Belajar Menjinakkan Ketakutan dari Memedi Sawah

Bandung Mawardi - Dokumen Solopos
19 Maret 2019 18:39 WIB Bandung Mawardi Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (16/3/2019). Esai ini karya Bandung Mawardi, kuncen Bilik Literasi di Solo. Alamat e-mail penulis adalah bandungmawardi@gmail.com.

Solopos.com, SOLO -- Hari-hari di Indonesia terlalu ramai dengan produksi ketakutan. Dalih terbesar sebaran ketakutan tentu politik. Kita menjelang 17 April 2019. Pembesaran ketakutan terjadi setiap detik, bergerak dan berpencar sembarangan gara-gara ”rem blong”.

Ketakutan mencipta situasi hidup memuat kutukan, hukuman, azab, derita, petaka, dan aib. Ketakutan-ketakutan itu diciptakan dengan pikiran-pikiran buruk dan busuk, modal besar, serta nafsu mencapai puncak ke kekuasaan.

Di hadapan ratusan orang saat berkumpul di pelataran Balai Soedjatmoko, Solo, Kamis, 14 Maret 2019, Rama Sindhunata dengan suara kalem mengatakan,”Kita mesti menjinakkan ketakutan.”

Kalimat itu pokok dari penjelasan situasi mutakhir Indonesia. Hari-hari berkelindan politik telah mengabarkan ketakutan demi ketakutan secara kolosal. Para elite politik seperti membenarkan atau membiarkan ketakutan-ketakuatan itu merusak hidup jutaan orang. Konon, ketakutan itu penentu lakon kekuasaan.

Pada senja, sebelum acara pembukaan pameran seni rupa Memedi Sawah oleh Hari Budiono di Balai Seodjatmoko, berlangsung 14- 20 Maret 2019, saya bercakap-cakap dengan Mbah Prapto (seniman, penari yang religius) di ruangan yang dihuni puluhan memedi sawah, tebaran dami, dan burung-burung.

Mbah Prapto turut mengartikan pameran bertajuk Memedi Sawah dengan sajian gerak dan doa berpijak pada ”sujud-mawujud”. Ia menginginkan kita (kembali) bersujud pada keberserahan dan kepasrahan. Sujud tak cuma berdoa dan menjadikan raga bersentuhan dengan tanah.

Sujud itu mesti mewujud atau diejawantahkan dengan tindakan-tindakan dan pembahasaan. Sujud jangan berarti pasif membiarkan ketakutan-ketakutan berdatangan memicu 1.000 petaka. Bermula dari tanah atau sawah, sujud kita harus mengaktifkan kehendak pada harmoni, kebersamaan, ketenangan, keindahan, dan kebahagiaan.

Pada hari-hari yang mustahil sepi dari semburan berita bohong dan produksi ketakutan dengan pelbagai rupa dan rasa, pemilihan memedi sawah oleh Hari Budiono sengaja mengingatkan kita agar insaf dalam adab berpolitik.

Ingatan dan Peringatan

Penjadwalan pameran memang dipilih hari-hari menjelang puncak tata cara demokrasi di Indonesia, 17 April 2019. Hari Budiono mengungkapkan bahwa politik memerlukan ingatan dan peringatan. Memedi sawah sangup menguak ingatan dan memberi peringatan kepada kita. Larut di perseteruan, kemarahan, fitnah, dan hasutan tak bakal menjadikan demokrasi menjadi molek dan menggirangkan.

Kita sejenak mengingat sawah dan peran memedi sawah dalam sejarah negara yang pernah dijajah. Pada abad XIX dan awal abad XX, pertanian di tanah jajahan didikte pemerintah kolonial berupa aturan pengelolaan sawah sampai penarikan pajak.

Kaum petani dikucuri ketakutan-ketakuatan berkaitan hukuman, kemiskinan, pemberontakan, kerja paksa, dan tarikan pajak. Sekian ketakutan dicipta mengiringi nasib apes petani membentuk biografi di sawah. Ketakutan selama pertani mengarah ke hama-hama. Petani harus bermain sandiwara untuk mengusir burung-burung pemakan padi. Pada suatu masa, para petani membuat memedi sawah.

Tampilan memedi di tengah sawah dengan sandangan lusuh atau gombal amoh yang digerakkan tali diikhtiarkan sanggup menakuti burung-burung. Pada masa lalu, bertani di sawah seperti bereferensi dan mengarah ke ketakutan demi ketakutan.

Di buku berjudul Budidaya Padi di Jawa (1986) suntingan Sajogyo dan William L. Collier kita dapat membaca laporan-laporan pertanian padi dan nasib petani sejak abad XIX. Kegagalan-kegagalan panen sering menimpa akibat pengairan buruk, ketakpahaman sistem penanaman, dan serangan hama.

Doa-doa dan keringat para petani memuat peristiwa-peristiwa tragis. Petani jarang diceritakan makmur. Nalar kolonial membuat para petani terbelenggu dalam kepatuhan, ketakutan, dan ketertiban demi pemenuhan kebutuhan pangan di tanah jajahan.

Mereka mungkin pernah berimajinasi bahwa aparat-aparat kolonial itu mirip memedi sawah. Tumpukan ketakutan pada masa kolonial ditanggapi dengan pemberontakan dan penolakan memberikan setoran pajak. Sikap itu di mata penguasa kolonial lekas bercap ”kiri”, “merah”, dan radikal.

