Debat Cawapres: Kritik Susu Vs Gimmick KTP, Siapa Unggul?

Cawapres no urut 01 K.H. Ma'ruf Amin (kiri) berjabat tangan dengan Cawapres nomor urut 02 Sandiaga Uno (kanan) saat mengikuti Debat Capres di Hotel Sultan, Jakarta, Minggu (17/3 - 2019). (Antara/Wahyu Putro A)
18 Maret 2019 00:36 WIB Adib Muttaqin Asfar Nasional Share :

Solopos.com, SOLO -- Debat ketiga Pilpres 2019 yang menampilkan cawapres Maruf Amin dan Sandiaga Uno dinilai berlangsung cukup berimbang. Namun, para pengamat menilai debat ini dinilai bukan sekadar soal substansi debat, tapi juga penampilan fisik para calon.

Maruf Amin sempat tampil mengejutkan dengan melontarkan pertanyaan tentang program Sedekah Susu Prabowo-Sandi untuk mengurangi stunting. Maruf juga dengan kritis mendebat relevansi pemberian susu sapi kepada anak-anak dengan target penurunan stunting. Namun, ada hal-hal lain yang dinilai pengamat.

Peneliti Lingkaran Survei Indonesia (LSI), Adjie Alfaraby, memberikan beberapa catatan terhadap cawapres nomor urut 01 Maruf Amin. Dalam debat ini, kata Adjie, Maruf kurang berhasil menyampaikan pesan kubu petahana sekaligus kurang menantang gagasan yang disampaikan Sandiaga Uno.

"Debat ini pertunjukan, artinya yang dinilai bukan hanya substansi atau konten. Dari debat, pasca debat, yang jadi perhatian media yang jadi ramai, tapi body language, gimmick, dan sebagainya. Tidak terlalu banyak yang muncul pada malam ini, tapi misal Pak Maruf bertanya membawa catatan, itu bisa jadi ramai," kata Adjie yang disiarkan live oleh TVOne, Minggu (17/3/2019) malam.

Namun dia mengakui kedua capres menjalankan tugas dengan baik, termasuk Maruf Amin. Maruf dinilai sudah mampu mempertahankan style petahana untuk menyampaikan keberhasilan selama 4 tahun Jokowi-JK.

"Dia stay on massage, sebagai petahana beliau menunjukkan apa yang sudah dilakukan selama 5 tahun. Tapi kurangnya adalah kuranhganya kontestasi semacam challenge yang dilakukan terhadap oposisi," katanya.

Adjie mencontohkan ide Sandi menasionalkan OK OCE yang bisa saja dikritik oleh Maruf Amin, namun tidak dilakukan. "Bisa saja petahana bisa menyampaikan soal tenaga kerja yang infonya bisa 10 juta, tapi tidak tersampaikan oleh Maruf."

"Di satu sisi saya melihat Sandi menjalankan tugas dengan baik. Sandi mampu memunculkan momentum. Ketika debat kedua kemarin momentum di 01 [Maruf]. Tapi sekarang diciptakan oleh Sandi. Misal Sandi secara intonasi lebih baik dan lebih detail. Sandi juga mampu mendetailkan narasi besar Prabowo, padahal jarang sekali prabowo menjelaskan narasi dan proposal 5 tahun ke depan. Jadi keduanya menjalankan tugas lebih baik."

Serupa dengan Adjie, pengamat komunikasi politik Effendy Ghazali menilai Sandi lebih banyak bicara tentang hal yang lebih detail, seperti soal tenaga honorer, buruh, program keluarga harapan yang akan diteruskan dan sebagainya.

"Tapi ada closing menarik dari Maruf Amin. Intinya saya sudah tidak muda lagi, tapi saya akan menekankan ini ini yang akan saya jaga sungguh-sungguh. Ini seperti tekad yang sangat kuat," kata Effendy.

"Pada bagian Sandi, dia mengulangi semua yang dia sampaikan. Lagi-lagi dia tampil bebas dan di ujungnya ada seperti sedikit adegan drama yang direncanakan bersama. Kurang lebih mengatakan ini tidak butuh kartu-kartu. Jadi kalau bicara start up dan 10 years challenge, orang cuma butuh 1 kartu. Nanti Anda menyebutkan single identity number, sebutkan nomor Anda, keluar semuanya. Anda butuh keluarga harapankah, layanan BPJS kah, dan lain-lain. Itu yang ingin ditampilkan."

Kolom 14 hours ago

Spekulasi