Kenapa Mendikbud Minta Kurikulum Agama Ditinjau Ulang?

Ilustrasi anak/anak belajar mengaji. (Reuters/Romeo Ranoco)
27 Maret 2019 13:23 WIB Newswire Nasional Share :

Solopos.com, YOGYAKARTA — Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Muhadjir Effendy menilai kurikulum agama perlu ditinjau ulang karena terlalu berorientasi pada pengetahuan.

"Kurikulum agama perlu ditinjau ulang karena selalu berorientasi pada pengetahuan. Isi pelajaran agama mengajarkan agama yang dianut anak itu paling benar, padahal ada anak lain yang beragama berbeda dan menganggap agamanya juga paling benar," ujar Mendikbud saat membuka program penguatan kapasitas auditor dan kepala sekolah bertema Meningkatkan Toleransi dan Multikulturalisme di Sekolah di Yogyakarta, Senin (25/3/2019) seperti dilansir Antara.

Multikulturalisme merupakan kekuatan dahsyat dalam merawat kebinekaan. Fondasinya adalah toleransi. Tanpa toleransi maka tidak akan ada semangat kebinekaan.

Pihaknya juga sudah bekerja sama dengan Kementerian Agama untuk menata kembali kurikulum pendidikan agama. Harapannya bisa meningkatkan toleransi di sekolah. "Sehingga bisa membangun semangat kebersamaan, toleransi, dan menjaga persatuan serta kesatuan."

Pendiri Ma'arif Institute, Buya Syafii Maarif, mengatakan intoleransi yang terjadi di ruang kelas disebabkan pemerintah kurang membendung hal itu pada masa lalu. "Sekarang sudah terlambat, tetapi kesadaran muncul. Tidak semata-mata dengan pendekatan keras, tetapi harus dilakukan dengan bahasa hati," kata Buya Syafii.

Buya Syafii mengatakan keberadaan kelompok radikal bukan hanya merusak bangsa, tetapi juga membunuh masa depannya sendiri. Dia meminta perlunya peninjauan kembali pelajaran agama, yang hanya memenuhi ranah kognitif atau pengetahuan.

"Pelajaran agama harus afektif , mengedepankan rasa dan etika. Selama ini agak kering karena hanya mengandalkan masalah otak," kata Buya Syafii.