Paradigma Baru Seleksi Calon Mahasiswa PTN

Dona Budi Kharisma - Istimewa
01 April 2019 10:00 WIB Dona Budi Kharisma Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Jumat (29/3/2019). Esai ini karya Dona Budi Kharisma, dosen dan anggota tim pendiri program vokasi D4 Studi Demografi Pencatatan Sipil di Fakultas Hukum Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah donabudikharisma@gmail.com.

Solopos.com, SOLO -- Hari Jumat tanggal 22 Maret 2019 lalu adalah hari yang ditunggu calon mahasiswa baru peserta Seleksi Nasional Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SNMPTN) 2019. Pada tanggal tersebut adalah hari pengumuman resmi calon mahasiswa yang lolos SNMPTN.

Ketua Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi (LTMPT), Ravik Karsidi, menyatakan ada 92.331 orang yang lulus seleksi SNMPTN 2019 pada 85 perguruan tinggi negeri se-Indonesia (Solopos, 23 Maret 2019). Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, saat ini penerimaan mahasiswa baru melalui jalur SNMPTN dan Seleksi Bersama Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) diselenggarakan oleh LTMPT.

Barangkali muncul pertanyaan apa itu LTMPT? Apa fungsi dan tujuan LTMPT dalam dunia pendidikan Indonesia saat ini? LTMPT merupakan terobosan baru pemerintah dalam seleksi masuk perguruan tinggi negeri (PTN) yang mulai diterapkan pada 2019. Sebelumnya, proses seleksi calon mahasiswa baru PTN diselenggarakan oleh panitia SNMPTN yang bersifat sementara (ad hoc) dengan menggunakan skema ujian tulis.

LTMPT yang diresmikan oleh Menteri Risek Teknologi dan Pendidikan Tinggi Mohammad Nasir pada 4 Januari 2019 merupakan amanat Pasal 11 ayat (1) Peraturan Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi No. 60/2018 tentang Penerimaan Mahasiswa Baru Program Sarjana pada Perguruan Tinggi Negeri.

Pasal 11 ayat (1) peraturan menteri tersebut menyatakan penyelenggaraan penerimaan mahasiswa baru jalur SNMPTN dan SBMPTN dilaksanakan oleh Lembaga Tes Masuk Perguruan Tinggi. Dalam Pasal 12 ayat (2) peraturan menteri tersebut dinyatakan beberapa fungsi penting LTMPT.

Pertama, mengembangkan dan melaksanakan ujian tulis berbasis komputer (UTBK). Kedua, memfasilitasi penerimaan mahasiswa baru melalui jalur SNMPTN dan SBMPTN. Ketiga, melaksanakan penjaminan mutu penyelenggaraan SNMPTN, UTBK, SBMPTN, dan beberapa fungsi yang lain.

Salah satu alasan yang melatarbelakangi pembentukan LTMPT adalah untuk meningkatkan kualitas proses seleksi calon mahasiswa baru PTN dan pentingnya lembaga permanen serta berkelanjuttan yang dapat menyelenggarakan tes seleksi calon mahasiswa baru yang terstandar secara nasional.

Tes seleksi yang diselenggarakan LTMPT diharapkan mampu memprediksi potensi dan kompetensi calon mahasiswa yang akan melanjutkan di program studi tertentu untuk bisa menyelesaikan proses belajar di perguruan tinggi.

Terobosan pemerintah untuk meningkatkan kualitas mahasiswa melalui proses seleksi yang diadakan oleh LTMPT patut kita apresiasi. Bagaimanapun juga proses seleksi calon mahasiswa dengan soal yang terstandar nasional adalah upaya untuk menjaring calon mahasiswa baru yang berkualitas, memiliki potensi, dan kompeten.

Keberhasilan Studi

Artinya LTMPT membantu PTN mendapatkan calon mahasiswa baru yang diperkirakan meraih keberhasilan studi di perguruan tinggi. LTMPT sebagai lembaga permanen dalam  melaksanakan seleksi akademis dan memfasilitasi penerimaan mahasiswa baru melalui jalur SNMPTN dan SBMPTN diharapkan dapat menepis isu negatif ihwal praktik penerimaan mahasiswa baru dengan tujuan komersial.

Maraknya isu ”jalur belakang” dalam penerimaan mahasiswa baru di PTN dapat diminimalisasi dengan LTMPT yang berada di bawah dan bertanggung jawab langsung kepada menteri. Untuk jalur SBMPTN, LTMPT melaksanakan seleksi akademis dengan metode UTBK yang terdiri atas tes potensi skolastik (TPS) dan tes kompetensi akademis (TKA).

Metode UTBK yang bersifat paperless saat ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya yang menggunakan metode ujian tertulis. Metode UTBK adalah untuk menjawab perkembangan teknologi informasi, teknologi siber, era digitalisasi, serta tuntutan masyarakat terhadap output pendidikan tinggi yang kompeten.

Melalui LTMPT seleksi akademis juga dapat diselenggarakan dengan fleksibel, berkualitas, dan efektif. Pada jalur SBMPTN dengan metode UTBK, setiap peserta diberi kesempatan hingga dua kali mengikuti tes. Sistem ini menguntungkan calon mahasiswa baru karena dapat memilih hasil tes yang paling tinggi untuk mendaftar ke PTN melalui jalur SBMPTN.

