Analisis BPBD Jateng Soal Banjir Klaten: Hujan Lebat 2 Jam, Siap-Siap Mengungsi!

Warga memanfaatkan jasa ojek gerobak untuk menyeberangi banjir di ruas jalan Bayat-Cawas, Desa Bawak, Cawas, Klaten, Kamis (7/3/2019) pagi. (Solopos - Taufiq Sidik Prakoso)
09 Maret 2019 06:30 WIB Newswire Nasional Share :

Solopos.com, SEMARANG -- Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Tengah menyebut bencana banjir yang terjadi di Kabupaten Klaten merupakan fenomena hidrometeorologi. Hal ini terkait perubahan iklim yang menyebabkan curah hujan sangat tinggi.

"Fenomena hidrometeorologi disebabkan perubahan iklim yang berakibat perubahan curah hujan lebih dari 300 mm atau sangat tinggi," kata Kepala Pelaksana Harian BPBD Provinsi Jateng Sudaryanto di Semarang, Jumat (8/3/2019).

Berdasarkan data BPBD Jateng, bencana banjir melanda 17 desa di enam kecamatan di Kabupaten Klaten. Sedangkan daerah terparah di tiga desa di Kecamatan Cawas.

Selain Cawas, kecamatan lain yang juga dilanda banjir adalah Bayat (8 desa), Wedi (2 desa), dan Gantiwarno, Klaten Selatan, serta Trucuk (masing-masing satu desa). Menurut dia, curah hujan tinggi yang menyebabkan banjir di beberapa daerah saat ini sangat dipengaruhi oleh arah angin.

"Pada saat bencana itu, arah angin menuju ke selatan dan timur, maka yang kena wilayah Jateng bagian selatan dan timur, termasuk juga di wilayah Jawa Timur seperti Ngawi dan Madiun," ujarnya.

Saat ini, berdasarkan informasi BMKG, arah angin masih menuju timur dan salah satu wilayah yang akan dilewati adalah Nusa Tenggara Timur. Kendati demikian, tidak menutup kemungkinan fenomena hidrometeorologi akan kembali ke Jateng sehingga Sudaryanto meminta masyarakat terus berkoordinasi dengan sukarelawan bencana di wilayah setempat.

Di sisi lain, lanjut dia, penerapan ilmu titen perlu terus digiatkan. Antara lain jika hujan dengan intensitas tinggi selama dua jam, maka masyarakat siap-siap untuk mengungsi.

Sumber : Antara