Alegori Politik dan Celeng

Setyaningsih - Istimewa
02 April 2019 10:00 WIB Setyaningsih Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (30/3/2019). Esai ini karya Setyaningsih, kontributor peluncuran buku Menyusu Celeng di Bentara Budaya Yogyakarta. Alamat e-mail penulis adalah langit_abjad@yahoo.com.

Solopos.com, SOLO -- Berpengalaman, sudah terbukti, optimis, Indonesia maju, jujur, antikorupsi, amanah, lebih pinter, lebih ganteng, merakyat, mbangun desa, lapangan kerja terjamin, harga pangan stabil, pajak motor dihapus. Begitulah kata-kata yang hari-hari ini mendesak ke dalam angan-angan kita pada harmoni kepemimpinan bersih dan kesejahteraan rakyat.

Janji harus dibabarkan. Tidak mungkin calon penguasa membeberkan yang gagal dan kemungkinan buruk dalam diri. Menjelang perayaan politik akbar April nanti, foto-foto para calon penguasa menancap di pematang sawah atau kebun tidak berpenghuni, sampai di sudut-sudut strategis jalanan kota dan desa.

Semakin hari, mata semakin dipaksa sibuk menyimak kata-kata dan senyum optimistis sampai suntuk. Riuh politik yang nyaris selalu hadir dalam frekuensi aktual masih membutuhkan pembabaran secara purba. Tabiat dan sikap dicerminkan dalam karakteristik (ke)binatang(an), mengalegorikan hal antagonis sekaligus protagonis.

Inilah yang justru dinarasikan Sindhunata lewat novel Menyusu Celeng (Gramedia, 2019). Ini novel edisi baru dari edisi pertama berjudul Tak Enteni Keplokmu Tanpa Bunga dan Telegram Duka (2001). Celeng menjadi pokok imajiner yang dikeluarkan dari bingkai perupa Djoko Pekik yang di halaman terima kasih disebut secara khusus telah ”membiarkan dirinya menjadi inspirasi dan imajinasi bagi cerita tentang celeng ini.”

Daripada narasi tetumbuhan, kebinatangan memang lebih kuat melekat pada diri manusia. Di novel ini celeng berkisar di antara politik berdampak pada urusan publik sekaligus pergolakan psikologis yang lebih berkelindan pada diri. Agar tidak begitu lekas pada jagat politik, Sindhunata membabarkan pergolakan ini dari kesadaran sang perupa yang berani mengakui (ke)celeng(an) dalam diri.

Celeng yang berkelana ke luar dari otoritas kuasnya, tetap menujukkan keterhubungan pasti. ”Celengku salah kedaden ketika ia adalah kejahatan yang kubiarkan sendiri, terlepas dari kebaikan dalam diriku. Celengku takkan salah kedaden jika ia kujadikan bagian dari diriku, kurengkuh dalam kebaikanku. Tapi, itu berarti aku pun harus berani menerima diriku sebagai celeng” (hal. 119).

Sindhunata menalikan celeng dengan latar pemerintahan Orde Baru meski tidak gamblang disebutkan. Inilah masa yang memenjarakan Djoko Pekik selama tujuh tahun. Menjadikan dia berstatus eks tahanan politik (tapol), bercap kiri, dimusuhi sesama seniman, dan menjelmakan ketakutan bagi tetangga sekitar (Baskara T. Wardaya.ed, 2011).

Celeng yang dilukis si perupa memang tidak diniatkan sebagai kritik politik dan sosial yang diperlambangkan celeng pada zaman celeng. Kita bisa memaknai pada peristiwa pembukaan pameran yang secara simbolis menunjukkan celeng dalam rupa celeng-celengan sekalipun menjadi tanda meresahkan. Diceritakan bahwa seorang penguasa tradisional didaulat menjadi pembuka acara dengan cara mengepruk celeng-celengan.

Dengan mudah orang menangkap celeng yang tertangkap itu sebagai simbol penguasa yang baru saja tumbang. Tapi,tumbangnya penguasa itu tidak berarti pudarnya kekuasaannya. Kekuasaannya masih meninggalkan bekas, malahan jauh lebih kuat daripada yang diperkirakan orang. Andaikata si penguasa tradisional jadi mengepruk celeng-celengan itu, sementara kekuasaan yang disimbolkan oleh celeng itu masih sentosa, bagaimana ia bisa menyembunyikan mukanya?

Perangkat Seremonial

Celeng-celengan dikepruk, sementara celengnya yang sungguhan masih berjaya dan hidup, tidakkah pertentangan itu sebaiknya tidak terjadi? Persoalan jadi lebih runyam, mengingat masa jayanya penguasa yang kekuasaannya bisa disimbolkan dengan celeng itu tidak terlalu suka terhadap penguasa tradisional tadi. Maka masuk akal, jika akhirnya penguasa tradisional itu tidak jadi mengepruk celeng-celengan (hal. 49-50).

