Kritik Lulusan SMK Nganggur, Sandi Klaim OK OCE Turunkan 10.000 Pengangguran

Cawapres nomor urut 01 K.H. Ma'ruf Amin (kedua kiri) berjabat tangan dengan Ketua KPU Arief Budiman (tengah) disaksikan Cawapres nomor urut 02 Sandiaga Uno (kedua kanan), Minggu (17/3 - 2019). (Antara/Wahyu Putro A)
17 Maret 2019 21:36 WIB Adib Muttaqin Asfar Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA -- Debat ketiga Pilpres 2019 atau debat cawapres di Hotel Sultan Jakarta, Minggu (17/3/2019) malam, memaparkan pandangan kedua calon dalam masalah ketenagakerjaan. Sandiaga mengkritik hasil pendidikan vokasi terutama lulusan SMK yang mendominasi pengangguran. Sedangkan Maruf Amin menyebut angka pengguran Indonesia saat ini paling rendah dalam 30 tahun.

Dalam segmen ketiga, panelis memberikan pertanyaan kepada Maruf dan Sandiaga tentang masalah kualitas tenaga kerja Indonesia yang masih kerap kalah bersaing terutama di luar negeri. Maruf Amin menanggapinya dengan janjinya membuka lebih banyak pelatihan melalui berbagai lembaga dan melibatkan BUMN.

"Untuk meningkatkan kualitqas tenaga kerja adalah dengan pendidikan. Pendidikan akan kita revitalisasi bagi SMK, politeknik, akademi-akademi, akan kelompok DUDI [dunia usaha dunia industri], supaya ada relevansi link and match. Kami akan terus mengembangkan pelatihan-pelatihan, kursus-kursus, melalui BLK, melalui BUMN, baik yang sifatnya sementara, maupun jangka panjang. Dengan demikian tenaga kerja kita akan bersaing," kata Maruf.

Maruf juga menyatakan pemerintah akan meningkatkan sertifikasi terhadap tenaga kerja untuk berbagai bidang agar bisa bersaing di dalam dan di luar negeri. Selain itu, dia menekankan perlindungan tenaga kerja di luar negeri lebih dari sekadar penempatan para TKI.

Sementara itu, Sandiaga menyatakan hal berbeda. Dia menyebut peningkatan SDM memang diperlukan, namun dia mengkritik hasil pendidikan vokasi khususnya SMK yang lulusannya banyak menganggur.

"Indonesia negara yang kaya raya, SDM perlu kita tingkatkan. Namun ironis siswa SMK mendominasi pengangguran kita. Pengangguran kita, 61% anak SMK. Mereka masuk SMK namun kemudian mereka sulit mendapatkan kerja," kata Sandi.

Karena itu, kata Sandi, pihaknya akan meluncurkan rumah siap kerja dengan one stop service, serta membangun pendidikan agar bisa link and match dengan dunia industri. Salah satunya, dia ingin memberikan insentif kepada pengusaha untuk membuka program magang.

"Kita akan hadirkan di kecamatan sampai desa [rumah siap kerja]. Mereka akan mendaptkan keterampilan seperti kebutuhan revolusi 4.0. Ada yang perlu desain grafuis, ada yang ingin bisa bahasa Inggris."

Sandi pun berjanji akan menurunkan pengangguran sampai 2 juta orang. Selain itu, dia mengklaim program OK OCE sudah mampu menurunkan pengangguran hingga 10.000 orang selama 2018. "OK OCE terbukti sudah turunkan pengangguran 10.000 selama 2018. Review program itu positif. Rumah Siap Kerja bukan hanya memberikan pekerjaan, tapi membuka kesempatan. Saya alhamdulillah sudah bisa buka pekerjaan lebih dari 30.000."

Namun, Maruf menyatakan Indonesia harus bersyukur karena tingkat pengangguran yang disebutnya sangat rendah. "Yaitu 5,30; 5,13; terendah dalam 30 tahun," kata Maruf.

"Kita ingin mendorong tenaga kerja kita mampu menguasai teknologhi terutama digital, kebetulan pemerintah sekarang sudah bisa membangun infrastruktur baik darat, laut, udara, dan langit, itu adalah berupa palapa ring, infrastruktur digital, maka tumbuh industri digital, bahkan unicorn, bahkan sebentar lagi akan ada decacorn. Oleh karena itu kita akan menyiapkan anak-anak kita menghadapi 10 years challenge."

Sandiaga
bvagaomana indonesia akan menjadi ekonomi nomor 7 jika anak2 mudahnya tidak bisa dapat pekerjaan yang layak. saya pernah merasakan jadi pengangguran. yang dibutuhkan anak kita adalah kesempatan. karena itu rumah siap kareja adalah runah satu pintu. jika emreka ingin berusaha.