Sindir Partai Nasionalis, PSI: Masa Kami Diam Hanya Karena Satu Koalisi

Rian Ernest, Juru Bicara Partai Solidaritas Indonesia (PSI). (Bisnis/Aziz R)
13 Maret 2019 20:10 WIB Aziz Rahardyan Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA — Pidato politik Ketua Umum Partai Solidaritas Indonesia (PSI) Grace Natalie yang menyindir soal "Partai Nasionalis' di Medan International Convention Center, Senin (11/3/2019), memicu perdebatan di antara parpol Koalisi Indonesia Kerja (KIK).

Sebelumnya, Ketua DPP PDIP Hendrawan Supratikno menyebut PSI sebagai partai baru yang kurang informasi, genit, dan lebai. Berikutnya, giliran Ketua Umum Sekretariat Nasional (Seknas) Jokowi, Muhammad Yamin, mengkritik PSI yang kontraproduktif sehingga meminta agar partai muda ini menjaga soliditas koalisi.

Terus dikritik gara-gara pidato Grace Natalie, PSI pun angkat bicara. Juru bicara PSI Rian Ernest menjelaskan bahwa PSI menjamin tetap berkomitmen memenangkan paslon nomor urut 01 Jokowi-Ma'ruf.

"Pertama-tama terima kasih atas saran dan kritik dari kawan-kawan di Seknas Jokowi. Justru bentuk kritik PSI ke teman koalisi adalah bentuk pendidikan politik, agar publik tercerahkan seperti apa posisi politik partai nasionalis besar di Indonesia," ungkap Rian kepada Bisnis/JIBI, Rabu (13/3/2019).

"Di setiap blusukan saya di Jakarta Timur, saya akan mengawali pidato saya dengan menceritakan alasan kita harus pilih Jokowi. Di baliho saya di Jakarta Timur, saya pasang juga foto Pak Joko Widodo, padahal Pak Presiden tidak menang di Jaktim lima tahun lalu. Inilah komitmen dan sikap politik," ungkapnya.

Atas dasar itulah, pria kelahiran Jerman, 24 Oktober 1987, ini menjamin bahwa kritikan terhadap "Partai Nasionalis" tidak bertujuan memperkeruh suasana sesama parpol koalisi. Namun, kata dia, hal itu sebagai bukti konsistensi sikap politik PSI sesuai jargon mereka "Anti Korupsi, Anti Intoleransi".

"Justru tidak patut kalau hanya dikarenakan satu perahu koalisi, lalu menjadikan kami wajib diam, lalu berhenti melakukan fungsi politik kami dalam meningkatkan kualitas demokrasi di Indonesia. Bukan itu semangat kaum muda yang ingin melakukan pembaruan dunia politik Indonesia," tegasnya.

Sebelumnya, pidato politik Grace menyindir "Partai Nasionalis" lain akibat tidak bersuara pada kasus korban persekusi Meliana yang dibakar rumahnya, pemerintah kota Jambi yang menyegel tiga gereja, persekusi atas jemaat GBI Philadelpia di Labuhan Medan, serta kasus penggergajian nisan salib yang sempat viral di media sosial.

Atas pidato tersebut, pengamat politik dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, Adi Prayitno sempat menyebut PSI memanaskan situasi sesama parpol KIK, terutama PDIP dan Golkar. Sebab, PSI dianggap ingin mengambil basis suara kedua "partai senior" tersebut di perhelatan Pemilu 2019.

Sumber : Bisnis/JIBI