SMRC: Pendukung Jokowi Lebih Percaya KPU Dibandingkan Pendukung Prabowo

Komisioner KPU Klaten, Samsul Huda, menjelaskan tentang surat suara dan tata cara mencoblos saat Pemilu 2019 kepada warga Dukuh Girpasang, Desa Tegalmulyo, Kecamatan Kemalang, Sabtu (23/2/2019). (Solopos - Taufiq Sidik Prakoso)
11 Maret 2019 10:40 WIB Danang Nur Ihsan Nasional Share :

Solopos.com, JAKARTA — Sebanyak 80% pemilih percaya dengan kemampuan Komisi Pemilihan Umum (KPU) dalam menyelenggarakan Pilpres 2019. Pendukung capres-cawapres Joko Widodo (Jokowi)-Ma’ruf Amin cenderung lebih percaya dengan KPU dibandingkan pendukung capres-cawapres Prabowo Subianto-Sandiaga Uno.

Hal tersebut terungkap dalam survei yang dirilis Saiful Mujani Research and Consulting (SMRC) di Jakarta, Minggu (10/3/2019). Hasil survei yang dikutip Solopos.com dari laman saifulmujani.com, menyebutkan 75,9% pendukung Jokowi cukup yakin dengan KPU, 15,4% sangat yakin, 4,9% kurang yakin, 0,1% tidak yakin sama sekali, sisanya tidak tahu.

Sedangkan pendukung Prabowo 55,2% cukup yakin dengan KPU, 10,4% sangat yakin, 20,2% kurang yakin, 3,1% tidak yakin sama sekali, dan sisanya tidak menjawab.

SMRC juga mencatat keyakinan pemilih terhadap Bawaslu juga tinggi yaitu 68% cukup yakin mampu mengawasi pilpres, 10% sangat yakin, 10% kurang yakin, 1% tidak yakin, dan 9% tidak tahu.

Direktur Riset SMRC Deni Irvani mengatakan meski mayoritas pemilih yakin dengan KPU dan Bawaslu, namun perlu ada perhatian khusus berkaitan dengan beberapa isu. SMRC mencatat 56% responden tidak percaya dengan isu KPU tidak netral, 13% percaya KPU tidak netral, dan sisanya tidak menjawab.

”Terdapat sekitar 13 persen rakyat yang menilai KPU tidak netral. Itu berarti terdapat sekitar 25 juta warga yang menganggap KPU tidak netral, dan jumlah besar ini bisa menjadi masalah bagi KPU dan Bawaslu bila dimobilisasi,” sebut Deni sebagaimana dikutip Solopos.com dari laman saifulmujani.com.

Survei SMRC itu dilakukan pada 24-31 Januari 2019 dengan melibatkan 1.620 responden yang dipilih secara random di seluruh Indonesia. Margin of error-nya 2,65 persen.

Deni mengatakan dalam isu 7 kontainer berisi surat suara tercoblos, sebanyak 61% tidak percaya dan hanya 4% yang percaya. Sedangkan untuk kotak suara kardus, 36% responden tidak percaya kotak suara kardus mempermudah kecurangan, 34% percaya, dan 30% tidak tahu. ”Pemilih terbelah antara yang yakin dan tidak yakin bahwa kotak suara itu bisa menjadi sumber kecurangan,” kata Deni.

Dalam isu kotak suara kardus itu, 43,3% pendukung Jokowi tidak percaya kotak suara kardus mempermudah kecurangan, 30% percaya, dan sisanya tidak tahu. Sedangkan pendukung Prabowo, 47,1% percaya kotak suara kardus mempermudah kecurangan 29% tidak percaya, dan sisanya tidak tahu.

Deni mengingatkan masih adanya potensi masalah yang bisa mendelegitimasi hasil pemilu yang datang dari kalangan yang kurang mempercayai kebersihan dan kejujuran pemilu.

”Penilaian terhadap kompetensi dan integritas KPU dan Bawaslu oleh pemilih sangat berkaitan dengan sikap partisan pemilih. Pemilih yang tidak yakin terhadap KPU dan Bawaslu cenderung merupakan pemilih Prabowo-Sandi. Sebaliknya yang yakin cenderung pemilih Jokowi-Ma’ruf Amin. Sikap partisan dalam menilai kompetensi penyelenggara pemilu tersebut potensial meingkatkan ketegangan politik dan menjadi tantangan bagi profesionalisme penyelenggara pemilu dan pilpres,” sebut Deni.

Dalam survei itu, SMRC juga menyebut elektabilitas pasangan Jokowi-Ma’ruf 54,9% dan Prabowo-Sandi 31,1%. ”13 Persen masih tak menjawab selisih ini secara statistik signifikan dan nyata, calon satu unggul atas calon yang lain, tapi preferensi politik tak pernah stabil bisa berubah tergantunng sitatuasi kondisi," kata dia.