Selamat dari Musibah Pesawat Ethiopian Airlines Gara-Gara Telat

Reruntuhan pesawat Boeing 737 MAX 8 Ethiopian Airlines yang jatuh di dekat Kota Bishoftu, Ethiopia. Foto diambil pada Senin (11/3/2019). - JIBI/Solopos/Reuters
12 Maret 2019 12:36 WIB R Bambang Aris Sasangka Internasional Share :

Solopos.com, ADDIS ABABA – Di tengah kabar tragis jatuhnya pesawat penumpang Boeing 737 MAX 8 milik Ethiopian Airlines, terselip kabar mengenai selamatnya orang yang seharusnya menumpang pesawat nahas itu.

Salah satunya adalah seorang warga Indonesia yang bekerja untuk lembaga PBB United Nation Development Programme (UNDP), Agus Wandi. Dia berkisah di unggahan Facebook-nya yang dikutip bizlaw.id, Senin (11/3/2019), bahwa awalnya dirinya juga dijadwalkan terbang dengan pesawat nahas itu. Dia waktu itu pulang dari Jakarta dan seharusnya meneruskan perjalanan ke Freetown, Ibu Kota Sierra Leone, tempatnya bertugas selama ini lewat Nairobi. Namun, lantaran pesawat dari Jakarta terlambat sampai di Addis Ababa, Ethiopia, penerbangannya dialihkan ke pesawat lain.

"Sedang transit di Addis Ababa, Ethiopia dan tiba dengan selamat. Alhamdulillah beruntung karena pesawat dari Jakarta tiba terlambat. Jadinya koneksi saya ke Nairobi dan Freetown diubah ke malam hari ini, bukan dengan pesawat pagi ini," tulis Agus Wandi di laman Facebook-nya. “Di bandara saya dikunjungi dua teman lama dari EU [Uni Eropa] dan UN security [petugas keamanan PBB] karena menyangka saya di pesawat yang nahas. Ada 19 staf UN [PBB] di pesawat itu ," tulis pria asal Aceh itu.

Kisah selamat lainnya berasal dari seorang warga Yunani yang lolos dari insiden tragis itu karena terlambat dua menit. "Saya marah karena tidak ada satu orang pun yang membantu saya mencapai pintu keberangkatan tepat waktu," ucap Antonis Mavropoulos dalam unggahan Facebook-nya, seperti dilansir AFP, Senin. Dilaporkan media lokal Yunani, Athens News Agency, bahwa Mavropoulos merupakan presiden sebuah organisasi nirlaba bernama International Solid Waste Association. Dia hendak terbang ke Nairobi, Kenya, untuk menghadiri konferensi tahunan Program Lingkungan PBB.

Mavropoulos seharusnya ikut naik pesawat nahas tersebut, namun dia baru tiba di pintu keberangkatan sekitar dua menit setelah pintu ditutup. Dia kemudian memesan penerbangan lain namun dicegah untuk naik pesawat oleh petugas Bandara Addis Ababa. "Mereka membawa saya ke kantor polisi di bandara. Petugas memberitahu saya untuk tidak memprotes tapi berdoa pada Tuhan karena saya satu-satunya penumpang yang tidak naik penerbangan ET 302 yang hilang," sebut Mavropoulos dalam unggahan di Facebook-nya. Mendengar informasi itu, Mavropoulos mengakui dirinya sangat kaget.

Menurut Mavropoulos, otoritas setempat ingin menanyai dirinya karena dia menjadi satu-satunya penumpang yang tidak naik pesawat nahas tersebut. "Mereka mengatakan mereka tidak bisa membiarkan saya pergi sebelum memeriksa identitas saya, juga alasan saya tidak naik pesawat dan sebagainya," tulisnya.

Sumber : Newswire