Pemberontakan

Onghokham (2003) mencatat pemberontakan petani akibat penarikan pajak berlangsung di Patik, Ponorogo, 1885. Pajak terlalu tinggi. Kaum petani marah dan menginginkan kemunculan Ratu Adil. Mereka memberontak.

Penguasa kolonial menuduh mereka membuat onar dan menganggu ketertiban. Umur pemberontakan cuma sehari. Sikap petani itu berhasil menimbulkan heboh dan panik di kalangan penduduk Belanda setempat.

Isu yang tersebar adalah pemberontakan jadi awal pembangunan komplotan orang Jawa yang lebih besar untuk melawan penjajah. Sejarah ketakutan di masing-masing pihak petani dan penguasa kolonial itu pada zaman belum terlalu ramai oleh surat kabar dan belum ada media sosial.

Ketakutan dicipta dan bersebaran dalam hitungan waktu, jarang cepat. Pembahasaan dan drama membuat ketakutan mengalami penambahan dan pengurangan berakibat pada bobot dampak-dampaknya.

Kini, ketakutan-ketakutan yang bermula dari sawah dan tokoh petani beralih ke tata kehidupan lebih besar. Memedi sawah dipilih jadi simbol kesejarahan negara agraris sampai ke situasi politik mutakhir yang terpengaruhi kuasa digital berupa media sosial.

Titik mula Hari Budiono mengadakan pameran sebagai ingatan dan peringatan. Memedi sawah mewujud gambar atau kata-kata beraroma kebencian, fitnah, hasutan, dan hoaks di media sosial. Memedi sawah menjadikan kita saling curiga, saling membenci, tak menghargai, merasa menang/benar sendiri, menjadi manusia intoleran.

Hari Budiono tak ingin Indonesia jadi ”sawah” rusak atau sawah ”kegagalan” gara-gara ”hama” yang sengaja diciptakan kaum penoda bermotivasi mencari untung dan meraih kekuasaan. Hama-hama bernama ketakutan itu menginginkan kita menangis, sedih, dan terpuruk.

Jawaban atau sikap kita pada ketakutan adalah tertawa. Tangisan tak merampungi 1.000 masalah dari produksi ketakutan. Tertawalah! Sindhunata mengartikan tertawa itu olah batin dan pikiran menangkal keburukan-keburukan.

Menghendaki Hidup Bermakna

Tertawa berfilsafat menghendaki hidup bermakna dengan enteng, ikhlas, tulus, dan riang. Keinginan mengajak kita tertawa diwujudkan oleh Sindhuata berupa Jula-Juli Memedi Sawah. Kita bisa menyimak syairnya untuk bermufakat menertawakan kaum produsen ketakutan.

Tahun politik tahun sing panas,/ pikiran dijaga aja gampang kebrangas.// Pemilu iku pesta demokrasi,/ sing meden-medeni kudu disingkiri.// Aja sampek rakyat milih sebabe wedi,/ miliha sing bener sesuai hari nurani.// Jenenge pesta mesthi nggawa bungah,/ kudune pilpres gak gawe bubrah.// Emane saiki politik gak gelem amanah./ senenge dadi politik memedi sawah.

Jula-juli memicu tawa dan renungan kebungahan mengalami hari-hari bergelimang politik. Tawa sangat diperlukan dalam hajatan demokrasi. Kita tertawa demi politik beradab bukanlah aib atau petaka seperti masa lalu.

Dulu, tertawa pada masa Orde Baru kadang malah diganjar hujatan dan hukuman. Misi para perupa atau kaum bergambar mengajak orang-orang tertawa berada di tikungan dilematis. Seno Gumira Ajidarma dalam buku berjudul Antara Tawa dan Bahaya: Kartun dalam Politik Humor (2012) mengingatkan bahwa tertawa tak harus berhubungan langsung dengan humor.

Tertawa adalah juga keberpihakan untuk situasi hidup tanpa tekanan, siksaan, dan ketakutan. Tertawa dalam situasi politik bisa menjadi sikap ”melawan” atau ”membersihkan” keburukan-keburukan yang menimpa pikiran dan perasaan.

Dalam pameran Memedi Sawah ajakan tertawa bersama disampaikan dengan 100 gambar tokoh buatan Hari Budiono. Di tubuh-tubuh memedi sawah kita melihat gambar mereka tertawa. Sekian tokoh bisa kita kenali: Joko Widodo, Prabowo Subianto, Sule, Sophia Latjuba, Achmad Albar, Luna Maya, Iis Dahlia, Dewa Budjana, Gus Mus, Bunga Citra Lestari, Emha Ainun Nadjib, Iwan Fals, Garin Nugroho, Mudji Sutrino, Najwa Shihab, dan lain-lain.

Para tokoh dengan pelbagai profesi dan berbeda kadar kemonceran.  Para penonton mungkin kebingungan mencari gambar-gambar para sastrawan. Hari Budiono mungkin terlupa menempatkan gambar sastrawan sebagai pengajak Indonesia tertawa.

Sejarah melawan dan kegirangan di album Indonesia juga turut dipengaruhi suguhan kata dan imajinasi oleh para sastrawan bermazhab humor, dari masa ke masa. Kita tak perlu menuntut tokoh-tokoh dari pelbagai profesi harus terwakili di gambar dalam pameran Memedi Sawah. Pengertian terpenting adalah penjinakkan ketakutan dengan tertawa. Kita tertawa untuk demokrasi beradab, bukan demokrasi penuh muslihat dan derita.