Prabowo Kalah di Survei Charta Politika, BPN: Survei Internal Berlawanan

Cawapres nomor urut 01 K.H. Maruf Amin (kiri) berjabat tangan dengan Cawapres nomor urut 02 Sandiaga Uno (kanan) saat mengikuti Debat Capres Putaran Ketiga di Hotel Sultan, Jakarta, Minggu (17/3 - 2019). (Antara/Wahyu Putro A)
25 Maret 2019 21:30 WIB John Andhi Oktaveri Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA -- Wakil Ketua Dewan Penasihat Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo-Sandi, Hidayat Nur Wahid, mengatakan tak mau ambil pusing terkait hasil survei Charta Politika. Survei lembaga itu pada Maret 2019 menunjukkan elektabilitas pasangan Prabowo Subianto-Sandiaga Uno masih tertinggal dari kubu Joko Widodo (Jokowi)-Ma’ruf Amin.

Hidayat beralasan hasil survei pasti sangat beragam. Karena itulah dia tidak lantas memercayai hasil survei Charta Politika. Menurutnya, hasil survei itu merupakan penggambaran jika Pilpres 2019 digelar pada saat ini.

“Pileg dan pilpres baru akan terjadi tanggal 17 April yang akan datang,” ujar Hidayat di Kompleks Parlemen, Senayan, Senin (25/3/2019).

Pria yang kerap disapa HNW itu mengingatkan jika hasil lembaga survei bisa saja tak sama seperti Pilkada DKI Jakarta 2017 lalu. Saat itu tak ada satu pun lembaga survei yang sama dengan hasil akhir penghitungan KPU, termasuk Charta Politika sendiri.

“Jadi survei ini menurut saya sebagai bagian dari masukan masing-masing pihak,” kata dia.

Politikus PKS itu pun mengklaim bahwa hasil survei Charta Politika Indonesia bertentangan dengan survei internal kubunya. “Dan di survei kami malah bertentangan dengan yang disebutkan Charta Politika, jadi itu adalah bagian-bagian daripada masukan-masukan ya kita ambil aja sebgai masukan,” ujarnya.

Berdasarkan hasil survei Charta Politika Indonesia pasangan Jokowi-Ma’ruf unggul dengan elektabilitas 53,6 persen dibandingkan dengan Prabowo-Sandi yang hanya mendapatkan 35,4 persen.

Sumber : Bisnis/JIBI