17 Menit Memilukan Aksi Penembakan Brutal di Selandia Baru

Brenton Tarrant didakwa atas pembunuhan sehubungan dengan serangan masjid, saat penampilannya di Pengadilan Distrik Christchurch, Selandia Baru, Sabtu (16/3 - 2019). (Reuters )
16 Maret 2019 19:15 WIB Amanda Kusumawardhani Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA -- Brenton Tarrant, pelaku aksi penembakan brutal yang menewaskan 49 orang di dua masjid di Selandia Baru, menyiarkan secara langsung penembakan yang dilakukannya melalui aplikasi yang didesain bagi penyuka olahraga ekstrem.

Aksi penembakan yang terjadi pada Jumat (15/3/2019) di Selandia Baru disiarkan secara langsung di akun Facebook tersangka. Sejak unggahan tersebut tersiar, video itu juga disebarkan melalui Twitter, Youtube, Whatsapp, dan Instagram.

Facebook, Twitter, dan Alphabet Inc. milik Youtube menyatakan mereka sudah menghapus video mengenai aksi penembakan itu. Bahkan, pihak Facebook mengungkapkan sudah menghapus akun tersangka tak lama setelah aksi penembakan.

Tetapi, berdasarkan analisis Reuters, video yang menunjukkan aksi penembakan brutal tersebut masih ditemukan hingga 10 jam setelah penyerangan terjadi.

Twitter dan Google juga menyatakan mereka sudah berupaya untuk menghentikan penyebaran video aksi penembakan. Namun, ketika dikonfirmasi ke pihak Facebook oleh Reuters, tidak ada respons terkait hal itu.

Reuters juga menemukan 15 salinan video aksi penembakan di Youtube yang diunggah dengan nama pencarian "New Zealand", " Education", dan "People & Blogs".

Di Indonesia, video aksi penembakan di Selandia Baru dibagikan oleh lebih dari 1,6 juta pengikut Instagram. Ketika dimintai konfirmasi mengenai hal itu, para pengguna tidak memberikan respons atas pertanyaan Reuters.

Facebook, Twitter, Alphabet Inc., dan media sosial lainnya mengakui mereka kesulitan untuk menghapus konten-konten negatif di aplikasinya.

Lucinda Creighton, Penasihat Senior Counter Extremism Project, mengatakan aksi penembakan di Selandia Baru menunjukkan aplikasi sosial media bisa dimanfaatkan untuk kepentingan grup ekstremis.

Dia mengemukakan penyerangan disiarkan secara langsung selama 17 menit di Facebook, sebelum akhirnya bisa dihentikan.

"Ekstremis akan selalu mencari cara untuk memanfaatkan alat komunikasi guna menyebarkan ideologi penuh kebencian dan kekerasan. Platform komunikasi tidak bisa mencegah hal itu, tetapi mereka bisa melakukan banyak hal untuk mencegah penyebarannya," tukasnya, dikutip dari Reuters, Sabtu (16/3/2019).

Brenton Tarrant merekam dan menyiarkannya aksi penyerangannya di Masjid Al Noor, Selandia Baru, dengan aplikasi telepon selular bernama LIVE4.

Aplikasi ini memungkinkan pengguna untuk menyiarkan sesuatu yang terhubung langsung ke Facebook melalui kamera yang diletakkan di badan. Aplikasi ini biasanya digunakan untuk menyebarkan video olahraga ekstrem dan pertunjukan musik.

Sumber : Reuters

Kolom 3 hours ago

Fisika di SMK