Pembelajaran dari Jacinda Ardern

Gutomo Bayu Aji - Istimewa
30 Maret 2019 08:30 WIB Gutomo Bayu Aji Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (26/3/2019). Esai ini karya Gutomo Bayu Aji, peneliti di Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI). Alamat e-mail penulis adalah gutomoaji@yahoo.com.

Solopos.com, SOLO -- Perdana Menteri Selandia Baru, Jacinda Kate Laurell Ardern, memperlihatkan kualitas kemanusiaan sekaligus pemimpin negara kepada dunia setelah tragedi Cristchurch yang sangat memilukan beberapa waktu lalu.

Dalam waktu tujuh hari, perempuan perdana menteri yang berusia 39 tahun itu bukan hanya menunjukkan rasa kemanusian di atas duka yang sangat mendalam, simpati, serta pengormatan yang layak kepada umat muslim, melainkan juga membuat perubahan kebijakan yang signifikan di negaranya terkait tragedi itu.

Ia adalah seorang nonmuslim sebagaimana bisa dilihat dalam buku yang berjudul The Politics of life: The Truth About Jacinda Ardent (Knight, 2017). Sebagai seorang agnostik, semua yang telah dia lakukan itu seperti merekatkan perbedaan dan ketegangan antarkelompok agama, ideologi, serta ras di negaranya dan di berbagai belahan dunia di dalam suatu perasaan yang sama, yaitu sebagai manusia yang setara atau sederajat.

Ia sebagaimana ditampilkan oleh banyak media internasional, memeluk dengan hangat seorang perempuan yang diidentikkan sebagai muslimat, mengenakan kerudung hitam untuk menunjukkan simbol duka, simpati serta penghormatan yang mendalam, berpidato secara resmi mengecam penembakan brutal yang membabi buta yang menewaskan 50 orang itu, membuat kebijakan baru yang menyiarkan azan, mengucapkan salam secara Islam dalam pembukaan pidato, mengutip hadis Nabi Muhammad SAW, serta melarang kepemilikan senjata api oleh warga sipil.

Di negaranya itu kualitas kemanusiaan seorang perdana menteri ini telah menggerakan rasa simpati warga Selandia Baru secara luas. Hal ini antara lain terlihat pada sejumlah siswa sekolah di negara itu yang melakukan tarian sakral Maori untuk menghormati arwah yang meninggal, sejumlah perempuan Barat di Selandia Baru yang mengenakan kerudung untuk mengekspresikan perasaan yang sama, sejumlah warga yang ikut menjaga keamanan di masjid-masjid saat Salat Jumat sempekan setelah kejadian, dan penyerahan secara sukarela senjata api oleh warga kepada pihak berwenang.

Oase di Dunia yang Penuh Ketegangan

Kualitas kemanusiaan Ardern yang seperti oase di dunia yang diliputi ketegangan sekarang ini seketika mewarnai jagat pemberitaan internasional. Ia mulai diusulkan sebagai sosok yang pantas menerima hadiah nobel perdamaian.

Selain itu, untuk menunjukkan rasa terima kasih terhadap kebijakannya itu, pengelola Dubai’s Burj Khalifa, gedung tertinggi di dunia yang berlokasi di jantung perekonomian jazirah Arab, menyinari seluruh bangunan raksasa itu pada malam hari dengan foto Ardern yang sedang memeluk seorang muslimat dengan pesan kuat perdamaian.

Kekuatan kemanusian yang keluar dari pidatonya yang tulus seperti memecah ketegangan ideologis di antara kelompok-kelompok ekstrem kanan yang kini sedang mengoyak kehidupan beragama dan berpolitik di dunia, baik yang berkembang di kawasan Timur Tengah sebagai kelompok-kelompok Islam radikal ekstrem maupun di Barat yang muncul sebagai fenomena populisme sebagaimana yang dilekatkan pada sosok Donald Trump, presiden Amerika Serikat, yang kemudian menjalar ke beberapa pemimpin dunia belakangan ini.

Ardern telah memberikan pembelajaran yang sangat berharga bagi dunia, termasuk Indonesia. Pembelajaran itu setidaknya bisa ditarik ke dalam dua hal berikut ini. Pertama, mengedepankan kemanusiaan terhadap tragedi yang menimpa negaranya dengan merekatkan batas-batas perbedaan agama, ideologi, dan ras.

Kedua, memperlihatkan kualitas seorang pemimpin negara dengan membuat langkah-langkah dan kebijakan secara cepat untuk menghadapi trauma terhadap tragedi itu.         Bagi dunia, pembelajaran itu seperti telah mengetuk hati para pemimpin negara yang wilayahnya sedang dilanda konflik agama, ideology, dan ras; antara lain etnis Rohingya di Myanmar, Uighur di Tiongkok, Irak, Suriah, Yaman, serta Somalia.

Pembelajaran itu seperti sedang mengetuk hati para pemimpin ekonomi dan politik dunia yang kini malah dijangkiti fenomena populisme yang memancing politik anti-imigran serta anti-Islam. Khususnya bagi Indonesia, pembelajaran itu sungguh berharga.

Patut Dicontoh

Kualitas kemanusiaan dan langkah-langkah kebijakan yang dilakukan Ardern untuk menghadapi trauma atas suatu tragedi patut dicontoh para pemimpin Indonesia. Sebagaimana sejarah politik dan agama di Indonesia, negara kita bukan hanya menghadapi trauma masa lalu yang berkepanjangan atas tragedi 1965, melainkan juga menghadapi efek politik dari trauma itu, antara lain terlihat pada munculnya kelompok-kelompok Islam radikal esktrem, Pan-Islamisme, dan populisme Islam belakangan ini.

Khususnya mengenai penanganan trauma terhadap masa lalu, pemerintah Indonesia berlarut-larut dalam menuntaskan masalah ini dari masa ke masa. Beberapa ganjalan yang sulit diatasi antara lain kontroversi sejarah tragedi 1965, penggunaan dalih atas tragedi itu untuk kepentingan elite, pemeliharaan ancaman komunisme yang diindoktrinasikan melalui berbagai institusi yang luas, serta persepsi, wawasan, dan pengetahuan sebagian besar warga Indonesia terhadap perubahan ideologi dunia.

Belajar dari Ardern, penanganan trauma yang cepat bisa membuat bangsa melangkah maju. Hal ini antara lain juga telah ditunjukkan oleh pemerintah Jerman yang berhasil menuntaskan trauma terhadap tragedi kemanusiaan yang memalukan bangsa itu pada masa lalu.

Penanganan trauma masa lalu yang berlarut-larut, bahkan hingga lebih dari setengah abad, bukan hanya menjadikan trauma itu sebagai komoditas politik namun juga menjadikan perjalanan bangsa ini seolah-olah seperti terhenti pada saat tragedi itu terjadi.

Bagi pemerintah Indonesia sekarang atau yang akan terpilih setelah pemilihan umum 2019, menyelesaikan trauma masa lalu seharusnya menjadi agenda prioritas yang paling mendasar dalam rencana pembangunan yang akan datang.

Sebagaimana pembelajaran berharga yang bisa ditarik dari Ardern, menangani masalah secara sungguh-sungguh dan dengan kebijakan yang tepat akan menjadikan suatu negara melangkah ke depan lebih cepat.