Krisis Ekologi Masyarakat Urban

Halim H.D. - Dokumen Solopos
23 Maret 2019 09:30 WIB Halim H.D. Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Selasa (19/3/2019). Esai ini karya Halim H.D., networker kebudayaan yang tinggal di Solo. Alamat e-mail penulis adalah halimhade@gmail.com.

Solopos.com, SOLO -- Perkembangan dan kemajuan hasil-hasil riset dasar di bidang teknologi dan industri menjadi pelatuk terpenting dalam pertumbuhan ekonomi suatu bangsa. Revolusi industri di Inggris pada abad XIX menjadi contoh klasik dalam sejarah pemikiran dan sejarah industri dan ekonomi.

Revolusi industri itu pula yang ikut menjadi pemicu permenungan pemikiran filosofis dan ideologis yang melahirkan gagasan tentang sosialisme dan komunisme yang mengiringi konsep dan sistem kapitalisme yang dianggap telah mengeksploitasi manusia dan menjadikan manusia sebagai sekrup dan sekaligus berada pada posisi keterasingan (alienated) sebagaimana diuraikan Karl Marx.

Tesis utama Karl Marx, dalam bukunya Das Kapital, sesungguhnya bukan hanya memandang manusia, khususnya buruh, kaum kelas bawah yang dijadikan mangsa kekuatan kapital, tapi akumulasi kapital yang berada pada sekelompok kecil elite.

Akumulasi inilah yang ditentang dan ditolak dan harus diubah ke dalam sistem yang lebih adil dengan prinsip keadilan sosial bagi semua orang yang berusaha hidup dalam batas kesejahteraan yang terukur.

Pada sisi lain, dari perspektif kajian Marxisme, bahwa akumulasi itu juga bukan semata-mata pada kapital namun juga membentuk secara mendasar ke dalam penguasaan alat-alat produksi.

Lintasan ringkas di atas tentang sejarah industri yang telah menelan korban dan sekaligus mengantarkan perkembangan sejarah manusia dalam berbagai segi, baik secara sosial, ekonomi, politik, dan kebudayaan.

Dalam konteks inilah perkembangan dan pertumbuhan itu kian melaju dan dengan percepatan yang tidak bisa kita duga. Bayangkan, dalam tempo dua hingga tiga dekade kita melihat dan merasakan pertumbuhan ekonomi yang didukung oleh perkembangan teknologi dan industri yang menciptakan dampak berantai secara positif maupun negatif.

Otoriter

Stabilitas politik ditentukan oleh sejauh mana pertumbuhan ekonomi secara nasional, dan sebaliknya, untuk menciptakan stabilitas banyak negeri-negeri berkembang menciptakan sistem sosial politik yang terpusat dan cenderung otoriter.

Kita menemukan lagi realitas tentang akumulasi politik dalam bentuk kekuasaan dalam perspektif kajian Marxisme. Di antara berkah pertumbuhan dan perkembangan sosial ekonomi yang dinikmati masyarakat, kita juga menyaksikan berbagai bentuk dan wuwud yang kita rasakan sebagai pola sosial ekonomi.

Masyarakat hanya ingin menikmati namun tak memiliki komitmen untuk menciptakan suatu pola kehidupan yang bersifat ekologis yang tumbuh dari kesadaran atas lingkungan hidup. Marilah kita saksikan di sekitar kita tentang kesadaran menjaga kebersihan dan menempatkan barang bekas sebagai sampah pada tempatnya.

Kebersihan lingkungan menjadi masalah bagi kita sehari-hari sehingga kita merasakan kepengapan bukan hanya akibat polusi udara dan suara tapi juga polusi dalam berbagai bentuk sampah. Secara konkret, kita dihadapkan pada masalah sampah plastik yang telah mengepung dan mengotori lingkungan hidup kita.

Itulah yang menjadi berita headline halaman pertama di Harian Solopos edisi 5 Maret 2019 dengan tajuk Sehari, Sejuta Kresek Beredar di Solo. Headline ini sungguh bukan hanya mengejutkan tapi sekaligus mengguncang kesadaran kita, bahwa dampak dari pertumbuhan sosial ekonomi yang kita nikmati namun tanpa didukung oleh kesadaran untuk menciptakan lingkungan hidup yang asri.

Tentu saja masalah sampah plastik kresek bukan sepenuhnya kesalahan masyarakat. Jika kita membandingkan dengan negeri-negeri dengan masyarakat yang telah menyadari dampak krisis ekologis akibat sampah plastik, justru soal utama terletak pada sistem industri dan sistem perdagangan retail, eceran.

Di negeri dengan tingkat kesadaran ekologis dan kontrol sosial yang kuat, semua elemen perdagangan diharuskan mengurangi penggunaan kemasan plastik dengan cara menganjurkan, bahkan mewajibkan, masyarakat atau konsumen membawa tas belanja.

Kota Balikpapan

Pada sisi lainnya ada kebijakan pembebanan harga kantong plastik yang tinggi agar konsumen berpikir tidak membeli kantong plastik bersama belanjaan. Kota Balikpapan menjadi contoh yang menarik. Pemerintah Kota Balikpapan bukan hanya menciptakan aturan berupa peraturan daerah (perda) untuk pengurangan tapi juga pelarangan penggunaan kantong plastik secara maksimal.

Misalnya, suatu barang belanjaan yang tidak harus menggunakan kantong plastik tidak diberi kantong plastik, dan setiap kantong plastik yang bisa digunakan untuk beberapa jenis belanjaan bisa disatukan, misalnya membeli kentang, bawang, kubis, wortel, cabai dalam satu kantong.

Contoh ini sangat menarik, di samping merangsang warga untuk membawa tas belanja dan penggunaan kembali kantong plastik yang dibawa dari rumah. Jadi, masalah yang kita hadapi dalam krisis lingkungan hidup perkotaan akibat dampak tas kresek yang telah menelikung kita ini adalah bagaimana kita menciptakan suatu peraturan.

Dalam konteks ini kita berharap kepada Pemerintah Kota Solo dan DPRD Kota Solo membuat peraturan daerah tentang pengurangan dan sekaligus juga pelarangan pengunaan tas plastik secara berlebihan pada level perdagangan eceran.

Jika Kota Solo yang selalu menabalkan diri sebagai kota yang asri dalam konteks kehidupan tradisi, keasrian tradisi itu mesti didukung oleh keasrian ekologis, yang juga bisa berangkat dari khazanah tradisi dan tatanan nilai yang diilhami dari sistem kepercayaan: kebersihan adalah bagian dari iman.

Kebersihan ini bukan hanya pada tubuh tapi juga lingkungan hidup yang bisa dirasakan dengan nikmat. Kenikmatan itu sesungguhnya bersumber dari kesadaran kita kepada sistem lingkungan hidup yang sehat. Lingkungan hidup yang sehat bukan hanya untuk kita, tapi untuk kehidupan masa yang akan datang.

Di situlah betapa pentingnya mencari solusi secara konseptual dan praktis pengurangan sampah plastik. Upaya kita untuk menciptakan lingkungan asri melalui pengurangan sampah plastik sebagai kewajiban moral dan komitmen untuk masa depan bagi generasi yang akan datang.

Dampak negatif sampah plastik secara langsung, sebagaimana polusi udara dan suara, sangat dirasakan oleh anak-anak dan kaum remaja. Akhir kata, yang wajib disampaikan di sini adalah ajakan kepada warga Kota Solo dari berbagai lapisan untuk menciptakan Kota Solo yang ekologis dengan cara pengurangi penggunaan kantong plastik atau tas kresek.