Revolusi PSSI Jangan Sampai Mati

Abu Nadhif - Dokumen Solopos
10 Maret 2019 09:00 WIB Abu Nadhif Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Senin (4/3/2019). Esai ini karya Abu Nadhif, jurnalis Harian Solopoa. Alamat e-mail penulis adalah abu.nadhif@solopos.co.id.

Solopos.com, SOLO -- Malang benar Joko Driyono. Pada saat jutaan penduduk Indonesia bersuka ria merayakan juara Piala AFF U-22, Joko justru menjadi bulan-bulanan dan cemoohan masyarakat Internet (warganet) karena prestasi itu.

Warganet ”berfatwa” karena ”Joko Driyono menjadi tersangka” Indonesia bisa mengangkat piala sebab para mafia bola telah tiarap akibat diburu Tim Satuan Tugas Antimafia Bola.

Joko dan pengurus Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) lainnya telanjur terstigma sebagai mafia atau setidak-tidaknya pelindung mafia sepak bola di Indonesia.

Namanya juga dunia maya, anggapan itu tentu sangat subjektif. Hukum dagelan yang berlaku saat ini ”mahabenar warganet dengan segala omongan mereka”. Jika ditelusuri, gelar juara yang diraih tim nasional bukan hanya diraih kala mafia sepak bola diusut polisi.

Saat tim nasional U-16 juara Piala AFF pada 2018, mafia bola sedang nyaman-nyamannya memunguti rupiah. Begitu pun kala tim nasional U-19 juara Piala AFF pada 2013, mafia bola juga hanya bisa jadi gunjingan para penggila bola.

Bagaimana pun inilah efek samping kemajuan teknologi. Pada era media sosial, kita harus rela dihukum secara sosial sebelum benar-benar dibuktikan salah secara hukum. Mau tidak mau, rela tidak rela, begitulah hukum media sosial.

Bukan hanya Joko, nyaris tidak ada sosok di PSSI yang tidak dihujat warganet. Kasus match fixing (pengaturan skor pertandingan) nyaris membuat PSSI tidak ada benarnya. Kehadiran Sekretaris Jenderal (Sekjen) PSSI Ratu Tisha Destria di samping pelatih Indra Sjafrie dalam penyambutan tim nasional di Bandara Internasional Soekarno-Hattapun hanya mengundang cibiran.

Biarlah berjalan begitu. Obor semangat memberantas mafia sepak bola memang harus terus dinyalakan. Semangat suporter memerangi pengaturan hasil pertandingan dalam sepak bola tak boleh surut sebagai faktor penekan agar pengurus PSSI tidak macam-macam lagi.

Faktanya, dalam kondisi terdesak seperti sekarang pun ada orang di PSSI yang tidak lelah bertingkah. Penetapan Joko Driyono sebagai tersangka dalam dugaan penghilangan barang bukti kasus yang sedang diusut Satgas Antimafia Sepak Bola adalah buktinya.

Menahan Keringat Dingin

Sulit dibayangkan, saat 23 pemuda di tim nasional U-22 bersusah payah mengharumkan nama bangsa di Kamboja, para pengurus federasi berjibaku menghindar dari kejaran Satgas. Saat Osvaldo Haay dan kawan-kawan bermandi keringat dalam latihan, pengurus PSSI menahan keringat dingin agar tak tersangkut dalam pengusutan polisi.

Polisi sudah berada di jalan yang benar mengusut orang-orang rakus di sepak bola. Episode kelam sepak bola Indonesia selama dua dekade harus diakhiri. Dua kali dipimpin sosok yang bermasalah dengan hukum bukan cerita manis untuk anak cucu kita nanti.

Sudah cukup permakluman seperti era Nurdin Halid yang memimpin PSSI dari balik penjara. Dulu saat Nurdin Halid dipenjara, PSSI memang masih berjalan, roda kompetisi bisa digulirkan. Apa prestasinya? Tidak ada! Yang ada mutu permainan tim nasional melempem, bentrokan suporter menjadi berita sehari-hari, gaji pemain tertunggak, dan lain sebagainya.

Kini PSSI mengalami kondisi yang nyaris sama dengan era Nurdin Halid. Pemimpin tertinggi berstatus tersangka dan segera menjadi pesakitan, bahkan lebih parah. Dulu Nurdin dipenjara karena kasus korupsi di Bulog yang tidak ada kaitannya dengan sepak bola, kali ini justru sebaliknya. Joko Driyono calon pesakitan kasus mafia bola.

