Eropa Boikot Sawit Indonesia, JK: Kita Bisa Balas Boikot Airbus

Joko Widodo (Jokowi) bersama Dewan Pengarah Jenggala Center Jusuf Kalla seusai Rapat Konsolidasi Nasional Jenggala Center di Jakarta, Minggu (3/2 - 2019). (Antara/Sigid Kurniawan)
27 Maret 2019 06:30 WIB Anggara Pernando Internasional Share :

Solopos.com, JAKARTA -- Indonesia dipastikan akan menerapkan retaliasi jika Uni Eropa  tetap berkeras memboikot minyak sawit dari Indonesia. Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) mengatakan Indonesia bisa saja menolak membeli produk Eropa seperti pesawat buatan Airbus.

JK menuturkan sawit merupakan komoditas yang penting bagi Indonesia. Sedikitnya terdapat 15 juta jiwa yang bekerja langsung maupun tidak langsung untuk memproduksi produk ini. Minyak sawit juga merupakan produk unggulan yang menopang ekspor Indonesia.

“Indonesia dan Eropa itu pasar yang besar. Nah kalau ini [minyak sawit] diboikot, tentu Indonesia juga dapat  menekan dengan kekuatan pasar juga. Dapat menerapkan retaliasi. Kalau memang tidak mau beli, maka kita juga bisa membuat retaliasi yang sama,” kata Jusuf Kalla di Istana Wakil Presiden, Selasa (26/3/2019).

Menurut JK, beberapa produk unggulan Eropa yang dapat dikenakan retaliasi seperti pesawat terbang dari Airbus hingga produk unggulan Eropa lainnya. “Kalau seperti tadi [produk sawit Indonesia ditolak], oke kita tidak beli Airbus lagi, itu juga hak kita. Kalau Uni Eropa memiliki hak membuat aturan, kita juga punya hak bikin aturan,” kata JK.

JK menyebutkan tegasnya pemerintah dalam persoalan sawit ini bukan semata persoalan bisnis oleh korporasi, produk sawit telah menjadi bisnis yang menyangkut hidup orang banyak.

“Pokoknya retaliasi, kita tidak mengatakan perang dagang, retaliasi saja. Artinya, kalau you larang 10, kita lawan 10 juga,” katanya.

Meski begitu, Jusuf Kalla menyebutkan Indonesia tidak menginginkan kondisi perdagangan yang memanas ini. Ia mengharapkan persoalan sawit ini dapat diselesaikan melalui meja perundingan ataupun lewat sistem perdagangan internasional.

“Kita sih tidak mau, tapi dibawa keterpaksaan. Kalau ekspor menurun, berarti devisa kita turun. Ya harapannya kita bisa selesaikan dengan negosiasi atau lewat WTO kalau memang terpaksa. Ya kita lewati dulu prosedur yang ada, tidak langsung main gebrak saja. kita semua kan anggota WTO. Jadi lewat itu,” katanya.

Sumber : Bisnis/JIBI