Sepekan Penembakan di Christchurch, Wanita Selandia Baru Kenakan Jilbab

Perdana Menteri Selandia Baru Jacinda Ardern setelah salat Jumat di Hagley Park di luar masjid Al/Noor di Christchurch, Selandia Baru 22 Maret 2019. (Reuters)
22 Maret 2019 10:45 WIB John Andhi Oktaveri Internasional Share :

Solopos.com, JAKARTA - Sepekan setelah pembantaian massal yang menewaskan 50 umat Islam yang sedang salat Jumat, para wanita Christchurch, Selandia Baru melakukan peringatan dengan mengenakan jilbab untuk menunjukkan dukungan mereka bagi komunitas tersebut.

Perdana Menteri Jacinda Ardern akan memimpin ribuan pelayat yang diperkirakan akan berkumpul di Hagley Park di depan masjid Al Noor, tempat sebagian besar korban meninggal pekan lalu.

Peringatan juga diwarnai dengan lantunan suara azan yang akan disiarkan secara nasional yang diikuti dengan mengheningkan cipta. 

Ardern, yang menyebut serangan itu sebagai aksi terorisme, telah mengumumkan larangan senjata semi-otomatis gaya militer dan senapan serbu di bawah undang-undang senjata baru. 

Dalam acara doa bersama itu Ardern akan ditemani para tokoh masyarakat dan pejabat asing lainnya.

Sebagian besar korban penembakan massal terburuk di Selandia Baru adalah migran atau pengungsi dari negara-negara seperti Pakistan, India, Malaysia, Indonesia, Turki, Somalia, Afghanistan, dan Bangladesh.

Jumlah umat Islam di negara itu lebih dari satu persen dan sebagian besar lahir di luar negeri.

Gerakan #headscarfforharmony yang diprakarsai oleh seorang dokter Auckland, mendorong para wanita untuk mengenakan jilbab pada hari Jumat untuk menunjukkan dukungan mereka kepada Muslim.

"Kami mengenakan jilbab untuk menunjukkan dukungan, cinta, dan solidaritas kami, dan berharap bahwa setiap orang yang melakukan ini akan menunjukkan kepada wanita Muslim ... bahwa mereka menyatu dengan kami," katanya, ujar Robyn Molony, wanita berusia 65 tahun didampingi rekan-rekan wanitanya yang juga mengenakan jilbab.

Gambar-gambar Ardern yang berduka mengenakan jilbab hitam ketika dia mengunjungi keluarga para korban sehari setelah serangan itu disiarkan di seluruh dunia. Beberapa wanita di Ibu Kota Wellington juga terlihat mengenakan jilbab saat melakukan kegiatan harian pada paginya.

Polisi bersenjata menjaga masjid-masjid di Selandia Baru sejak serangan itu dan polisi mengatakan akan bersiaga penuh pada hari ini untuk meyakinkan mereka yang menghadiri salat minggun tersebut.

Sumber : Bisnis.com