Reaktor Energi Keolahragaan

Agus Kristiyanto - Istimewa
13 Maret 2019 09:47 WIB Agus Kristiyanto Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (11/3/2019). Esai ini karya Agus Kristiyanto, guru besar Analisis Kebijakan Pembangunan Olahraga di Fakultas Keolahragaan Universitas Sebelas Maret. Alamat e-mail penulis adalah aguskriss@yahoo.co.id.

Solopos.com, SOLO -- Salah satu tema dalam debat kedua calon presiden adalah energi. Energi dalam konteks kehidupan yang universal merupakan inti persoalan, kekuatan untuk mendorong, menarik, menggerakkan, memindahkan, menerbangkan, melompatkan, serta berbagai aneka aksi yang diperlukan dalam pembangunan bangsa.

Energi adalah pembangkit vital yang pasti ditempatkan dalam posisi strategis. Ada banyak ungkapan global yang mempertegas sisi vital penguasaan sumber energi. Sebuah bangsa yang ingin lebih kuat dan maju wajib menguasai sumber energi. Dalam sejarah peperangan antarbangsa sejak beberapa abad silam, penyebab utamanya adalah perebutan sumber energi.

Energi memiliki daya pikat bukan karena keelokan, tetapi karena sesuatu yang mampu menggerakkan, memindahkan, memecah, menyusun, bahkan menghancurkan. Kedahsyatan fungsi vital energi tersebut menjadikan penguasaan energi sebagai indikator fondasi eksistensi bangsa.

Dalam tataran semesta politik dan pembangunan bangsa yang multidimensi, energi mencakup bentuk tangible asset (material) dan intangible asset (nonmaterial).  Energi material dapat berupa sumber panas bumi, bahan bakar hidrokarbon, pembangkit listrik, dan berbagai sumber energi material lain, termasuk energi nuklir.

Energi material merupakan sesuatu yang tampak, hingga sedikit lebih mudah untuk diperdebatkan tentang kapasitas dan ukurannya. Bentuk energi intangible asset (nonmaterial) lebih bervariasi dan memiliki disparitas yang lebih abstrak, soft, dan luas.

Tak bisa dilihat dan diraba, tetapi efeknya sangat terasa dan sangat fungsional, sebagaimana efek reaksi fusi dan fisi energi nuklir yang bisa menggerakkan, memindahkan, menumbuhkan, bahkan menghancurkan sesuatu.

Dua tipe energi tersebut sama-sama menarik untuk diulas secara berimbang karena pada era sekarang persoalan pembangunan yang terdampak teknologi 4.0 telah terkoreksi oleh variabel besar society generasi 5.0 yang dimunculkan kali pertama oleh Jepang.

Melawan Ekses Hampa Dehumanisasi

Artinya, efek humanisasi energi ternyata menjadi tantangan tersendiri untuk melawan ekses hampa dari dehumanisasi peradaban dunia yang biasanya cenderung mendewakan ”keseksian” teknologi. Sumber daya energi material yang tereksploitasi secara tak bijak cenderung mengarah pada bahaya dehumanisasi.

Dalam membahas sumber daya energi material, orang cenderung mengaitkan dengan hal-hal yang selalu mengandung ekses perilaku kolektif yang konsumtif, eksploratif, bahkan eksploitatif. Upaya pengendalian ekses energi material justru cukup menguras ”energi”. Tidak mudah mengendalikan perilaku masyarakat dalam mengonsumsi energi, apalagi mereka selalu mengira sumber energi yang tersedia masih sangat melimpah.

Energi nonmaterial wujudnya bukan pada persoalan produksi-konsumsi, tetapi berupa produksi-reproduksi dalam bentuk spirit, kebanggaan, dan berbagai manifestasi secara individual maupun kolektif berhubungan dengan kekuatan relasi sosial, simpati, empati, partisipasi, kebugaran jasmani, dan masih banyak lagi.

Gagasan tentang dahsyatnya kekuatan energi nonmaterial bukan muncul tiba-tiba dalam peradaban manusia, tetapi justru menyertai sepanjang kurun sejarah peradaban manusia. Olahraga merupakan salah satu ”reaktor” energi nonmaterial yang jika dikelola dengan bijak akan menghasilkan energi, terutama energi nonmaterial, dalam sebuah tungku reaktor yang kaya akan nilai human capital.

Salah satu tungku reaktor energi besar itu bernama keolahragaan. Sebagaimana reaktor nuklir, keolahragaan dapat merupakan proses, instrumen, atau tempat terjadinya reaksi yang menghasilkan energi yang sangat besar. Energi yang dihasilkan dalam reaktor olahraga berupa reaksi fisi (pemecahan) dan fusi (penggabungan) nilai fisik, mental, sosial yang bersifat nonmaterial.

Intangible asset  dari proses reaksi yang menghasilkan energi fisi/fusi dari ”bahan” fisik, mental, dan sosial sering dipahami sebagai karakter plus yang berupa karakter aksi yang mengenergikan. Ada investasi yang bersifat soft mengenergi dalam tataran individu maupun kolektif masyarakat, bangsa, negara, regional dan kawasan, bahkan dalam skala global.

Hal inilah yang menjadi penjelas mengapa tema Asian Games (AG) 2018 yang lalu adalah Energy of Asia. Keolahragaan sebagai tungku besar reaktor energi memiliki aneka formula yang perwujudannya membutuhkan investasi energi dalam bentuk lain. Sumber daya harus dikerahkan untuk mendapatkan imbalan energi yang lebih dahsyat.

