Tirto.id Minta Maaf Soal Meme Debat Cawapres 2019

Cawapres no urut 01 K.H. Ma'ruf Amin (kiri) berjabat tangan dengan Cawapres nomor urut 02 Sandiaga Uno (kanan) saat mengikuti Debat Capres di Hotel Sultan, Jakarta, Minggu (17/3 - 2019). (Antara/Wahyu Putro A)
18 Maret 2019 19:27 WIB Jafar Sodiq Assegaf Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA - Media masa berbasis daring Tirto.id mengklarifikasi meme kontroversial yang beredar di jejaring sosial terkait Debat Cawapres 2019, Minggu (18/3/2019) malam WIB. Meme yang dibuat Tirto.id diedarkan Minggu malam mengiringi kehebohan netizen yang membahas debat yang mempertemukan KH Maruf Amin dan Sandiaga Uno itu.

Meme yang beredar memperlihatkan sosok Cawapres nomor urut 01, KH Maruf Amin, dengan kutipan pernyataan pamungkasnya di Debat Cawapres 2019. Tirto.id membuat meme satire merespons pernyataan Maruf Amin yang dengan tegas mengaku akan memerangi hoax. Namun, alih-alih menyodorkan kutipan yang proporsional, Tirto.id memenggal salah satu frasa dalam kalimat yang dianggap telah merusak maksud dari pernyatan KH Maruf Amin itu.

Frasa itu adalah "Zina [bisa] dilegalisir" dari kalimat panjang KH Maruf Amin yang berisi, "Kami juga mengajak kita semua untuk melawan dan memerangi hoaks. Karena hoaks merusak tatanan bangsa indonesia. Melawan dan memerangi fitnah, seperti kalau Jokowi terpilih kementerian agama dibubarkan, kementerian agama dilarang, azan dilarang, zina dilegalisir. Saya bersumpah demi Allah, selama hidup saya akan saya lawan upaya-upaya untuk melakukan itu semua."

Tak hanya itu, Tirto.id menimpalinya dengan balasan yang cukup membuat netizen geram. "Oke gaes jangan lupa kedepannya sedia k***om  & cap 3 jari yes!" demikian bunyi balasan itu.

Tak berapa lama, meme ini langsung membuat heboh dunia maya. Twitter menjadi salah satu media sosial yang cukup heboh. Tokoh muda NU yang juga pengajar di Monash University Australia, Nadirsyah Hosen, menjadi salah satu yang menanggapi serius meme ini. Gus Nadir menganggap Tirto.id melakukan kesalahan fatal.

"Pelintirannya terhadap pernyataan KH Ma’ruf Amin sangat kelewatan dan menunjukkan Tirto bukan media yg bisa dipercaya. Meski sdh minta maaf dan merevisi meme ini, tapi kesalahannya sangat fatal," katanya.

Bukan hanya meme ini, Gus Nadir juga mempersoalkan meme lain yang berisi pernyataan Cawapres nomor urut 02 Sandiaga Uno soal pembubaran UN. 

Bukan hanya Gus Nadir, protes keras juga melayang dari berbagai tokoh lain termasuk akun resmi dari NU di @nahdlatululama.

Mendapati reaksi keras dari netizen, Tirto.id langsung merespon dengan merilis permintaan maaf. Tirto.id mengakui telah melakukan kesalahan. "Kami melakukan kesalahan fatal: secara gegabah memotong sebuah kalimat," demikian salah satu kalimat dalam siaran permintaan maaf yang diterima Solopos.com, Senin (18/3/2019). 

Berikut pernyataan lengkap Tirto.id terkait kehebohan yang terjadi di media sosial;

Tirto.id: Kami Melakukan Kesalahan, dan Kami Meminta Maaf

Berkaitan dengan ramainya informasi seputar meme di sosial media terkait debat Cawapres 2019 yang pernah dirilis oleh Tirto.id, dengan ini redaksi menyampaikan siaran pers, sebagaimana berikut:

Kami melakukan kesalahan fatal: secara gegabah memotong sebuah kalimat.

Penggalan kalimat “zina [bisa] dilegalisir” diucapkan Maruf Amin sebagai salah satu contoh hoaks yang diarahkan kepada pasangan Jokowi-Maruf (selain azan dilarang dan Kementerian Agama dibubarkan). Penggalan kalimat itu sebenarnya didahului oleh pernyataan (1) pentingnya memerangi hoaks karena membahayakan tatanan bangsa dan dilanjutkan dengan pernyataan (2) bahwa Maruf Amin bersumpah akan melawan semua usaha untuk merealisasikan hoaks-hoaks itu.

