Pemadaman Listrik Massal di Venezuela Renggut Nyawa 21 Orang

Pasien rumah sakit di Venezuela bertahan dalam gelap (Reuters/Carlos Eduardo Ramirez)
12 Maret 2019 18:45 WIB Chelin Indra Sushmita Internasional Share :

Solopos.com, CARACAS – Sekitar 21 orang meninggal dunia akibat pemadaman listrik besar-besaran di Venezuela selama empat hari. Pemadaman listrik massal terjadi sejak Kamis (7/3/2019), sore yang melanda 70 persen wilayah Venezuela. Akibatnya, sejumlah rumah sakit tidak bisa beroperasi dengan normal karena terbatasnya pasokan listrik, sehingga merenggut sejumlah nyawa pasien.

Seorang dokter sekaligus politikus oposisi Venezuela, Jose Manuel Olivares, mengatakan, kematian tersebut disebabkan ketidakmampuan Nicolas Maduro memimpin negara. Dia sangat prihatin dengan tragedi tersebut dan menyalahkan Nicolas Maduro.

“Ini tragedi yang sangat menyedihkan. Ini semua akibat ketidakmampuan Nicolas Maduro memimpin negara,” terangnya seperti dikabarkan The Guardian, Senin (11/3/2019).

Pemimpin oposisi, Juan Guaido, mengatakan, tragedi ini merupakan pembunuhan yang dilakukan Nicolas Maduro. Pemadaman listrik itu ditaksir menyebabkan kerugian sekitar US$400 juta atau sekitar Rp5,7 triliun.

Venezuela telah runtuh. Tidak ada layanan dirumah sakit. Ditambah pemadaman listrik, keterbatasan barang pokok, hingga sulitnya mencari transportasi. Bayangkan saja jika negara Anda gelap gulita selama empat hari tanpa listrik hingga menyebabkan nyawa melayang. Ini jelas pembunuhan,” kecamnya seperti dikutip dari CNN, Selasa (12/3/2019).

Sementara itu, Nicolas Maduro justru menyalahkan Amerika Serikat terkait pemadaman listrik tersebut. Dia menuding Amerika Serikat menyabotase jaringan listrik di Venezuela untuk menjatuhkan citra pemerintahannya.

Pernyataan itu langsung ditanggapi oleh Juan Guaido dengan emosi. Menurutnya, tuduhan itu sama sekali tidak masuk akal. Sebab, pembangkit listrik utama di Venezuela memang sudah usang dan saatnya diperbarui.