Komunikasi Positif dalam Pembelajaran

Ardian Nur Rizki - Istimewa
09 Maret 2019 09:38 WIB Ardian Nur Rizki Kolom Share :

Gagasan ini dimuat Harian Solopos edisi Rabu (6/3/2019). Esai ini karya Ardian Nur Rizki, guru di Sekolah Indonesia Luar Negeri Johor Bahru, Malaysia. Alamat e-mail penulis adalah ardianurizki@gmail.com.

 Solopos.com, SOLO -- Paradigma pendidikan dewasa ini mengalami transisi. Model konservatif yang menempatkan siswa hanya sebagai objek dalam pembelajaran kian ditinggalkan. Paulo Freire mengidentifikasi model pembelajaran konservatif dengan sebutan ”pendidikan gaya bank”, guru berperan sebagai penabung dan siswa menjadi celengan.

Guru bertugas memasok ”tabungan pengetahuan” sedangkan siswa hanya mendengar. Guru merapalkan hafalan-hafalan, siswa menorehkan dalam buku catatan lantas dihafalkan menjelang ulangan, dan dengan sendirinya akan terlupakan setelah ulangan.

Model pendidikan tersebut–oleh Freire—disebut pendidikan yang menindas. Sebentuk model pendidikan yang menegasikan konsep pembelajaran didaktis, sekaligus mematikan pola pikir kritis dan dialektis.

Oleh karena model ”pendidikan yang menindas” sudah telajur mengakar maka kebutuhan akan pembaruan paradigma pendidikan adalah keniscayaan. Pembaruan paradigma pendidikan yang ditawarkan National Education Technology Standards for Teachers USA (dalam Suyanto, 2013) ada beberapa hal.

Pertama, kegiatan pembelajaran hendaknya berpusat pada siswa. Kedua, guru tidak lagi berperan sebagai penyampai informasi, melainkan mengajak siswa proaktif mencari informasi, untuk kemudian bertukar informasi. Ketiga, mestimulasi siswa untuk bekerja secara kolaboratif, tidak individual.

Integrasi

Sebenarnya pemerintah telah menyusun konsep kurikulum pembelajaran yang segendang sepenarian dengan paradigma pendidikan yang baru, yakni dengan mengintegrasikan penguatan pendidikan karakter (PPK); berpikir kreatif, kritis, komunikatif, kolaboratif; higher order thinking skills (HOTS); dan gerakan literasi sekolah.

harus diakui bahwa pelaksanaannya tidak segampang membalik telapak tangan. Implementasi paradigma baru dalam pembelajaran memerlukan kompetensi mumpuni guru sebagai eksekutor kurikulum. Guru tetap menjadi ujung tombak pelaksanaan pembelajaran yang bermakna.

Agar siswa dapat berdikari dan percaya diri, guru harus mulai berani memberi amanah, alternatif, dan tanggung jawab kepada siswa dalam proses pembelajaran.

Paradigma anyar yang menuntut peningkatan aktivitas siswa dalam pembelajaran tidak lantas membuat guru jadi absah mengumbar siswa tanpa arahan dan stimulan.

Pembelajaran yang berpusat pada siswa (student center) pantang diartikan bahwa guru harus lebih banyak pasif dan diam. Guru harus tetap menjalankan peran sentral sebagai fasilitator pengajaran, navigator pengetahuan, kolaborator pembelajaran, sekaligus mitra diskusi bagi siswa.

Begitu sentralnya peran guru maka guru harus memastikan agar komunikasi dijalankan dengan efektif dan bermuatan positif. Guru seyogianya memerhatikan diksi saat memberikan instruksi atau berkomunikasi dalam kegiatan pembelajaran.

Katalisator Motivasi

Bobbi de Porter dalam Quantum Teaching (2000) menekankan bahwa komunikasi positif dan efektif –jika diperhatikan dengan saksama— dapat menjadi katalisator motivasi belajar siswa. Komunikasi bukan sekadar moda penyampai instruksi.

Makna komunikasi–dalam pembelajaran—bukan sekadar ketersampaian pesan dari komunikator kepada komunikan, melainkan juga memikul makna tersirat sebagai penggelora psikis siswa.

Sebagai contoh, untuk menarik perhatian siswa, masih ada guru yang menggunakan kalimat berikut, “Materi yang akan kita pelajari sangatlah sulit. Oleh karena itu, Bapak berharap kalian memerhatikan dengan serius jika tidak ingin gagal dalam ujian!”

Setelah mendapatkan instruksi semacam itu, siswa bisa saja tampak lebih fokus dalam menjalani proses pembelajaran, namun alih-alih termotivasi, mental dan psikis siswa justru terbebani oleh ketakutan, kekhawatiran, dan ancaman kegagalan.

Cedera psikis semacam ini bisa saja dihindari jika guru memilih diksi lain dalam berkomunikasi, misalnya,”Anak-anak, kita telah melewati materi sebelumnya dengan sangat baik. Selanjutnya, kita akan mempelajari materi yang cukup seru dan menantang. Bapak yakin kita pasti dapat memahaminya!”

Bangunan komunikasi semacam ini dapat membuncahkan semangat siswa untuk menaklukkan tantangan dan menjalani pembelajaran. Mendidik dan mengajar bukan kegiatan transfer ilmu pengetahuan semata. Guru mesti melakukan refleksi dan kontemplasi untuk merencanakan kegiatan pembelajaran agar bernilai.

Laksana sutradara dalam perfilman dan konduktor dalam pergelaran musik, guru seyogianya acap menafakuri skenario pembelajaran. Dengan demikian, setiap detik yang berlalu dalam aktivitas pembelajaran selalu memaktubkan gairah. Setiap kata yang terlontar dalam kegiatan pembelajaran senantiasa membawa arah dan faedah.