Tiga Dimensi Energi Potensial

Setidaknya terdapat tiga dimensi energi potensial keolahragaan yang dapat diolah agar olahraga memberikan imbalan dalam bentuk energi lain (energi kinetik nonmaterial) yang berlipat ganda melalui “tungku reaktor” energi yang disesuaikan melalui skenario policy dan goodwill yang terus terkoreksi.

Pertama, olahraga dalam berbagai lingkup memiliki sumber kekuatan relasi sosial unik dan multidimensi. Interaksi keolahragaan dapat berlangsung secara lintas individu, lintas etnis, lintas agama, lintas negara, lintas bangsa sehingga menghasilkan nilai-nilai humanisme egaliter yang menjadi kekuatan lengkap dalam mewujudkan kesejahteraan dunia.

Maksudnya, energi potensial keolahragaan berupa posisi dan kandungan energi untuk mendamaikan (peace), menyehatkan (health), dan memakmurkan (development). Investasi energi untuk memecahkan dan menggabungkan energi potensial tersebut adalah dengan peningkatan modal kualitas penyelenggaraan kompetisi olympic dames serta penyelenggaraan physical education di semua level pendidikan formal.

Kalau ”tungku-tungku reaktor” energi keolahragaan tersebut berhasil diinvestasikan, energi kinetik keolahragaan muncul secara dahsyat dalam bentuk sinergi relasi sosial yang saling membesarkan. Kedua, energi nonmaterial kebanggaan (pride) dan penguatan semangat nasionalisme. Investasi yang perlu ditanamkan berupa dana, infrastruktur olahraga, serta sumber daya manusia yang berkeahlian dan sentuhan kepakaran.

Dengan kombinasi sumber daya yang sesuai melalui formula “reaktor” yang tepat, buah investasi akan lekas mewujud dalam performa daya saing dan prestasi olahraga yang membanggakan. Bukan hanya membanggakan pribadi dan kelompok, tetapi membanggakan seluruh komponen bangsa, terutama tatkala Sang Merah Putih dikibarkan secara khidmat bersamaan lantunan lagu Indonesia Raya.

Ketiga, energi nonmaterial yang berupa kapasitas kebugaran dan gairah partisipasi dalam berolahraga. Pada awalnya urusan kebugaran dan partisipasi merupakan urusan pribadi. Ternyata hal tersebut merupakan intangible asset yang merepresentasikan energi kolektif pada sebuah komunitas, masyarakat, dan bangsa. Sumber energi kolektif yang berbasis gaya hidup sehat (healthy life style) mengacu pada berbagai parameter, terutama ranah kebugaran jasmani masyarakat dan angka partisipasi masyarakat dalam berolahraga.

Proses Berperilaku Sehat

Kebugaran jasmani masyarakat menjadi parameter inti dari produk atau outcome gaya hidup sehat. Bugar itu sebuah keadaan yang menunjukkan hasil dari proses berperilaku sehat, bahkan gaya hidup sehat. Sedangkan partisipasi merupakan bentuk ”prasyarat aksi” dari pribadi maupun masyarakat secara kolektif. Kendati sebagai bentuk energi nonmaterial, kebugaran jasmani bangsa dan angka partisipasinya dapat dideteksi dan dipersiapkan kapasitasnya.

Survei kebugaran jasmani dan partisipasi di Jawa Tengah pada 2017 (Agus Kristiyanto, dkk) dapat dijadikan acuan untuk melihat kapasitas energi nonmaterial tersebut. Analisis terhadap sampel 2.046 orang di 10 kabupaten/ kota memeproleh rata-rata indeks kebugaran jasmani yang masih rendah, yakni 0,29. Indeks partisipasi masyarakat dalam berolahraga adalah 0,31.

Artinya baru 31% warga Jawa Tengah yang melakukan olahraga minimal tiga kali per pekan. Partisipasi artinya gaya hidup berolahraga yang telah sampai tahap habituasi. Di Australia, angka partisipasi masyarakat dalam berolahraga mencapa 60%-70 % dengan komposisi yang relatif stabil. Australia dengan sendirinya lebih memiliki kapasitas energi nonmaterial untuk kepentingan daya saing bangsanya di dalam olahraga maupun di luar olahraga.

Membangun ”reaktor” energi keolahragaan artinya memperbaiki instalasi reaktor dengan semangat kreatif dan keberpihakan. Pada dimensi energi soft skill olahraga melalui tungku energi sistem persekolahan formal, perlu terobosan berani untuk mengaktifkan instalasi program intrakurikuler pendidikan jasmani yang wajib disertai program ekstrakurikuler.

Investasi energi nonmaterial melalui program gaya hidup sehat dilakukan melalui rencana kreatif membangun ”reaktor” energi keolahragaan yang disesuikan dengan kekhususan masyarakat yang heterogen. Tungku reaktor energi untuk memperoleh imbalan energi kebanggaan dan nasionalisme harus dibangun dengan bahan bakar pokok ilmu pengetahuan dan teknologi olahraga.

Jangan biarkan tungku reaktor energi keolahragaan hanya diam sebagai instalasi indah yang kaya potensi, tetapi wajib ada sentuhan kreatif agar berdenyut menghasilkan energi kinetik dan mekanik, bahkan energi kuantum, yang mampu menggerakkan, menerbangkan, dan melompatkan kemajuan bangsa pada berbagai bidang.