Isu Cap Jempol, Dahnil Anzar Pertanyakan Sikap KPK Tolak Buka Amplop Bowo

Penyidik didampingi Wakil Ketua KPK Basaria Panjaitan menunjukkan barang bukti hasil OTT yang menjerat anggota DPR Fraksi Golkar Bowo Sidik Pangarso, di Gedung KPK Merah Putih, Jakarta, Kamis (28/3 - 2019). (Antara/Reno Esnir)
29 Maret 2019 19:45 WIB Adib Muttaqin Asfar, Newswire Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA -- Koordinator Juru Bicara Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Dahnil Anzar Simanjuntak, mempertanyakan sikap KPK yang tak mau membuka barang bukti amplop berisi uang dalam kasus suap Bowo Sidik Pangarso. Politikus Partai Golkar itu diduga menerima suap untuk mempersiapkan serangan fajar di Pemilu 2019.

Dahnil mengaku mengapresiasi operasi tangkap tangan (OTT) terhadap politikus Partai Golkar yang juga menjadi caleg DPR Dapil Jateng 2 tersebut. Namun, dia mempertanyakan sikap Wakil Ketua KPK Basaria Panjaitan yang tidak membuka amplop berisi uang pecahan Rp20.000 dan Rp50.000 itu.

"Saya apresiasi OTT terhdp politisi Golkar, tapi bu Basaria @KPK_RI kenapa tdk dibuka dan tunjukkan 400 ribu amplop-amplop yg berisi uang 20 ribuan dan 50 ribuan yg diduga ada cap jempolnya itu?" kicau Dahnil di akun Twitter @dahnilanzar, Jumat (29/3/2019).

Pada saat konferensi pers pengumuman Bowo sebagai tersangka, sempat muncul isu liar adanya "cap jempol" pada amplop-amplop itu. Namun hal itu dibantah oleh Basaria. Ketika wartawan meminta amplop itu dibuka, Kabiro Humas KPK Febri Diansyah yang mendampingi Basaria langsung memberikan penjelasan.

"Gini teman-teman. Yang perlu dipahami, ada prosedur-prosedur dan hukum acara yang berlaku kalau barang bukti itu diubah kondisinya. Amplop yang diperlihatkan tadi berada dalam keadaan ditutup dengan lem. Jadi kalau dibuka tertentu sampai dibuat berita acara dan hal-hal lain yang tentu saja tidak mungkin bisa dilakukan langsung di ruangan ini," ucap Febri dalam konferensi pers yang digelar pada Kamis (28/3/2019) malam dilansir Detik.com.

Padahal sebelumnya Basaria menyebutkan amplop itu berisi pecahan uang Rp20.000 dan Rp50.000. Dia mengatakan itu dari amplop yang sudah dibuka sebelumnya. Hal inilah yang mengundang pertanyaan.

Dalam jumpa pers itu, KPK menjelaskan ke-84 kardus yang berisi sekitar 400.000 amplop uang itu diduga dipersiapkan oleh anggota DPR dari Fraksi Partai Golkar tersebut untuk serangan fajar pada Pemilu 2019. Uang itu diduga terkait pencalonan Bowo sebagai anggota DPR di Daerah Pemilihan Jawa Tengah II yang meliputi Kudus, Jepara, dan Demak.

"Bahkan ada salah satu media online yg awalnya menulis diduga untuk Pilpres, KPK tak membuka amplop kemudian dirubah menjadi diduga untuk serangan fajar :-) hehehe," lanjut Dahnil.

Dahnil menambahkan sikap KPK yang tidak membuka barang bukti tidak seperti biasanya. "Ngeles KPK saat konpres tdk bersedia membuka kardus, terkesan lucu. Selama ini kardus, amplop dibuka saja dan ditunjukkan kpd pers. Kenapa kali ini tidak? Hehehe."

Kolom 14 hours ago

Spekulasi