Perempuan Era Industri 4.0

Yeni Farida - Istimewa
11 Maret 2019 09:37 WIB Yeni Farida Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Sabtu (9/3/2019). Esai ini karya Yeni Farida, bekerja di Badan Pusat Statistik Kabupaten Boyolali. Alamat e-mail penulis adalah yenifarida@bps.go.id.

Solopos.com, SOLO -- Perempuan memiliki peranan penting dalam pembangunan. Dari segi jumlah, hampir separuh penduduk indonesia adalah perempuan. Artinya kontribusi perempuan sangat berpengaruh terhadap produktivitas nasional.

Jumlah perempuan yang bekerja masih jauh lebih sedikit daripada jumlah laki-laki yang bekerja. Hasil Survei Angkatan Kerja Nasional (Sakernas) Agustus 2018 yang dilaksanakan Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan jumlah perempuan yang bekerja 47.945.498 orang, sementara laki-laki yang bekerja 76.059.452 orang.

Keterserapan tenaga kerja ini juga dapat dilihat dari angka Employment to Population Ratio (EPR). Pada Agustus 2018, EPR laki-laki lebih tinggi 1,5 kali dibandingkan EPR perempuan. Artinya jumlah tenaga kerja laki-laki yang terserap di dunia kerja lebih banyak daripada perempuan.

Perempuan memang memiliki tugas utama dalam urusan domestik atau mengurus rumah tangga. Bukan hal yang mudah untuk berperan ganda bekerja di dalam dan di luar rumah. Karena itulah istilah wonder woman sangat layak disematkan bagi perempuan yang sukses menjalankan peran ganda tersebut.

Kalau dibandingkan dengan zaman dahulu, jumlah perempuan bekerja pada masa kini jauh lebih meningkat. Perempuan juga banyak berperan di segala bidang dan profesi. Apalagi gaung kesetaraan gender  terus disuarakan terutama oleh kaum feminis.

Diskriminasi yang dialami perempuan di dunia kerja masih terus terjadi. Dari hasil Sakernas Agustus 2018 diperoleh data dan informasi mengenai perempuan di dunia kerja.

Dari segi pendapatan, rata-rata upah/gaji yang diterima perempuan pekerja adalah Rp2,4 juta. Ada selisih cukup besar dibandingkan dengan rata-rata upah yang diterima laki-laki pekerja yang senilai Rp3,06 juta.

Dominasi

Menurut lapangan usaha, perempuan bekerja lebih dominan daripada laki-laki pada kategori perdagangan besar dan eceran, akomodasi, makanan dan minuman, dan jasa pendidikan. Sektor formal juga masih didominasi oleh laki-laki yang mencapai 65,78%, sementara perempuan 34,72%.

Menurut jam kerja, perempuan yang bekerja di bawah 35 jam per pekan sebanyak 40,73%, lebih banyak daripada laki-laki yang hanya sebanyak 24.33%.  

Perempuan pekerja paruh waktu sebanyak 32,27%, lebih banyak daripada laki-laki  yang sebanyak 15,84%. Dalam proses perekrutan tenaga kerja gejala yang tampak adalah lebih mengutamakan laki-laki.

Revolusi industri 4.0 menjadi topik perbincangan hangat akhir-akhir ini. Revolusi industri merupakan tahapan kemajuan peradaban manusia berkat berbagai penemuan yang dimulai sejak industri 1.0 ketika tenaga manusia dan hewan mulai digantikan oleh kemunculan mesin uap.

Kemudian industri 2.0 ditandani penemuan pembangkit tenaga listrik dan sejumlah mesin industri. Selanjutnya industri 3.0 yang ditandai kemunculan mesin otomatis, teknologi digital, dan Internet.

Sekarang ini memasuki era industri 4.0 yang menggabungkan teknologi digital dengan teknologi siber, kecerdasan buatan dan Internet of things (IoT). Dengan IoT dan pemanfaatan big data, perusahaan dapat menghasilkan keputusan yang cepat dan tepat.