Publik ingin Satgas Antimafia Sepak Bola bisa mengungkap semua kebusukan di PSSI. Praktik pengaturan skor pertandingan adalah permufakatan jahat yang menyakiti jutaan rakyat Indonesia yang gila bola.

Ribuan suporter yang berbondong-bondong memadati stadion untuk mendukung tim kesayangan dibohongi beberapa orang yang menjadikan federasi sepak bola sebagai markas penghimpun pundi-pundi uang.

Rasanya hampa prestasi yang diraih tim kesayangan ternyata diperoleh bukan dari kerja jujur melainkan melalui permainan di luar lapangan. Lebih menyesakkan lagi bagi tim lawan yang harus puasa prestasi karena dicurangi habis-habisan.

Kita juga merasa sangat terhina karena fanatisme untuk sepak bola ternyata tak semulia kenyataannya. Nyawa-nyawa yang melayang saat mendukung tim menjadi sia-sia karena pertandingan itu semu. Semua diatur oleh mafia.

Nyawa suporter seolah-olah tidak ada harganya. Mereka mati sia-sia untuk tujuan semu. Apa artinya semua jerih payah 24 pemain jika hasilnya sudah direncanakan sejak sebelum dimulainya pertandingan? Yang tersisa hanya bau keringat.

Sungguh kasihan para suporter yang meninggal, ratusan bahkan ribuan yang terluka karena baku hantam membela klub masing-masing. Nyaris semua laga itu adalah sandiwara. Saat suporter saling bantai berkalang nyawa, para elite sepak bola tertawa-tawa menata harta.

Rutinitas di Sepak Bola

Pengakuan  Dwi Irianto alias Mbah Putih, anggota Komisi Disiplin PSSI yang kini menghuni sel, mengindikasikan seolah-olah semua kebusukan itu adalah rutinitas yang biasa di sepak bola Indonesia.

Nyaris semua klub melakukan upaya untuk mengatur skor. Tidak hanya dalam liga tahun ini, tapi juga pada tahun-tahun sebelumnya. Mereka tidak hanya memainkan sepak bola tapi juga mempermainkan sepak bola. Itu tentu sangat menjijikkan.

Seretnya prestasi sepak bola bukan karena Indonesia kekurangan pemain berbakat. Indonesia bahkan bisa disandingkan dengan negara-negara maju yang selama ini menjadi kiblat sepak bola. Tak percaya? Tengok saja saat talenta-talenta muda Indonesia di luar negeri. Yang terbaru adalah Garuda Select.

Para pemain yang sebagian besar anggota tim nasional U-16 kala menjuarai Piala AFF 2018 itu kini mencari ilmu di Inggris. Sembari berlatih, mereka secara berkala diuji coba dengan klub-klub lokal Inggris.

Dari lima kali uji coba, Bagas Adi dan kawan-kawan menang dua kali, kalah dua kali, dan satu kali bermain imbang. Macclesfied Town FC U-17 dilumat Garuda Select dengan skor 8-1, MK Dons dipecundangi 2-1.

Pengakuan demi pengakuan dalam acara Mata Najwa: PSSI Bisa Apa oleh mereka yang selama ini berada di lingkar dalam PSSI menjawab sebagian pertanyaan kenapa Indonesia sulit berprestasi. Mafia bekerja sangat sistematis sehingga membuat orang-orang jujur tak mendapat tempat.

Salah satunya adalah alasan kenapa lima wasit Indonesia berlisensi FIFA tidak menjadi pengadil dalam pertandingan-pertandingan penting liga. Karena mereka tidak bisa diajak bekerja sama mengatur skor pertandingan. Nurani dan sumpah profesi membuat mereka rela memimpin pertandingan dalam jumlah yang sangat sedikit. Akhirnya yang banyak tampil adalah wasit-wasit pembuat keputusan kontroversial.

Sesuai instruksi Kapolri Jenderal Polisi Tito Karrnavian, Satgas diberi waktu enam bulan sejak Desember 2018 untuk menuntaskan tugas. Selama  Satgas bekerja keras mengungkap mafia, publik tidak melihat ada upaya kerja sama dari PSSI. Yang terjadi justru upaya penghilangan barang bukti yang dilakukan oleh pemimpin tertingginya.

Jadi, tidak ada cara lain. Harus ada upaya bergelombang dari para stakeholders sepak bola untuk terus menggelorakan revolusi di sepak bola. Suporter harus mendesak klub dan pengurus asosiasi PSSI di wilayah masing-masing agar menyatakan sikap mendukung revolusi. Butuh keberanian dan rasa ikhlas memberantas perilaku korup agar sepak bola benar-benar bersih dari mafia. Sekaranglah saatnya!