Celeng dalam rupa celeng-celengan tidak hanya dianggap perangkat seremonial. Upaya kultural menempatkan kasak-kusuk di tengah santai menikmati pameran sebagai cara masyarakat memprediksi sekaligus mewaspadai apa yang akan terjadi. Dalam hal yang sangat seremonial atau ritual, masyarakat memiliki harapan terselubung pada hidup selamet dari hal-hal durjana.

Kuntowijoyo pernah menggarap fabel-fabel politik yang dihimpun dalam buku Mengusir Matahari: Fabel-fabel Politik (2010) yang diterbitkan oleh Tiara Wacana. Fabel ini kali pertama terbit pada 1999 diterbitkan oleh Pustaka Hidayah. Buku berisi kebijakan dan sindiran politik. Alegori “mengusir matahari” bahkan sengaja diartikan Kuntowijoyo sebagai ”menumbangkan Orde Baru yang ’membakar hutan’ selama 32 tahun.”

Para binatang memang sengaja merayakan keangkuhan Orde Baru, nepotisme, hari-hari terakhir Orde Baru, aksi mahasiswa, pemerintahan Habibie, sampai reaksi atas gelombang reformasi. Dengan semata-mata terlihat sebagai dongeng, fabel-fabel justru lebih bisa diterima dan setiap pembaca berotoritas menafsirkan.

Kritik bagi dunia elite politik yang semula cenderung berdosa untuk dilancarkan, melenggang dalam wadah alegoris. Politik menjadi wilayah manusia menunjukkan naluri kebinatangan yang cenderung buas, rakus kuasa, mencegah yang baik berperan. Tentu manusia politik tidak benar-benar ingin dipersamakan dengan binatang meski binatang masih begitu kuat mewakili; tikus, celeng, jago, ular, cicak, buaya, kampret, bahkan kecebong.

Binatang-binatang memiliki sifat dan sikap lebih tidak terbatas dibandingkan kata-kata untuk menyifatkan manusia yang sering dirasakan kurang hiperbolis. Sindhunata dengan berani justru menegasikan kegagalan peran penguasa tradisional lewat kehadiran perempuan kurang waras. Perempuan itu stres, dianggap gila, dan labil.

”Tiba-tiba sambil merokok, ia berjalan mendekati celeng-celengan di depan pintu. Beberapa hadirin menanti, apa yang hendak dilakukannya. Tampak ia berjinjit, lalu menjengukkan kepalanya ke perut celeng-celengan, kemudian menghembusi perut celeng itu dengan asap rokoknya. Tak lama kemudian, wanita itu menggilas-gilaskan rokoknya ke dalam perut celeng […] Cuh, cuh, cuh, tiga kali ia meludahi celeng itu. Wanita itu tampak puas, lalu pergi ke kawan-kawannya.”

Dengan sosok perempuan, pengungkapan emosi ini sungguh sangat berani. Niels Mulder (1984) membabarkan bahwa dalam adab keseharian orang Jawa, emosi-emosi pribadi biasanya disampaikan dengan kalem dan terkendali agar tidak terjadi kekeributan sosial.

Orang Jawa tetap butuh menyampaikan emosi pribadi, tapi secara individual diharapkan mengendalikan emosi dengan cara halus. Emosi yang terlalu diperlihatkan bisa memunculkan rasa malu. Tindakan perempuan di pameran memang seperti tidak selaras dengan irama kultur Jawa. Ada perlawanan pada tatanan politik yang cenderung dominan menghalalkan pelbagai cara. Perempuan itu berhak bertindak mengagetkan tanpa perlu memiliki pangkat, kedudukan setara, atau bahkan konsensus bersama dirinya waras.

Adab Agraris

Meski celeng yang keluar dari kanvas si perupa telah menciptakan kisruh, Sindhunata tetap menambah intensitas kekisruhan dengan menciptakan istilah yang lebih sangar: celeng siluman.

Celeng siluman meresahkan dunia manusia karena muncul di mana-mana, sejenak saja ia memperlihatkan diri kepada warga, lalu menghilang kembali. Ia bisa muncul di jalan, bisa memperlihatkan diri di rumah, bahkan bisa tiba-tiba nongol di malam hari, setelah orang-orang selesai mengadakan rembug desa. Muncul, menghilang, muncul, menghilang. Demikian kelakuan celeng siluman.

Sindhunata perlu mendapat konfirmasi pada memori bersama keseharian orang-orang (Indonesia) yang tidak bisa dilepaskan dari hal-hal gaib dan horor, seperti hantu, setan, memedi, siluman. Celeng, celeng-celengan, atau celeng jadi-jadian dirasa belum cukup mewakili himpunan ketakutan yang tengah melanda zaman.

