicarakan oleh para pemilih. Caleg petahana lebih diuntungkan dengan kondisi ini. Sementara caleg baru harus berupaya keras memunculkan diri yang tentu saja membutuhkan biaya tidak sedikit.

Fanatisme para pendukung calon presiden dan calon wakil presiden ini juga memunculkan kekhawatiran muncul ekses negatif setelah hari pencoblosan. Sudah pasti tidak akan ada hasil seri dalam pilpres nanti. Sudah pasti hanya akan ada satu pemenang yang akan berpesta kemenangan setelah 17 April.

Ruang diskusi sebenarnya terbuka lebar di kalangan undecided voters, yakni para pemilih yang belum mengambil keputusan. Ruang diskusi juga masih terbuka bagi para swing voters, yakni para pemilih tidak loyal yang didominasi kaum muda.

Para pemilih fanatik menganggap pemilihan umum, khususnya pilpres,  sudah selesai karena mereka tinggal pergi ke bilik suara dan mencoblos surat suara bergambar calon andalan mereka. Bagi para pemilih kategori swing voters, waktu masih panjang untuk menimbang-nimbang dukungan mereka akan diberikan kepada siapa.

Menurut pengamat politik Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia, Siti Zuhro, jumlah swing voters ini sangat banyak, sekitar 40% dari jumlah seluruh pemilih. Para pemilih jenis ini mayoritas kalangan muda.

Menariknya, para pemilih muda ini susah ditebak. Mereka generasi yang dinaungi era yang serba interconnected. Ada banyak cara untuk menghubungi mereka. Ada banyak jalan untuk memengaruhi mereka.

Gawai di tangan mereka yang tersambung dengan Internet membuat wawasan dan interaksi sesama mereka bisa sangat dinamis sekaligus dramatis. Mereka bisa saja tercerabut dari akar ideologi pendahulu mereka, para orang tua mereka.

Mereka bisa saja membangun pemahaman politik baru. Sebagian ditegakkan dari unsur-unsur primordial. Sebagian karena kebersinggungan dengan pergaulan sesama mereka yang sangat luas, jauh lebih luas daripada orang tua mereka. Sayup-sayup terdengar keresahan dari kalangan pemilih muda, misalnya, mengapa narasi lingkungan jarang dibicarakan calon presiden dan calon wakil presiden.

Diskusi Cerdas

Dari para pemilih muda kita masih bisa berharap mereka membangun diskusi cerdas tentang plus minus pasangan calon presiden dan calon wakil presiden. Bagaimana pendekatan calon terhadap pengangguran, kemiskinan, kebijakan pajak, dan lain-lain.

Mereka bisa nikmat berdiskusi sembari bermain tanda pagar atau tagar atau emoticon. Kalangan pemilih muda yang terdidik juga tak perlu dirisaukan tentang bagaimana terpaan hoaks di kalangan mereka. Mereka cukup cekatan mencari informasi yang benar dari berbagai sumber.

Waktu yang kurang dari sebulan menjelang hari pencoblosan, hari pemungutan suara, akan menjadi arena perebutan dukungan yang sangat menarik. Lembaga Penelitian dan Pengembangan Harian Kompas dalam survei terbaru yang dipublikasikan pekan lalu menyebut terdapat 13,4% pemilih yang masih merahasiakan pilihan mereka.

Menurut data Lembaga Survei Indonesia (LSI) Denny J.A., terdapat 9,9% pemilih yang belum memutuskan pilihan. Itulah sebabnya, saya berkeyakinan inilah saatnya bagi para pasangan calon presiden dan calon wakil presiden untuk mulai bermain cantik.

Perlu memunculkan gimmick yang “nendang” untuk menarik perhatian pemilih. Toh, mereka tidak akan kehilangan apa-apa. Masing-masing pasangan calon presidean dan calon wakil presiden punya tabungan suara dari para pemilih loyal, pemilih yang tidak akan meninggalkan mereka apa pun yang terjadi.

Sementara para pemilih muda yang masih mengambang dan belum mengambil keputusan masih menantikan gebrakan mereka. Bermain politik dengan cantik juga akan menjadi bekal untuk menata kembali hari-hari berbangsa dan bernegara setelah pilpres.

Melihat pekatnya polarisasi di tengah masyarakat, apa pun hasil pilpres nanti, bangsa ini membutuhkan kerja-kerja kebudayaan yang sangat masif untuk menata kembali sendi-sendi kerukunan sesama warga bangsa. Jadi, mari menunggu pilpres dengan santai sembari menyimak pertunjukan menarik di panggung politik.