Begini kalimat utuhnya: “Kami juga mengajak kita semua untuk melawan dan memerangi hoaks. Karena hoaks merusak tatanan bangsa indonesia. Melawan dan memerangi fitnah, seperti kalau Jokowi terpilih kementerian agama dibubarkan, kementerian agama dilarang, azan dilarang, zina dilegalisir. Saya bersumpah demi Allah, selama hidup saya akan saya lawan upaya-upaya untuk melakukan itu semua.

Namun karena pernyataan sebelum dan setelahnya dipotong, dan yang dikutip hanya soal zina bisa dilegalisir, maka konteks klarifikasi yang sedang dilakukan Maruf menjadi raib. Bukan hanya itu, penggalan kalimat “zina [bisa] dilegalisir” yang dihadirkan secara visual dalam bentuk meme bahkan seolah-olah menjadi pernyataan Maruf Amin.

Begitu redaksi menyadari konten tersebut sudah naik di akun twitter @tirtoid, redaksi memutuskan untuk menghapusnya. Masih pada malam yang sama, tim multimedia segera membuat revisi meme dengan mencantumkan konteks pernyataan Maruf Amin menjadi “Kami juga mengajak kita semua melawan dan memerangi hoaks, fitnah [...] seperti zina dilegalisir".

Revisi meme itu dibagikan di akun @tirtoid disertai permohonan maaf yang tepatnya berbunyi: “Visual ini memperbaiki kekeliruan sebelumnya yang memotong konteks ucapan Maruf Amin yang hendak mengklarifikasi hoaks. Tirto meminta maaf atas kekeliruan tersebut.”

Untuk keteledoran fatal memenggal pernyataan itu, kami meminta maaf terutama kepada pasangan Capres-Cawapres 01 Jokowi-Maruf Amin, terutama kepada Maruf Amin sebagai yang paling dirugikan, termasuk juga kepada Tim Kampanye Nasional (TKN) dan para pendukung pasangan 01, dan juga kepada publik.

Hal serupa juga terjadi dalam meme lain yang mengomentari pernyataan Sandiaga Uno. Janji Sandiaga Uno, “Kami akan hapuskan UN”, divisualkan dalam bentuk meme sembari dikomentari dengan kalimat: “Eh…? Kirain apus NU”.

Komentar itu bukan hanya tidak perlu, melainkan juga insensitif dengan peran NU dalam konteks sosial di Indonesia. Kami meminta maaf terutama kepada nahdliyin dan Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU).

Kami masih meyakini, mengutip artikel Nahdlatul Ulama Didirikan untuk Membendung Puritanisme Agama yang kami tayangkan pada 31 Januari 2018, “Sampai hari ini NU tetap konsisten menyerukan persaudaraan nasional antara rakyat Indonesia dari agama yang berbeda-beda (ukhuwah wathaniyah) dan membawa kaum ulama memperjuangkan kedamaian. Itulah salah satu peran terbesar NU.”

Seluruh konten visual, baik itu infografik di dalam artikel maupun yang dibagikan di kanal media sosial, menjadi tanggungjawab redaksi. Yang telah terjadi menjadi pelajaran berharga untuk semakin memperketat lagi mekanisme gate-keeping bukan hanya di dalam artikel-artikel yang tayang, melainkan juga di kanal media sosial. Selama ini, konten media sosial, misalnya di Instagram, selalu melewati persetujuan redaksi, namun kali ini mekanisme gate-keeping ini gagal bekerja secara optimal.

Sekali lagi: kami meminta maaf kepada semua pihak yang merasa dirugikan, juga kepada para pembaca sekalian. Mekanisme internal sedang dilakukan untuk memperbaiki dan menindaklanjuti kesalahan fatal ini.

Sapto Anggoro, Pemimpin Redaksi Tirto.id

======

Catatan:

Tirto bekerjasama dengan Narasi TV dalam melakukan live fact-checking Debat Pilpres 2019, termasuk dalam debat cawapres tadi malam. Namun seluruh produksi visual berupa meme, kutipan maupun periksa data sepenuhnya merupakan tanggungjawab Tirto.

Kolom 4 hours ago

Fisika di SMK