Era industri 4.0 merupakan kesempatan emas bagi perempuan karena kekuatan fisik pada zaman ini tak lagi berarti. Yang terpenting pada era ini adalah koneksi, kolaborasi, dan komunikasi.

Multitasking

Perempuanlah yang lebih unggul daripada laki-laki dalam hal-hal tersebut. Kemampuan multitasking dan kecenderungan perempuan untuk bekerja sama juga merupakan potensi yang dibutuhkan pada era ini.


Waktu dan ruang pun bukan lagi penghalang yang artinya perempuan bisa bekerja atau belajar dari rumah dengan berkembangnya ruang-ruang virtual. Pada era ini urusan domestik pun banyak mendapat kemudahan.

Terdapat banyak perangkat yang mempermudah urusan mencuci, memasak, dan membersihkan rumah. Urusan berbelanja kebutuhan rumah tangga bisa secara online. Transportasi dengan aplikasi daring mempermudah mobilitas perempuan sekarang.

Tentu untuk meraih peluang pada era ini perlu kesiapan. Dari segi pendidikan masih perlu ditingkatkan karena masih banyak perempuan yang berpendidikan rendah, yakni SMP ke bawah.  

Menurut hasil Survei Sosial Ekonomi Nasional (Susenas) 2017 sekitar dua orang dari 10 orang perempuan berusia 15 tahun ke atas di Indonesia tidak memiliki ijazah.

Hasil Susenas 2017 juga menunjukkan bahwa perempuan yang mengakses Internet sebanyak 15,42%, masih jauh lebih rendah daripada laki-laki yang sebanyak 25,38%.

Hasil Survei Penetrasi Pengguna Internet 2017 yang diselenggarakan Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) menunjukkan  pengguna internet di Indonesia mencapai 143,26 juta jiwa.

Artinya lebih dari separuh total penduduk Indonesia mengakses Internet dan komposisi menurut jenis kelamin juga menunjukkan hasil yang sama bahwa perempuan yang menggunakan Internet (48%) juga lebih sedikit daripada laki-laki (52%).

Perempuan perlu meningkatkan kefasihan digital karena sementara ini laki-laki masih lebih unggul dalam hal ini. Dari sejak dini perempuan harus mulai dikenalkan dengan bidang teknologi informasi (TI) karena sampai saat ini masyarakat masih menganggap bidang TI dan komputer masih lekat dengan kaum laki-laki.

Sukses

Beberapa perempuan Indonesia telah sukses meraih peluang pada era digital di antaranya adalah Cynthia Tenggara yang berhasil mengembangkan Berrykitchen, bisnis katering modern via layanan pengiriman makan siang.

Diajeng Lestari sukses meluncurkan e-comerce yang diberi nama Hij-Uup. Grace Tahir meluncurkan aplikasi Pilih Dokter sebagai wadah konsultasi online bagi pasien dan dokter. Masih banyak lagi perempuan sukses lainnya.

Kunci sukses mereka kurang lebih sama, yakni mendampingkan kefasihan digital dengan kemampuan inovasi dan kolaborasi. Pada masa depan kita harapkan muncul semakin banyak perempuan yang mampu meraih sukses pada era ini.

Dukungan pemerintah tentu sangat diperlukan, terutama memastikan akses pendidikan bagi perempuan. Dukungan pemerintah juga dibutuhkan untuk menyiapkan sarana/prasarana yang dibutuhkan,  di antaranya memperluas jangkauan akses Internet karena hal ini adalah keharusan pada era kini.

Kita baru saja memperingati Hari Perempuan Internasional pada Jumat (8/3). Momentum ini harus menjadi pengingat dan pembangkit kesadaran bersama bahwa pemberdayaan perempuan merupakan investasi yang sangat berharga pada era kini untuk menyongsong masa depan karena jika perempuan berdaya niscaya Indonesia berjaya.