Air Kotor 20 Kali Lebih Mematikan Ketimbang Peluru

Wanita mencari air bersih di Yaman (Reuters/Fawaz Salman)
24 Maret 2019 02:00 WIB Chelin Indra Sushmita Internasional Share :

Solopos.com, SOLO – Hari Air Sedunia diperingati setiap tanggal 22 Maret. Peringatan ini dilakukan untuk menunjukkan pentingnya air bersih untuk kehidupan. Sayangnya, saat ini masih banyak orang yang kesulitan mendapat air bersih. Salah satunya warga yang hidup di zona rawan konflik.

Menurut data terbaru dari Organisasi Perlindungan Anak Dunia (Unicef), seperti dilansir The Guardian, Jumat (23/3/2019), anak-anak yang tinggal di zona rawan konflik berpotensi 20 kali lebih mungkin meninggal karena diare ketimbang peluru. Data ini merupakan hasil analisis di 16 negara konflik, mulai dari Afghanistan, Burkina Faso, Kamerun, Republik Afrika Tengah, Chad, Republik Demokratik Kongo, Ethiopia, Irak, Libya, Mali, Myanmar, Somalia, Sudan Selatan, Sudan, Suriah, hingga Yaman.

Badan anak-anak dari Persatuan Bangsa-Bangsa (PBB) itu menemukan bahwa air yang kotor dan sanitasi yang tidak layak membunuh anak-anak hampir tiga kali lebih banyak ketimbang perang. “Kenyataannya, lebih banyak anak yang meninggal karena sulit mendapatkan air bersih ketimbang perang,” kata Henrietta Fore, Direktur Eksekutif Unicef.

Perang mengurangi pasokan air bersih. Sebab, kebanyakan serangan menargetkan saluran air bersih untuk dirusak. “Serangan yang disengaja terhadap saluran air sama dengan menghancurkan kehidupan anak-anak. Itu adalah hak dasar bagi manusia,” sambung Henrietta Fore.

Kesulitan mendapat air bersih membuat warga sekitar mengalami diare akut. Analis kebijakan senior untuk kesehatan dan kebersihan di Badan Amal Water Air, Megan Wilson Jones, mengatakan, diare membunuh balita setiap dua menit.

Temuan dalam laporan ini sangat tragis. Diare yang disebabkan oleh air kotor dan buruknya sanitasi berkontribusi pada kematian balita setiap dua menit. Jadi, memastikan pasokan air bersih sangat penting bagi warga di wilayah konflik,” kata Megan Wilson Jones.

Setidaknya ada 4 miliar orang tinggal di daerah kekurangan air. Minimnya pasokan air bersih merupakan salah satu masalah yang semestinya mendapat perhatian lebih. Temuan Unicef lainnya menyebut bisnis skala besar mengurangi pasokan air global.

Kolom 5 hours ago

Spekulasi