Pendidikan Peduli Lingkungan ala Si Muka Masam

Suratno - Istimewa
19 Maret 2019 09:00 WIB Suratno Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (13/3/2019). Esai ini karya Suratno, guru Fisika di SMAN 1 Wuryantoro, Kabupaten Wonogiri, Provinsi Jawa Tengah. Alamat e-mail penulis adalah melatihanifasuratno@gmail.com.

 Solopos.com, SOLO -- Produksi sampah yang semakin meningkat merupakan hal yang tidak bisa dihindari selama eksistensi manusia di muka bumi. Industri dan rumah tangga jadi penyumbang sampah terbesar.

Sampah bukan hal yang harus dikeluhkan. Sampah harus dijadikan pemicu untuk mengambil sikap terbaik dalam pengelolaannya. Lingkungan sekolahan adalah lingkungan pembelajar yang menjadi bagian produsen sampah.

Mengelola sampah di sekolahan menjadi tanggung jawab semua warga sekolah tak terkecuali pendidik dan peserta didik. SMAN 1 Wuryantoro, Kabupaten Wonogiri, adalah salah satu sekolah negeri di Kabupaten Wonogiri yang belum memiliki sistem pengendali dan pengelolaan sampah.

Hal tersebut tidak menjadikan warag sekolahan lepas tanggung jawab dan tidak peduli dengan sampah yang diproduksi bersama-sama tersebut. Pengintegrasian pendidikan karakter peduli lingkungan dalam pembelajaran di kelas pada setiap mata pelajaran menjadi kewajiban mutlak yang harus dilakukan oleh setiap pendidik.

Mempelajari kompetensi dasar dan mengembangkan serta menginfiltrasikan program penanaman pendidikan karakter peduli lingkungan merupakan langkah awal yang bisa dilakukan pendidik.

Setelah proses ini dilanjutkan membuat rancangan pelaksanaan pembelajaran yang mengandung penanaman pendidikan karakter peduli lingkungan serta ditindaklanjuti dalam kegiatan pembelajaran di kelas.

Simulasi proyek fisika material sampah atau Si Muka Masam adalah salah satu strategi pendidik yang mengintegrasikan penanaman pendidikan karakter peduli lingkungan dalam pembelajaran fisika di SMAN 1 Wuryantoro.

Strategi ini dilakukan dengan menggunakan model pembelajaran project based learning dengan menggunakan tiga tahapan, yaitu merancang, membuat, dan memublikasikan.

Kompetensi Peduli Lingkungan

Dalam tahap merancang sebagai tahap pertama, peserta didik melakukan literasi konsep dan literasi masalah kemudian mengerucutkan pada masalah yang akan dikupas bersama kelompok yang kemudian ditindaklanjuti dengan diskusi dalam rangka menyusun dan merancang proyek penyelesaian masalah.

Perancangan proyek penyelesaian masalah ini diberi rambu-rambu oleh pendidik agar menggunakan bahan utama dari material sampah di lingkungan sekolahan. Peserta didik terstimulasi memilih dan memilah  sampah yang sesuai untuk digunakan dalam proyek berkelompok.

Karakter saling menghormati, menghargai pendapat teman, berani menyampaikan pendapat, ide, gagasan, bekerja sama antarteman dalam kelompok dan juga peduli lingkungan dengan memanfaatkan sampah untuk penyelesaian proyek adalah karakter yang ditanamkan dalam pengintegrasian penanaman pendidikan karakter peduli lingkungan.  

Setelah kegiatan merancang proyek selesai, peserta didik dalam kerja kelompok berusaha merealisasikan proyek dalam kurun waktu yang sudah ditentukan dan disepakati antara pendidik dan peserta didik. Pada proses ini penyelesaian proyek tidak semulus dan semudah yang dibayangkan dalam tahap perancangan.

Ada hambatan-hambatan dalam proses realisasi proyek. Hambatan ini harus dianggap sebagai tantangan yang menstimulasi karakter untuk bisa survive, terus berkomunikasi, bekerja sama dalam kelompok dalam rangka menyelesaikan proyek.

Kendala adalah sesuatu hal yang pasti dihadapi peserta didik dalam proses penyelesaian masalah. Dengan menggunakan proses pembelajaran ini pendidik menyiapkan peserta didik menjadi lebih siap menghadapi kehidupan yang sebenarnya.

Pada tahap ketiga, tahap memublikasikan, peserta didik diberi tanggung jawab berbagi pengetahuan, berbagi proses penyelesaian masalah, dan berbagi produk proyek untuk teman di kelompok kerja yang lain dengan cara mempublikasikan karya poyek yang sudah diselesaikan dalam kelompok masing-masing.

Memublikasikan bisa dilakukan dengan menulis laporan proyek sesuai kaidah ilmiah, mempresentasikan proyek di depan kelas, membuat leaflet yang ditempel di majalah diding sekolah atau mengunggah di Youtube.

Si Muka Masam efektif menstimulasi dan memaksa peserta didik mencari dan mendaur ulang sampah untuk digunakan menyelesaikan proyek yang mereka setujui dalam kelompok. Strategi ini efektif untuk menstimulai peserta didik mencari dan menemukan ide kreatif penyelesaian masalah terkait pokok bahasan yang dibahas di kelas.

Secara tidak langsung pengintegrasian penanaman pendidikan karakter peduli lingkungan dalam pembelajaran menjadi warna dan pembiasaan pada setiap pembelajaran di kelas. Semoga peserta didik mencapai kompetensi karakter peduli lingkungan yang bisa ditindaklanjuti dan dibawa dalam kehidupan setelah mereka lepas dari pendidikan formal.