BMKG Jelaskan Penyebab Suhu Udara Panas dan Hujan Lebat Disertai Angin Kencang

Angin kencang disertai hujan deras, petir dan pohon tumbang melanda Kota Bogor, Kamis (6/12). - Dok. BNPB
27 Maret 2019 10:40 WIB Newswire Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA - Peningkatan suhu udara di kisaran 30 derajat hingga 34 derajat merupakan sesuatu hal yang masih wajar dan tidak perlu dicemaskan oleh masyarakat, kata pejabat dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG).

"Peningkatan suhu ini disebabkan Matahari mendekati Bumi dan itu sesuatu yang tidak perlu ditakutkan," kata Kepala BMKG stasiun Meteorologi Pattimura Ambon, Ot Oral Sem Wilar di Ambon, Maluku, Rabu (27/3/2019).

Masyarakat juga diingatkan untuk tidak mendengar dan terpengaruh dengan isu negatif, karena kondisi seperti ini masih dalam batas ambang toleransi dan tidak membahayakan manusia.

Waktu siang hari suhu udara di Pulau Ambon misalnya bisa mencapai 30 hingga 32 derajat dan itu normal, katanya, kemudian akan naik sampai 34 derajat.

Menurut dia,  kenaikan suhu udara ini juga tidak terjadi pada seluruh wilayah di Indonesia, kecuali yang dilewati Matahari saja sebab posisinya dekat dengan garis khatulistiwa.

"Kami memberikan imbauan kepada masyarakat kalau sudah merasakan suhu yang tinggi maka perbanyak minum air agar tidak dehidrasi dan tetap menjaga kondisi kesehatan tetap stabil agar tidak merasa pusing atau pingsan," ujar Wiral sebagaimana dilansir Antara.

Dia menambahkan untuk Badai Veronica di Australia juga berdampak di Indonesia berupa hujan lebat, angin kencang, disertai gelombang tinggi.

"Memang Indonesia itu tidak mendapat topan karena posisi kita tiga derajat di bawah garis khatulistiwa, tetapi dampak dari ekor badai bisa seperti terjadi badai di Filipina dan ke bawahnya di Selatan Australia," katanya.

Kemudian, ekor badai yang di bawah itu akan bergerak sampai ke Indonesia berupa hujan yang lebat, angin kencang, disertai gelombang tinggi.

 

Sumber : Antara