Panas Debat Soal Susu, Maruf Amin Sanggah Sedekah Putih Prabowo-Sandi

Cawapres nomor urut 01 K.H. Ma'ruf Amin (kedua kiri) berjabat tangan dengan Ketua KPU Arief Budiman (tengah) disaksikan Cawapres nomor urut 02 Sandiaga Uno (kedua kanan), Minggu (17/3 - 2019). (Antara/Wahyu Putro A)
17 Maret 2019 22:44 WIB Adib Muttaqin Asfar Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA -- Tensi debat ketiga Pilpres 2019 di Hotel Sultan, Jakarta, Minggu (17/3/2019) malam, meningkat dalam sesi kelima saat kedua cawapres saling melempar pertanyaan. Maruf Amin dan Sandiaga Uno berdebat soal signifikansi program pemberian susu dengan pengurangan stunting.

Perdebatan muncul setelah Maruf Amin mempertanyakan program sedekah putih yang pernah dilontarkan oleh Sandiaga Uno. Wacana itu juga pernah dilontarkan kubu Prabowo-Sandi dalam berbagai kesempatan. "Dalam visi misi Bapak Sandi untuk mengatasi stunting, Anda menyebut melakukan sedekah putih, apa maksudnya?" tanya Maruf.

Menurut Sandi, sedekah susu adalah pemberian susu kepada anak-anak dan ibu-ibu untuk meningkatkan gizi mereka dalam rangka mencegah stunting. Hal itu, kata Sandi, karena pihaknya ingin memastikan kecukupan protein yang cukup agar stunting bisa dicegah.

"Masalah stunting ada dalam tahap gawat darurat. Sepertiga anak-anak kita kekurangan asupan gizi. Prabowo-Sandi meluncurkan Indonesia emas. salah satu aspek indonesia emas adalah gerakan ini adalah memastikan ibu-ibu, emak-emak, dapat protein cukup, susu, ikan dan sebagainya, anak-anak juga. Program itu akan mengurangi stunting secara signifikan sesuai target," kata Sandi.

Namun pendapat itu disanggah oleh Maruf Amin. Maruf memaparkan istilah itu justru mengaburkan pemahaman masyarakat tentang penyebab stunting. Pasalnya, stunting memang bukan disebabkan kekurangan gizi saat anak sudah besar, melainkan saat mereka jauh sebelum dilahirkan.

"Isu sedekah putih itu ditangkap banyak pihak sebagai program untuk memberikan susu setelah mereka besar. Stunting adalah terkait sebelum lahir, melalui asupan yang cukup, sanitasi, dan air bersih serta susu ibu selama 2 tahun, dan sedang menyusui, terutama saat ASI keluar pertama, saat clostrum, alluba, air susu ibu keluar saat melahirkan dan hukumnya wajib untuk diberikan sesuai pendapat ahli fikih," kata Maruf.

Karena itu, dia menyanggah anggapan bahwa stunting bisa diatasi dengan pemberian susu sapi kepada anak-anak. Menurut Maruf, hal itu juga memerlukan edukasi sejak dini bukan hanya pada ibu hamil, tapi juga bagi mereka yang hendak menikah. Hal itulah yang akan menurut Maruf membuat kubunya optimistis bisa merunkan angka stunting hingga 10%.

Lalu apa kata Sandi mendengar programnya dikritik? Dia mencontohkan istrinya, Nur Asiah, yang katanya seret dalam memberikan ASI sejak bayinya berusia enam bulan. Dia meminta istilah sedekah putih itu tidak diperdebatkan.

"Mpok Nur Asiah istri saya, beliau melahirkan di usia 40 tahun, anak bungsu kami, seperti seperti ajaran para guru. Tapi mendadak ASI di bulan keenam berhenti. Banyak sekali ibu yang mengalami kasus serupa. Kami ingin mengajak kontributor untuk menyediakan susu, mengumpulkan uang agar gizi ibu dan anak bisa selesai. Memberi itu baik, baik berupa susu maupun lain, bukan hanya pemerintah yanbg menangani. Ini bukan soal Prabowo-Sandi, ini untuk generasi ke depan. Mari kita jangan menyalahkan dengan satu istilah satu sama lain," kata Sandi.