Soal 84 Kardus Isi Uang, Golkar: Bowo Sidik Tak Perlu Serangan Fajar

Anggota DPR Fraksi Golkar Bowo Sidik Pangarso (tengah) dibawa ke mobil tahanan usai menjalani pemeriksaan di Gedung KPK, Jakarta, Kamis (28/3 - 2019). (Antara/Reno Esnir)
29 Maret 2019 18:00 WIB John Andhi Oktaveri Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA — Ketua DPP Partai Golkar Ace Hasan Syadzily membantah bahwa ratusan ribuan amplop yang disita oleh KPK dalam kasus dugaan suap politikus Partai Golkar, Bowo Sidik Pangarso, bertujuan untuk pemenangan paslon Jokowi-Maruf di Jawa Tengah.

"Saya kira tidak. Tidak ada hubungannya sama sekali karena dia bukan TKN," kata Ace kepada wartawan, Jumat (29/3/2019).

Dia bahkan merasa kaget kader partai pendukung capres petahana itu telah menyiapkan uang untuk kepentingan maju kembali sebagai anggota DPR periode 2019-2024.

Menurutnya, kalau benar uang itu digunakan untuk serangan fajar, atau istilah suap bagi pemilih beberapa jam menjelang pemilu, maka cara itu tak perlu dilakukan. Pasalnya, suara Golkar di Jawa Tengah cukup besar.

“Karena itu kami sangat kaget ketika Pak Bowo melakukan dugaan rencana untuk melakukan money politic," katanya.

Partai Golkar, kata Wakil Komisi VIII DPR itu, tidak pernah memberikan instruksi kepada semua kader yang nyaleg untuk melakukan serangan fajar di daerah pemilihannya.

"Itu sebetulnya baru dugaan dari KPK bahwa uang tersebut akan dipergunakan untuk kepentingan serangan fajar. Karena itu kita serahkan saja kepada KPK untuk dibawa dalam konteks ranah peradilan," katanya.

Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menemukan kardus-kardus berisi uang milik Bowo di sebuah perusahaan, yakni PT Inersia yang berlokasi di Jl Salihara, Pasar Minggu, Jakarta Selatan.

Uang itu dikemas dalam 84 kardus berisikan uang dugaan suap senilai Rp8 miliar. Uang dalam bentuk pecahan Rp50.000 dan Rp20.000 tersebut disebar dalam 400.000 amplop putih.

Sumber : Bisnis/JIBI

Kolom 5 hours ago

Spekulasi