Celeng siluman dipentaskan dalam kelucuan ketoprak panggung. Dalang ketoprak menciptakan desa fiktif bernama Desa Ngalengkadiraja yang sebenarnya merepresentasikan bentuk kenegaraan modern (Indonesia). Desa yang sebenarnya subur gemah ripah loh jinawi ini dirongrong anggota parlemen yang korup.

Di sini, Sindhunata dalam jelmaan dalang, memunculkan lagi istilah bercorak optimisme untuk melawan. ”Maka bangkitlah para muda yang gagah. Mereka sehati sejiwa, menyingsingkan lengan baju, mengerahkan kekuatan, … memburu Lurah Celeng Dhegleng, dengan membawa pusaka Kanjeng Kiai Reformasi” (hal. 96).

Lurah dan Kanjeng Kiai yang mencirikan kesakralan wibawa tradisional masih dibutuhkan untuk mewakili politik mutakhir. ”Hama celeng” yang mewabah ternyata sudah dialihkan dari sawah dan petani. Hama sangat bertaut dengan adab agraris. Dalam kenyataan, kota memang semakin tidak memiliki sawah.

Kota memiliki birokrat dengan lahan-lahan pemerintahan yang sepertinya tidak ada istilah lain lebih mempan untuk menyerang selain hama. ”Hama celeng benar-benar sudah mewabah. Di sebuah kota, wali kotanya tertangkap karena korupsi. Lalu menyusul wakil-wakil rakyatnya. Tidak hanya satu dua. Tapi, dari seluruh lembaga perwakilan rakyat itu, hanya empat tersisa, yang tidak ikut diadili karena korupsi. Gedung Perwakilan Rakyat jadi tanpa penghuni” (hal.163).

Hama menggagalkan panen, menggagalkan peran wakil rakyat sebagai pemikir bagi kemakmuran rakyat. Betapa celeng sangat lekat menyimbolkan kerakusan kekuasaan, kekuatan elite, dan bahkan perlambang kubu dalam hierarki politik modern. Kemaruk dalam hal politik sama artinya ngepet, terutama demi keinginan materialistis, dalam ritual mistik tradisional.

Pembelokan Perspektif

Keduanya sama-sama menyusu pada celeng yang telah dititipi sifat jahat, bernafsu, kejam, serakah. Sindhunata sempat membela celeng bagi ras rakyat. ”Air mata celeng” diumpamakan ”air mata kesembuhan bagi para maling yang terpaksa mencuri karena miskin.”

Entah terjadi semacam dekonstruksi arti atau sekadar pembelokan perspektif, celeng teranggap tidak selalu antagonistis karena ”ia bisa memberikan kebaikan bagi mereka yang membutuhkan. Lebih-lebih mereka yang menderita dan miskin.” Baik dan buruk tidak pernah tetap.

Posisi rakyat yang cenderung menjadi korban para elite celeng memang sangat ”dibela” oleh Sindhunata. Justru dalam pribadi perupa yang lahir dari rakyat sekaligus memiliki naluri (manusiawi) borjuis, istilah celeng feodal, celeng serakah, dan celeng bulus yang berhak disematkan kepada celeng, berbalik menyerang diri.

”Memang, tak segan-segan ia mengakui, sejak muda ia bermimpi jadi priayi. Dengan harta yang kini ia punya, kini ia bisa berlagak bagaikan priayi. Pada hari-hari tertentu, ia mendatangkan sekelompok orang untuk membunyikan gamelannya, dan ia menikmatinya layaknya seorang seorang priaayi. […] Si pelukis itu merasa dirinya pejuang rakyat”.

”Justru karena perjuangannya itu nasibnya pernah terlunta-lunta sampai akhirnya dikurung di penjara. Tapi, di lain pihak, ia juga tidak mengingkari, bahwa ia hidup enak dengan gaya borjuis. Sekarang pun tampak hidupnya seakan sudah jauh dari rakyat. Ya, ia pun teringat, waktu belajar dulu, ia meneriakkan pekik perjuangan yang anti-orang kaya, membela mereka yang miskin.”

Namun, semakin beneran atau jadi-jadian Sindhunata menggembala cerita celeng menjadi buruk atau baik tetap tidak memiliki definisi pasti. Bahwa menjadi rakyat atau pejabat, perupa atau bukan perupa, laki-laki atau perempuan, Menyusu Celeng ingin membabarkan sampai ke yang binatang pada setiap kita.

Celeng bisa menjadi alegori yang begitu lekat meski tanpa disadari atau celeng itu pas didudukkan dalam singgasana politik yang selalu hitam kotor berlumpur. Tentu, sekali lagi, manusia tidak benar-benar ingin diibaratkan apalagi dipersamakan dengan binatang, apalagi celeng.

Mereka jelas bisa membedakan diri dari binatang karena bahkan kitab suci sekalipun melegitimasi manusia sebagai yang tercipta sempurna. Manusia meletakkan diri sebagai yang bukan binatang. Manusia tetap manusia sekalipun memiliki kecelengan diri yang mungkin lebih politis, rakus, dan buas.