Begini Beratnya Menyiapkan Pemilu di India

Petugas menyiapkan peranti electronic voting machine (EVM) atau mesin pemungutan suara yang akan digunakan dalam pemilu India di sebuah gudang logistik pemilu di Ahmedabad, India, belum lama ini. - JIBI/Solopos/Reuters
13 Maret 2019 09:30 WIB R Bambang Aris Sasangka Internasional Share :

Solopos.com, NEW DELHI – Tanggal 11 April mendatang akan menjadi saat India memulai proses pemilihan umum. Pemilu di sini hanya memilih anggota legislatif karena nantinya partai yang berhasil menguasai kursi terbanyak di parlemen yang akan diberi mandat membentuk pemerintahan. Ketua partai pemenang pemilu secara otomatis akan menjadi perdana menteri.

Dengan 1,3 miliar penduduk, India disebut sebagai negara demokratis terbesar di dunia. Coba kita lihat angka-angkanya. Sebanyak lebih dari 830 juta warga India memiliki hak pilih berdasarkan data saat pemilu 2014 silam. Bandingkan dengan Indonesia yang untuk pemilu 2019 ini memiliki lebih kurang 192 juta pemilih. Sementara itu ada 8.251 kandidat dari lebih 460 partai politik. Wow, banyak sekali partainya? Iya, karena di tingkat lokal seperti negara bagian juga ada partai-partai lokal yang jumlahnya banyak. Pelaksanaan pemilu menjadi tanggung jawab KPU-nya India yang disebut Election Commission of India (ECI).

Yang diperebutkan dalam pemilu ini adalah 543 dari 545 kursi di majelis rendah parlemen atau yang disebut Lok Sabha. Uniknya ada jejak era kolonial di sini, yaitu karena ada dua kursi yang dikhususkan bagi masyarakat berdarah India-Inggris, atau kalau di Indonesia sering disebut “kaum Indo.” Mereka adalah keturunan orang Inggris atau bangsa Barat lainnya yang menikah dengan warga India di masa kolonial. Dua kursi khusus ini akan diduduki orang yang ditunjuk oleh Presiden India. Secara rata-rata, tiap konstituensi atau daerah pemilihan diperebutkan oleh 15 orang. Namun ada juga yang satu dapil diperebutkan hingga 42 orang. Setiap dapil hanya akan diwakili oleh satu orang legislator di parlemen tingkat pusat. Jadi persaingan memang sangat ketat.

Saat pemilu 2014, ECI mendirikan 927.553 tempat pemungutan suara. Tiap TPS melayani lebih kurang 900-an orang. Panduan ECI menyebut pemilih harus berada dalam radius maksimal 2 km dari TPS, tak boleh lebih jauh. Karena itu pada 2014 ECI “bela-belain” menyiapkan satu TPS di tengah hutan di kawasan Gir, Negara Bagian Gujarat, yang merupakan habitat singa Asia. Berapa jumlah pemilih yang dilayani di situ? Cuma seorang!

Demi mempersiapkan dan melaksanakan pemilu, lebih kurang 5 juta aparat pemerintah dan personel keamanan diterjunkan untuk menjangkau berbagai daerah. Kendaraan yang dipakai untuk mengangkut logistik dan personel beraneka ragam, mulai dari mobil, perahu, helikopter, kereta api, sampai jalan kaki atau naik gajah, tergantung medannya. Lebih dari 80.000 TPS ada di wilayah yang tak punya koneksi telepon, baik kabel maupun seluler. Hampir 20.000 TPS berada di wilayah hutan liar atau wilayah setengah hutan.

Jangan dibayangkan pula kalau proses pemungutan suara di India seperti di Indonesia yang rampung dalam sehari. Tanggal 11 April yang ditetapkan sebagai saat pemilu hanyalah penanda atau “teng”-nya saja, karena proses pemilu dilaksanakan selama lebih dari sebulan secara bergiliran dari sejumlah daerah satu ke sejumlah daerah lain. Harus begitu karena kalau digelar serentak yang harus rampung sehari, tenaga pelaksana dan peralatan pendukungnya tidak cukup. Dengan cara bergiliran maka petugas pemilihan dan personel keamanan bisa diterjunkan bergantian ke wilayah yang melaksanakan pemilu.

Berapa biayanya? Untuk pemilu 2014 silam ECI menyebut anggaran yang dipakai mencapai 38,7 miliar rupee atau Rp7,9 triliun.

Hebatnya, India sudah menerapkan sistem pemungutan suara dengan menggunakan alat yang disebut electronic voting machine (EVM) sejak 1982. Pada 2014, sebanyak 1,8 juta buah alat ini dipakai. Selain mempercepat proses perekaman dan penghitungan suara, alat ini juga membantu pemilih yang buta aksara, yang jumlahnya masih sangat banyak di India.

Sumber : Reuters