Seleksi akademis melalui LTMPT juga salah salah satu upaya untuk menyakinkan masyarakat bahwa proses seleksi mahasiswa baru diselenggarakan secara akuntabel dan transparan. Berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya ketika peserta seleksi tidak mengetahui dan tidak dapat mengakses nilai hasil ujian SBMPTN.

Dengan metode UTBK, setiap peserta seleksi akademis mendapatkan hasil tes secara transparan 10 hari setelah pelaksanaan UTBK. LTMPT adalah harapan baru untuk meningkatkan kualitas pendidikan tinggi di Indonesia dengan tujuan menyelenggarakan seleksi akademis calon mahasiswa baru di perguruan tinggi yang kredibel, transparan, fleksibel, efisien, dan akuntabel diharapkan dapat membantu perguruan tinggi memperoleh calon mahasiswa yang berkualitas.

Siapa pun yang terlibat dalam dunia pendidikan memiliki beberapa pertanyaan ihwal LTMPT sebagai lembaga baru dalam sistem pendidikan kita saat ini. Salah satu pertanyaan besarnya adalah mampukah LTMPT menciptakan proses seleksi akademis yang adil? Pertanyaan tersebut muncul karena ada beberapa hal yang perlu diperhatikan dalam sistem baru ini.

Pertama, belum ada informasi mengenai standar nilai di tiap-tiap PTN. Melalui LTMPT proses seleksi mahasiswa baru memang lebih kompetitif dan transparan. Setiap calon mahasiswa akan bersaing dan berusaha mencapai standar nilai untuk diterima di PTN sesuai dengan program studi yang menjadi target mereka.

Standar Nilai

Sayangnya, masing-masing PTN belum memberikan informasi mengenai standar nilai untuk setiap program studi. Hal tersebut juga dapat berdampak pada program studi yang jarang peminatnya justru semakin banyak yang memilih karena calon mahasiswa takut mengambil risiko mengambil jurusan yang banyak peminatnya.

Akibatnya, semangat pembentukan LTMPT untuk memperoleh calon mahasiswa yang memiliki potensi dan kompetensi dan minat sesuai dengan program studi akan sulit terwujud. Kedua, metode UTBK yang terdiri atas TPS dan TKA juga kurang mengakomodasi kompetensi siswa SMK. Calon mahasiswa baru yang mengenyam pendidikan SMK lebih fokus pada keahlian dan praktik dibanding teori.

Siswa SMK tidak belajar soal-soal yang diujikan sebanyak siswa SMA. Secara teori, kompetensi mereka masih kurang dibandingkan siswa SMA. Artinya, sistem ini kurang mengakomodasi kompetensi siswa SMK dalam seleksi mahasiswa baru. Menyikapi hal tersebut, ada tantangan ke depan yang perlu dilakukan LTMPT.

Pertama, LTMPT harus berkoordinasi dengan semua perguruan tinggi negeri untuk memberikan standar nilai kelulusan minimal di setiap program studi. Semangat transparansi dan akuntabilitas yang diusung LTMPT harus didukung oleh semua perguruan tinggi negeri. Kondisi tersebut dapat menjadi acuan bagi calon mahasiswa baru untuk berkompetisi meraih nilai minimal agar diterima di program studi yang mereka inginkan.

Kedua, perlu pergeseran paradigma untuk menentukan kriteria lulus seleksi calon mahasiswa baru. Saat ini paradigma yang digunakan untuk menentukan kelulusan adalah calon mahasiswa baru yang memiliki nilai TPS dan TKA tinggi dengan menggunakan soal yang berstandar nasional.

Sistem tersebut memiliki kelemahan karena tidak semua sekolah memiliki infrastruktur pendidikan yang sama. Artinya, tidak semua sekolah memiliki kualitas belajar mengajar yang sama. Oleh karena itu, diperlukan mekanisme seleksi dengan paradigma kompetensi minat dan bakat.

Layaknya tes psikologi dalam penerimaan karyawan, tes tersebut diperlukan untuk menentukan kecocokan dan kesesuaian minat dan bakat calon karyawan dengan lowongan yang dibuka. Sama halnya dengan seleksi mahasiswa baru, tes psikologi diperlukan untuk menentukan minat dan bakat serta program studi yang tepat sesuai dengan minat dan bakat calon mahasiswa baru.

Ketiga, untuk menjamin proses seleksi calon mahasiswa baru yang akuntabel dan transparan perlu keterlibatan unsur masyarakat sebagai unsur pengawas dalam LTMPT. Hal tersebut penting untuk mencegah dan meminimalisasi potensi terjadinya moral hazard unsur pelaksana dalam LTMPT sebagai lembaga penyelenggara seleksi akademis.

Walaupun masih ada beberapa hal yang perlu dibenahi, LTMPT adalah langkah nyata pemerintah saat ini untuk membenahi secara signifikan dan meningkatkan kualitas pendidikan tinggi di Indonesia yang harus kita dukung.

Seleksi mahasiswa baru yang transparan, fleksibel, efisien, efektif, akuntabel, dan paperless untuk menyiapkan anak-anak bangsa yang berkualitas dan dapat menjadi lokomotif proses pembangunan bangsa. LTMPT diharapkan menjadi pintu gerbang untuk mewujudkan harapan tersebut.