Protes Aturan Berjilbab, Aktivis HAM Iran Divonis 38 Tahun Penjara dan 148 Cambukan

Nasrin Sotoudeh, aktivis HAM Iran yang divonis 38 tahun penjara. (Theiranproject.com)
15 Maret 2019 02:10 WIB Chelin Indra Sushmita Internasional Share :

Solopos.com, TEHERAN – Pengacara sekaligus aktivis pembela hak asasi manusia Iran, Nasrin Sotoudeh, divonis 38 tahun penjara dan 148 cambukan. Hukuman itu dijatuhkan akibat tindakannya membela wanita melepas hijab di depan umum.

Mengutip The Guardian, Kamis (14/3/2019), pengacara berusia 55 tahun itu mewakili demonstran menentang pemerintah Iran. Salah satunya dengan mengunggah foto tanpa hijab di media sosial. Nasrin Sotoudeh memprotes aturan pemerintah yang mewajibkan wanita mengenakan jilbab.

Nasrin Sotoudeh ditangkap pada Juni 2018 dengan tuduhan mengawasi, menyebarkan propaganda, dan menghina pemimpin tertinggi Iran. Akibat tindakan itu, hakim Mohammad Moqiseh menjatuhkan hukuman penjara kepadanya selama tujuh tahun. Lima tahun karena melawan keamanan nasional. Dan dua tahun karena menghina Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.

Hukuman Nasrin Sotoudeh bertambah lima tahun penjara akibat dinyatakan bersalah atas tuduhan spionase. Namun, suami Nasrin Sotoudeh, Reza Khandan, mengatakan, istrinya divonis 33 tahun penjara dan 148 cambukan melalui Facebook. Kenyataannya, hukuman istinya bertambah menjadi 38 tahun penjara.

Sepanjang hidup, Nasrin Sotoudeh dikenal mengabdikan diri membela hak kaum wanita dan vokal menentang hukuman mati. Direktur Advokasi Timur Tengah dan Afrika Utara Amesty International, Philip Luther, mengatakan, tidak sepantasnya pemerintah Iran menjatuhkan hukuman tersebut kepada Nasrin Sotoudeh. Apalagi dia merupakan pemenang Sakharov Prize untuk kebebasan berpikir dari parlemen Eropa.

Pada 2010 lalu, Nasrin Sotoudeh divonis 11 tahun penjara karena membela demonstran Iran yang memprotes kecurangan pemilu pada 2009. Namun, dia mendapat grasi pada 2013. Sementara pada Januari 2019 lalu, suaminya dihukum enam tahun penjara oleh pengadilan Iran karena dituding membahayakan keamanan negara.