Komisi Eropa Larang Penggunaan Kelapa Sawit, Jonan Angkat Bicara

Pemadam Kebakaran Kota Pekanbaru berusaha memadamkan api yang membakar semak belukar di lahan gambut di Pekanbaru, Riau, Senin (14/5 - 2018) lalu. (Antara / Rony Muharrman)
14 Maret 2019 18:43 WIB David Eka Issetiabudi Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA -- Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Ignasius Jonan angkat suara terkait keputusan Komisi Eropa bahwa budi daya kelapa sawit mengakibatkan deforestasi berlebihan dan penggunaannya dalam bahan bakar transportasi harus dihapuskan.

Jonan mengatakan sebaiknya Indonesia melakukan lobi ke Uni Eropa secara komprehensif dan kompak. Menurutnya, penting juga untuk mengikuti detail persyaratan yang relevan sehingga masih dapat menyesuaikan persyaratan yang diminta seperti intensifikasi dan budi daya lahan plasma yang benar.

"Sejauh ini, Presiden mendukung pembuatan gasoil atau minyak diesel dari CPO sepenuhnya, sepanjang harga CPO dapat menyesuaikan dengan harga minyak mentah agar tetap terjangkau," katanya, Kamis (14/3/2019).

Komisi Eropa menerbitkan kriterianya pada Rabu (13/3/2019) untuk menentukan tanaman apa yang menyebabkan kerusakan lingkungan. Hal itu merupakan bagian dari undang-undang Uni Eropa baru untuk meningkatkan pangsa energi terbarukan menjadi 32% pada 2030 dan menentukan apa yang merupakan sumber terbarukan yang sesuai.

Penggunaan bahan baku biofuel yang lebih berbahaya akan ditutup secara bertahap pada 2019 hingga 2023 dan dikurangi menjadi nol pada 2030. Eropa menetapkan 10% sebagai garis pemisah antara bahan baku yang lebih sedikit dan lebih berbahaya.

Jonan menambahkan bahwa melihat situasi yang ada, Pertamina berkesempatan untuk turun tangan dan bekerja sama dengan petani plasma dengan harga yang wajar.