Cerita TGB Tentang Kata-Kata Jokowi Jauh Sebelum Gempa Lombok

Mantan Gubernur NTB Muhammad Zainul Majdi atau Tuan Guru Bajang (TGB) (berdiri) berbicara dalam forum Talk Show Milenial dan Kebhinekaan di Gedung SMS Sragen, Senin (25/3 - 2019). (Solopos/Tri Rahayu)
25 Maret 2019 22:30 WIB Tri Rahayu Nasional Share :

Solopos.com, SRAGEN — Mantan Gubernur Nusa Tenggara Barat (NTB), Muhammad Zainul Majdi atau Tuan Guru Bajang (TGB), dan Pengasuh Pondok Pesantren Al-Qur’ani Laweyan Solo, K.H. Abdul Karim (Gus Karim), menceritakan pengalaman mereka berinteraksi dengan Joko Widodo (Jokowi) kepada generasi milenial di Sragen.

Ajakan tersebut disampaikan dua tokoh tersebut dalam acara Talk Show Milenial dan Kebhinekaan di Gedung Sasana Manggala Sukowati (SMS) Sragen, Senin (25/3/2019). Acara yang dimulai pukul 14.30 WIB tersebut dihadiri 2.500 orang yang berasal dari para pimpinan partai koalisi dan kader serta sukarelawan pendukung capres-calon wakil presiden (cawapres) Jokowi-Ma’ruf Amin (Jokowi-Ma’ruf).

Dalam acara yang dipandu jurnalis Muchus Budi R dan aktris/pembawa acara Indah Kirana tersebut juga dihadiri ibunda Jokowi, yakni Sudjiatmi Notomiardjo. Kedatangan Sudjiatmi seperti kejutan dalam acara tersebut karena ia hadir saat TGB menyampaikan gagasannya tentang optimisme pada sosok Jokowi.

Bahkan sebelum kehadirannya, TGB sempat menyinggung peran sosok Sudjiatmi sebagai ibu yang baik dan sayang kepada anaknya yang kini masih menjabat Presiden itu.

Gus Karim mendapat giliran pertama untuk berkisah tentang Jokowi. Gus Karim dikenal sebagai teman akrab Jokowi sejak masih menjabat sebagai Wali Kota Solo.

“Jokowi itu sosok manusia yang islamnya baik, ibadahnya bagus, salatnya sempurna. Lima rukun islam dilaksanakan. Tidak hanya salat fardlu tetapi juga salat sunnah. Bahkan puasa menjadi kebiasaannya di luar Ramadan,” ujar Gus Karim.

Dia ingat saat pertemuan ulama di Ungaran dengan agenda makan siang bersama Presiden. Dia menyampaikan para ulama berkumpul dan duduk dengan jamuan makan di meja. Mereka berkeliling dan bersiap menyantap makanan.

“Pukul 11.00 WIB belum mau makan karena menunggu Presiden. Pukul 13.00 WIB belum hadir, pukul 15.00 WIB belum hadir. Hingga pukul 17.30 WIB, beliau hadir. Ternyata bukan makan siang bersama tetapi berbuka puasa bersama karena beliau puasa,” kenang Gus Karim.

Selain sosok yang taat, Gus Karim melihat Jokowi sebagai sosok anak yang berbakti kepada orang tuanya, khususnya ibunya. Apa pun kata ibundanya, kata dia, Jokowi selalu sami’na watha’na. Selain itu, Gus Karim juga mengenal Jokowi sebagai sosok yang sederhana. Dia memberi bukti rumahnya yang ada di Sumber, Solo, tidak berubah meskipun menjadi orang nomor satu di Indonesia.

Kemudian TGB menilai apa yang disampaikan Gus Karim itu menunjukkan sebagian kecil dari sosok Jokowi sebagai orang yang baik atau orang yang salih secara pribadi. Pemilik nama lengkap Muhammad Zainul majdi itu membagi kriteria seorang pemimpin dalam Islam menjadi dua secara ringkas, yakni salih dan muslim.

“Salih itu artinya orang baik. Apa yang sudah disampaikan Gus Karim menunjukkan Pak Jokowi orang salih, meskipun hanya sebagian kecil. Salih saja tidak cukup dan harus punya karakter muslim, yakni karekter yang mampu dan sanggup memperbaiki orang lain,” jelasnya.

TGB berinteraksi dengan Jokowi sejak 2014 dan bertemu langsung saat kunjungan perdana Jokowi saat menjabat Presiden pada 2015 di NTB. Dia mengungkapkan pada Pilpres 2014, Jokowi kalah telak di NTB karena hanya mendapat 27%.

“Saat kunjungan ke NTB, beliau bilang ke saya. NTB butuh apa, beliau akan dukung dengan seluruh wewenang dan kemampuan beliau. Kata-kata itu dibuktikan sampai ada gempa melanda di NTB. Beliau sempat tidur di tenda pengungsian bersama warga,” tuturnya.

Dia berpendapat apa yang dilakukan Jokowi menunjukkan optimisme meskipun fitnah dan hoaks yang menyudutkannya gencar terjadi. Dia melihat pemimpin sebagai pelayan rakyat pada diri Jokowi.

“Atas dasar itulah, marilah santri-santri, anak-anak, dan bapak-bapak untuk belajar optimisme dari sosok Pak Jokowi. Kita bisa belajar baik dari sosok beliau,” ujarnya.