Pengakuan Korban Kasus Bahar bin Smith: Muka Didengkul, Kepala Jadi Asbak

Saksi kasus penganiayaan Bahar Bin Smith Muhammad Khoerul Aumam Al Mudzaqi memasuki ruang persidangan, Kamis (28/3 - 2019). (Bisnis/Dea Andriyawan)
28 Maret 2019 21:30 WIB Dea Andriyawan Nasional Share :

Solopos.com, BANDUNGCahya Abdul Jabar, salah satu dari dua korban penganiayaan yang dilakukan oleh Bahar bin Smith menjelaskan kronologi penganiayaan yang menimpa dirinya. Selain dipaksa berduel dengan rekannya, Muhammad Khoerul Aumam Al Mudzaqi, dirinya juga mengaku didengkul dan dipukul oleh Bahar hingga berdarah-darah.

Sebelumnya, Cahya Abdul Jabar dijemput di rumahnya oleh anak Basith Iskandar dan Agil Yahya--yang juga terdakwa--menuju Pondok Pesantren Tajul Alawiyyin.

Penjemputan tersebut dilakukan lantaran Bahar bin Smith mengetahui Cahya Abdul Jabar bersama rekannya Muhammad Khoerul Aumam Al Mudzaqi mengaku sebagai Bahar bin Smith di Bali.

Sebenarnya, Cahya Abdul Jabar didampingi ayahnya yang dia sebut Abah. Namun, sesampainya di ponpes, ayah Cahya Abdul Jabar diminta menunggu di tempat yang berbeda oleh Bahar bin Smith.

Lalu, Cahya lantas diinterogasi di sebuah aula kecil oleh Bahar. Cahya ditanya perihal peristiwa di Bali oleh Bahar dan anak buahnya.

“Saat tiba, Zaki [Muhammad Khoerul Aumam Al Mudzaqi] sudah ada?” tanya hakim ketua, Edison Muhammad, dalam persidangan yang digelar di Gedung Arsip dan Perpustakaan Kota Bandung, Kamis (28/3/2019).

“Belum ada,” jawab Cahya.

Setelah itu, Cahya mengaku dirinya kemudian dibawa oleh Bahar bin Smith ke sebuah lapangan di belakang aula kecil tersebut. "Dari situ, saya diajak ke lapangan sama Habib Bahar, diajak duel sama beliau. Saya enggak mau, akhirnya terjadi [peristiwa penganiayaan itu]," ucap jelas Cahya.

Cahya mengaku enggan berduel dengan Bahar, lantas Bahar melayangkan tiga kali dengkulan ke arah mukanya. "Santri lain ada?" tanya Edison.

"Ada, cuma memvideokan saja," kata Cahya.

Setelah itu, ia mengaku kembali dibawa ke aula kecil semula. Disitulah kemudian Zaki datang.

"Zaki diapakan?" tanya hakim. "Ditanya peristiwa Bali juga," kata Cahya.

Setelah itu, Bahar memerintahkan Zaki untuk naik ke lantai atas. Cahya mengaku tak tahu apa yang terjadi kepada Zaki. Dia hanya menunggu di lantai bawah. "Zaki lalu turun lagi," kata Cahya.

"Apa yang kamu lihat?" tanya hakim. "Wajahnya berdarah-darah," kata Cahya.

Setelah dipertemukan, Cahya dan Zaki lantas diajak ke lapangan belakang Ponpes. Di lapangan tersebut keduanya dipaksa berduel satu lawan satu.

"Siapa yang suruh?" tanya hakim. "Habib Bahar," jawab Cahya.

Cahya meneruskan, Bahar memaksa keduanya berduel untuk mengetahui siapa yang jujur dan berbohong. "Habis itu nggak ada yang mengakui katanya. Katanya saya dan Zaki enggak mengakui peristiwa di Bali," kata Cahya menambahkan.

Zaki dan Cahya kemudian saling pukul satu sama lain. Ia mengaku dipaksa oleh Bahar untuk berkelahi dengan diancam.

"Kalian kan kawan, kenapa mau diadu? Apakah diancam?" tanya hakim. "Di situ diancam oleh Habib Bahar kalau tidak berkelahi kita yang berkelahi [Bahar dan para korban]," jawab Cahya.

Seusai keduanya diadu, keduanya disuruh untuk membersihkan diri dan disediakan makanan untuk beristirahat. “Siapa yang nyuruh istirahat? Kamu kan gak nyangkul?” tanya Edison.

“Mungkin Habib Bahar melihat saya kecapaian udah berantem,” jelasnya.

Setelah itu, Bahar kemudian menggunduli Cahya dan Muhammad Khoerul Aumam Al Mudzaqi dengan menggunakan gunting. “Saya di penggundulan sama Habin Bahar,” jelasnya.

Bahkan, salah satu santri, kata Cahya, mematikan rokok di kepala keduanya. Hal itu terjadi setelah Cahya digunduli oleh seseorang yang diduga santri yang tidak diketahui namanya. “Kepalamu jadi asbak maksdunya?” tanya Edison.

“Iya,” sahut Cahya. Setelah kejadian, malam harinya lantas Cahya dijemput oleh ayahnya ke Ponpes dan mengaku diantar oleh Bahar hingga bertemu dengan ayahnya.

Sumber : Bisnis/JIBI